
^^^Berjalanlah jangan berlari, sebab hidup tentang perjalanan bukan pelarian.^^^
...•••...
Sudah tiga hari Devan terbaring diranjang Rumah Sakit, masih dengan keadaan yang sama. Tak sadarkan diri.
Angel tak pernah alpa untuk menjenguk Devan, Angel selalu berdoa supaya Devan cepat sembuh. Mamanya Devan suka melihat Angel, Angel disayang seperti anaknya sendiri.
Sepertinya Zeline tidak memberi informasi yang mengada-ngada kepada Mama Devan, mungkin.
Malam tadi Angel menginap diruang Devan, Angel tampak letih. Hari sabtu memang melelahkan, banyak ekskul yang diikuti Angel.
Angel dipesankan mamanya Devan untuk menjaga Devan, mamanya Devan pergi sebentar karena ada urusan dikantornya.
Angel sekarang duduk di samping ranjang Devan.
"Hmm.. Devan cepet bangun," gumam Angel sambil menopang dagu.
"Kamu tuh ngeselin banget sih, bangun aja susah. Apa perlu aku bawain air seember supaya kamu bangun?" tanya Angel kepada Devan yang masih tak sadarkan diri.
"Devan? Kamu over dosis obat tidur yah?"
"Oh aku tau, kamu hibernasi kan?"
"Devan! Nyebelin tau nggak, bangun Devan!"
"Devan aku buat kolam renang dalam ruangan ini aja kali yah, biar kamu tenggelam terus kelelep jadi kamu bangun deh,"
"Devan, roh kamu tuh kemana sih?"
"Devan kamu tuh caper apa gimana?"
"Darah udah banyak yang donor tapi nggak bangun-bangun,"
"Atau kamu maunya aku juga yang sakit, karena kamu dendam kan?"
"Devan kamu jahat!"
"Aku pergi nih,"
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga!"
"Devan!!!!!!!! Kok nggak ngejer sih!?"
"Devan, bangun! Aku jadi merasa bersalah nih,"
"Devan kamu gila?"
"Sumpah stress!"
"Devan jahat!"
"Nangis nih ya aku," Angel membuang wajahnya dari Devan yang masih dengan keadaan sebelumnya.
"Lo.. Ke.. napa? Gi.. la.. ?"
"De.. De.. Devan?" ucap Angel memastikan.
"Kamu hidup?" tanya Angel, bengong.
"Hmm.. " gumam Devan.
"Eh, maksud aku kamu udah sadar!" ucap Angel semangat.
Angel berlari dan langsung memeluk Devan.
"Eh.. Apa-apaan?" tanya Devan.
"Aku seneng banget," Angel mengeratkan pelukannya pada Devan.
"Devan kamu lupa siapa gue?"
"Devan lupa?" tanya Angel lagi.
"Gila, aduh.. kepala gue," Devan memegang kepalanya.
"Eh, maaf-maaf. Kepala kamu kenapa? Sakit? Aku panggilin dokter ya?" Angel bergegas menuju pintu.
"Angel, nggak perlu."
"Kamu inget nama aku?"
"Tapi kan, kata kamu tadi kepala kamu sa-"
"Shutt.. Gue nggak apa," telunjuk Devan berada didepan bibirnya.
"Yah, ingetlah. Kamu kira aku amnesia!"
"Kamu laper kan? Pasti laper, gimana nggak coba. Kamu nggak makan tiga hari!"
"Cerewet deh," Devan mencubit pipi Angel.
Padahalkan ada infus, dasar Angel.
"Ish! Aku serius,"
"Gue nggak mau makan,"
"Harus makan!"
"Nggak,"
"Harus,"
"Angel,"
"Devan,"
"Yaudah deh,"
"Yeay! Kamu mau makan apa?" tanya Angel.
"Gue mau ma-"
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi," ucap perawat yang baru saja mengetuk pintu.
"Pasien udah bangun? Kenapa nggak panggil dokter biar diperiksa?"
"Nggak apa sus, saya ngerasa udah baik," ucap Devan meyakinkan.
"Aku rasa nih yah, tuh suster mau nyuntik kamu biar kamu hibernasi lagi deh," ucap Angel sedikit ngeri.
