A Girl'S Struggle

A Girl'S Struggle
[16] "Kayaknya dia suka deh, sama lo."



^^^Pas liat foto kamu sambil tersenyum, dalam hati aku cuma berkata singkat.^^^


^^^"Aku kangen kamu."^^^


...•••...


"Devan!"


"Devan balikin," Angel berusaha mengambil ponselnya yang telah diambangkan Devan diatas kepalanya.


"Devan!"


"Devan!"


"Devan.. " lirih Angel.


"Kata kamu mau balikin!"


"Ngasih aja susah!"


Kemudian Angel pergi dari tempat berdirinya Devan.


"Lo pasti nyimpen foto gue kan!" teriak Devan.


"Periksa aja," Lalu tubuh Angel menghilang dari pandangan Devan.


Angel terus berjalan, ia terlalu pusing untuk memikirkan cara supaya Devan tidak mendekatinya lagi. Namun, Devan menambah masalahnya dengan mengambil ponselnya. Dan belum juga mengembalikannya.


Saat Angel berjalan menuju kelas, ditengah kooridor dia dicegat oleh sesosok gadis, namun posisinya membelakangi Angel.


"Siapa sih ganggu jalan aku!"


"Lo masih aja yah ngedeketin Devan," gadis itu berbalik dan ternyata.. Zeline.


Dasar siluman. batin Angel.


"Dia ngambil ponselku," ucap Angel.


"Kalo kamu nggak mau Devan deket sama aku, mending kamu ambil ponsel aku terus kasih ke aku, jadi aku nggak ngedeketin dia lagi. Beres kan? Susah banget," jelas Angel.


"No problem.. Wait!" kemudian Zeline berjalan menuruni tangga. Dan meninggalkan Angel.


"Wait.. Wait.. Datengin kelas aku aja ngapa?" lalu Angel melangkahkan kakinya menuju kelas.


Beberapa jam dari itu..


Angel masih berkutat dengan buku yang dia baca. Beberapa soal harus dijawab namun menggunakan pikiran sendiri.


"Angel nomor lima apa?"


"Kamu tau kan aku nulis lambat, jadi kalo kamu udah nomor lima, Aku masih nomor berapa?"


"Eh iya,"


"Permisi," ucap seseorang dibalik pintu.


"Silahkan masuk," ucap Bu Dhia.


"Angel? Ikut gue,"


"Permisi bu," pamit orang itu.


"Permisi bu," pamit Angel.


"Iya."


"Kenapa?"


"Gue diutus Devan buat jemput lo,"


"Emang dia siapa?"


"Ng.. Nggak sih,"


"..."


...•••...


Devan mengotak-atik ponsel berwarna pink itu, berusaha membuka pasword pola ponsel pemiliknya. Lalu dia mengarahkan ponsel Angel ke cahaya, mungkin saja sidik jari Angel masih membekas.


Dan.. Berhasil, berkat kecerdasan otaknya, Devan dapat dengan mudah mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


"Devan," panggil seseorang.


"Oh iya," jawab Devan, lalu memasukkan ponsel Angel kedalam saku celananya.


"Mana Angel?"


"Angelnya pulang ke kelas, soalnya gue sama dia debat ditengah jalan."


"Ah ****!"


"Lo aja noh kesana, Bu Dhia udah mau nelen pas ngeliat gue."


"Nggak bisa diandelin," ucap Devan.


"Untung gue bantu."


"Ah iya deh,"


"Pergi sana!" usir Devan.


Lalu temannya yang bernama Kevin itu pergi dari kediaman Devan.


Devan sekarang berada diperpustakaan. Bolos dari pelajaran matematika. Devan sebenarnya pintar tapi dia juga pemalas. Dia lebih memilih ego-nya.


Lalu Devan mengeluarkan ponsel Angel dari saku celananya. Mengotak-atiknya lagi. Dan kemudian membuka aplikasi email Angel. Lalu dilihatnya pesan dari Zeline.


Devan berdecak.


"Kenapa sih tuh cewek suka banget ganggu orang? Dibilangin nggak usah ngurusin hidup gue masih aja,"


"Dasar cewek,"


"Angel juga jutek banget sih, gue kira dia bakal ngejer-ngejer gue buat ngambil ponselnya, eh ternyata nggak malahan dianya bodo amat," ucap Devan pada dirinya.


Entah mengapa Devan membuka galery milik Angel, Devan melihat foto-foto Angel. Lucu, manis, cantik. Devan menarik ujung bibirnya.