"Nggaklah!" tolak Devan.
"Bisa aja, mungkin dia nggak suka liat muka kamu yang dibawah rata-rata itu,"
"Gue potong juga nanti mulut lo!" ancam Devan.
"Ish! Nggak mau!"
"Devan?" panggil dokter Rhaka.
"Iya dok?"
"Alhamdulillah, kamu sudah siuman,"
Devan tersenyum.
"Saya periksa dulu,"
"Iya dok,"
"Keadaan kamu sekarang sudah membaik, dokter harap kamu lebih bisa menjaga pola makan dan istirahat yang cukup. Supaya kamu bisa cepat pulang dengan keadaan benar-benar sehat,"
"Iya dok ,terima kasih,"
"Sebentar lagi suster akan membawa makanan untuk kamu,"
"Iya dok,"
"Nah, ini dia sudah datang," ucap dokter Rhaka.
"Terima kasih sus, dok," ucap Devan dan Angel bersamaan.
"Iya, sama-sama." Lalu dokter dan perawat itu keluar dari ruangan Devan.
"Angel, gue nggak mau makan itu!" ucap Devan, manja.
"Ish! Kayak anak kecil aja!" ejek Angel.
"Beliin gue bakso," pinta Devan.
"Nggak! Kamu harus makan-makanan yang sehat,"
"Nggak mau!"
"Devan,"
"Angel, gue nggak mau.."
"Yaudah aku suapin?"
"Hmm,"
"Yaudah itu aku anggap kamu bilang iya, jadi sekarang kamu harus makan," Angel mengambil semangkuk bubur yang berada diatas nakas.
"Ayo buka mulut," Angel menyendok bubur itu kemudian menyuapkannya kepada Devan.
"Ukhuk.. "
"Nih minum," Angel memberikan satu gelas air mineral kepada Devan. "Makanya kamu itu makan bener-bener jangan langsung telen, jadinya tersedak kan," gerutu Angel sambil menyendokkan kembali bubur untuk Devan.
Devan hanya menatap Angel lalu tersenyum.
"Ih, kamu gila ya? Senyum-senyum sendiri? Atau jangan-jangan kamu indigo?"
"Maksudnya gue senyum sama makhluk halus?"
"Yakali.. Kamu suka sama yang gituan,"
"Lo juga makhluk halus,"
"Aku? Aku manusia," jawab Angel cepat.
"Tanda bukti lo manusia? Mana?"
"Akte aku, eh bentar aku pernah foto kalo kamu mau liat," Angel meletakkan mangkok bubur milik Devan ke atas meja.
"Eh ,gue cuma bercanda kok," kekeh Devan.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam." jawab Devan dan Angel bersamaan.
"Devan? Anak mama udah sadar? Kapan sadarnya nak?" tanya Clara.
"Pas, Angel ngomel-ngomel ma," ucap Devan, jujur.
"Jadi? Kamu sebenarnya udah sadar ya?" tanya Angel.
"Ih, nggak gue baru kok sadar, gue denger lo ngomel, tapi samar-samar,"
"Udah-udah, kalian ini kalo sehat semua berantem mulu. Nanti cinta lo,"
"Ih tante, nggak mungkin!" ucap Angel.
"Lo kesini kenapa? Lo suka ya sama gue? Jadi lo nungguin gue sampai sadar?" Devan mengolok-olok Angel.
"Ih! Nggak, aku merasa hutang nyawa sama kamu, kamu udah nyelamatin aku,"
"Em.. Mama penasaran deh, gimana kejadian detailnya?" tanya Clara.
"Itu.. Angel juga nggak tau tan," ucap Angel.
"Devan tau ma, siapa yang ngelakuin itu ke Angel,"
"Siapa?" tanya Clara dan Angel bersamaan.
"Eh, kompak. Bisa dong jadi calon menantu," ledek Devan.
"Eh, Devan? Kamu yah yang suka sama Angel?" Clara menggoda Devan.
"Em.. Maksud Devan.. "
"Udah jadi siapa yang mau nyakitin Angel?"
"Dia.. "
...________________________________________________...
A/N :
Nggak kok, Devan nggak lupa ingatan:)