"DEVAN!" panggil seorang cewek dengan suara melengking.


"Devan," panggil cewek itu dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Devan kepada Zeline.


"Aku mau ketemu kamu lah,"


"Lo tau gue disini dari siapa?"


"Tadi aku liat Kevin keluar dari sini,"


"Terus, apa inspirasi lo dateng kesini? Sekarangkan masih jam pelajaran, belum istirahat."


"Gurunya nggak ada,"


"Lo tuh mau apasih? Ganggu setiap hari,"


"Kamu kan pacar aku,"


"Sejak kapan?"


"Kamu kan baik sama aku,"


"Itu cuma hal sepele, Zeline."


"Tapi berharga bagi aku,"


"Udah Zeline, udah, cukup."


"Kenapa kamu gini? Biasanya kamu santai nggak marah-marah," lirih Zeline.


"Karena lo, lo nggak pernah buat gue seneng, nggak pernah buat gue tenang. Gue juga mau sendiri Zeline, nggak mau diganggu. Gue punya hidup sendiri. Gue juga mau deket sama cewek lain. Gue nggak mau dikekang sama lo, lo juga bukan siapa-siapa gue."


"Tapi aku kan-"


"Gue tau lo di titipin orang tua gue buat ngepantau gue, tapi nggak sampe kayak gini Zeline."


"Kamu kayak gini pasti gara-gara cewek itu kan?"


"Siapa?"


"Angel,"


"Angel itu ngasih pengaruh baik buat gue, nggak kayak lo cuma bikin gue pusing setiap hari,"


"Dan ini apa?" Devan menunjukkan pesan email dari Zeline yang ditujukan pada Angel.


"Itu.. Kamu tau dari mana?"


"Ini ponsel Angel,"


"Jadi bener ponsel cewek itu kamu yang pegang?"


"Kalian punya hubungan spesial yah?"


"Iya!" ketus Devan.


"Kamu tega Devan," lirih Zeline.


"Kenapa? Lo nggak suka?"


"Nggak Devan," jawab Zeline tanpa ragu.


"Jadi ,apa yang lo lakuin ke Angel? Lo apain dia? Apa yang lo bilang ke dia? Jadi dia ngehindar dari gue gara-gara lo? Lo harus gue kasih pelajaran Zeline, gue bakal kasih tau lo ke bokap nyokap gue."


"Devan.. jangan.. aku.. aku bakal ceritain.. "


"Yaudah cepetan,"


"Jadi.. "


...•••...


"Devan, Alvian sama aja, sama-sama punya bodyguard, sama-sama bikin kesel, sama-sama harus dihindarin." ucap Angel pada keempat sahabatnya.


"Jadi maksudnya gimana nih?" tanya Liyaa.


"Devan? Alvian? Punya bodyguard? Maksudnya?" tanya Rindu.


"Oh, gue ngerti. Kalo Alvian punya Shintia, tapi.. Devan punya siapa dong?" tanya Ikaa.


"Kalian pernah liat kan cewek yang suka ngegandengin Devan kemana-mana?"


"Iya,"


"Namanya Zeline,"


"Tuh cewek kata-katanya pedes, judes,dia kemarin sengaja mercikkin genangan air hujan ke tubuh aku, terus dia bilang kalo aku nggak boleh ngedeketin Devan. Orang aku sama Devan cuma temen, dibilang deket. Takut banget si Devan aku ambil. Devan emang baik tapi aku nggak sebaper itu juga kali."


"Tapi yah gue sering liat kalo Zeline tuh suka ngomong pake aku-kamu ke Devan," ucap Liyaa.


"Tapi kemarin dia pake gue-elo ke aku," Angel berkata jujur.


"Sok lembut, sok baik. Dasar makhluk halus!" ejek Sella.


"Gue rasa nih yah si Zeline nge-zeline itu suka deh sama Devan," ucap Ikaa.


"Gue juga mikir gitu," ucap Rindu.


"Aku rasa Devan juga suka," pikir Angel.


"Gue nggak mikir gitu." ucap Rindu.


"Apasih, ndu?" tanya Ikaa.


"Hari ini Rindu yang gesrek," ucap Liyaa.


"Tapi gue liat dari tatapan Devan ke lo tuh beda deh, Ngel.." ucap Sella, sedikit bijak.


"Maksudnya?" tanya Angel.


"Kayaknya dia suka deh sama lo!" ucap mereka berempat kompak.


Sedangkan Angel tampak melongo.


...________________________________________________...