
^^^Sakit ya, udah capek-capek berjuang tapi malah ga pernah dihargai sama sekali.^^^
...•••...
Hari ini Alvian tidak terlihat. Angel khawatir tentang keadaan Alvian. Kemarin dia tidak menghubunginya sama sekali. Ia takut, kalau Alvian kenapa-napa.
"Alvian nggak kenapa-napa kok, Ngel," gumam Angel untuk menguatkan hatinya dan agar otaknya berfikir positif.
Angel berjalan menelusuri koridor sendirian. Biasanya kalau tidak bersama Alvian, keempat sahabatnya pasti mengekori kemana pun Angel pergi.
Tapi sekarang tidak. Ketiga sahabatnya sekarang sudah di kantin. Tiga? Siapa? Ikaa. Ikaa jika istirahat kedua tak pernah keluar dari kelas. Hanya diam ditempat. Dan biasanya hanya menitip makanan. Ada suatu alasan mengapa dia tak keluar dari kelas saat istirahat kedua.
"Angel!" panggil Ikaa. Saat Angel sudah sampai di kelas.
"Kenapa?"
"Mana titipan gue?" tanya Ikaa.
"Kan kamu nitip ke Rindu,"
"Kenapa lo nggak ke kantin?"
"Nggak kok, aku habis dari sana. Aku ke kelas duluan. Soalnya mereka lama."
"Eh, biasanya si sapu berjalan ngekorin lo, kok sekarang nggak ada?"
"Hah?" Angel bingung.
"Oh, Alvian?" sambung Angel.
"Iya."
"Nggak tau, mungkin nggak sekolah "
"Oooh.." Ikaa hanya ber-oh ria.
"Angel!" panggil seorang cowok.
"Eh? Farrel?" Angel melirik Ikaa.
"Gue tadi liat Alvian lewat depan sekolah, boncengan sama cewek." ucap Farrel.
Jadi bener Alvian nggak sekolah? Batin Angel.
Angel terdiam sejenak. "Terus? Apa masalahnya sama aku?" tanya Angel.
"Lo kan pacarnya? Gimana sih" ucap Farrel.
"Bodo. Aku nggak percaya," timpal Angel.
"Beneran ,ngel. Dia sama Martin juga," Farrel melirik kearah Angel kemudian Ikaa.
Ikaa yang dilirik malah membuang muka.
Farrel. Dia salah satu cowok yang akrab dengan Angel and the squad. Sekaligus mata-mata.
Martin. Dia adalah teman akrab Alvian. Martin dan Alvian memang berteman sejak SMP. Tak salah jadi jika mereka berteman akrab.Jika salah satu dari mereka bolos maka yang satunya tak akan kalah.
"Nggak bakal aku percaya kata-kata kamu, sebelum aku liat sendiri pake mataku."
"Yaudah." Farrel hanya mengangkat bahu dan pergi keluar kelas.
"Aku nggak percaya, nggak! Alvian nggak mungkin ngekhianatin aku!"
"Yaudah kali, lo kan nggak percaya sama apa kata Farrel. Jadi, nggak usah dipikirin." ucap Ikaa.
"Hmm.. Iya Ikaa,"
...•••...
Saat bel tanda pulang sudah berbunyi. Angel berjalan keluar dari kelas bersama keempat sahabatnya.
"Eh, Ngel? Denger-denger kata anak sekolah kita. Mereka ngeliat Alvian sama Martin boncengin cewek ya? Kemana?" tanya Sella.
"Nggak denger, nggak tau dan nggak pengen tau."
"Mudah banget yah cowok nge-duain," ucap Rindu.
"Dan gue harap Radhit nggak sama kayak cowok lain," Liyaa menghembuskan nafas panjang.
"Kasian yah Ikaa, jadi korban pertama diantara kita." ucap Sella.
"Gue nggak mau di kasihani karena cowok yang tampangnya nggak seberapa!" tegas Ikaa.
"Oh iya, gue hari ini pulang bareng Arya. See you bye bye!" Sella melambaikan tangannya saat mereka sudah sampai parkiran.
"Gue sama Liyaa duluan," ucap Rindu.
"Gue bareng Kak Raon." pamit Ikaa lalu tersenyum kearah Angel.
"Iyaa Ikaa," Angel melambaikan tangannya kepada Ikaa.
Dan sekarang Angel berfikir bagaimana caranya pulang? Sedangkan ponselnya sudah kehabisan baterai dan dia tidak membawa powerbank. Biasanya Angel tidak repot-repot memikirkan pergi dan pulang sekolah bersama siapa. Karena dia selalu diantar jemput oleh Alvian.
Pagi tadi dia diantar Zain. Sedangkan untuk pulang dia harus menghubungi Zain, namun ponselnya sudah mati dan jika ingin meminjam ponsel orang dia tak hapal nomor telepon Zain.
"Jadi aku jalan nih?" tanya Angel pada dirinya sendiri.
"Nanti aku kelewat langsing lagi," Angel membuang nafas panjang.
Saat Angel beristirahat di halte yang tak jauh dari sekolah. Ada sebuah mobil berwarna putih berhenti didepannya. Kemudian keluarlah seorang lelaki dari dalam mobil tersebut.
"Angel!" panggil lelaki itu.
"Devan?"
Devan hanya menaikkan alisnya. "Lo ngapain duduk disini? Bukannya pulang,"
"Lagi nungguin jemputan."
"Siapa? Alvian? Gue tadi juga liat, dia bareng cewek lagipula dia nggak sekolah. Nggak mungkin dia kesini lagi,"
"Siapa juga yang bilang kalo aku nungguin Alvian."
"Kak Zain?"
"Emm.. I.. Engg.. Ihh! Apa peduli kamu? Pulang sana!" Angel gugup. Dia tidak tau mau menjawab apa sedangkan dia juga tidak tau pulang bagaimana.
"Gue mau nungguin lo sampai dijemput,"
"Nanti kalo Alvian liat gimana? Jadi telur orak-arik kamu!"
"Alvian, Alvian dan Alvian."
"Terserah aku dong! Pacar-pacar aku!"
Angel diam dan Devan diam. Hening itu lah yang terjadi diantara mereka.
"Ihh, yaudah deh aku balik bareng kamu!"
"Gue nggak ngajak lo pulang, kan gue cuma bilang kalo gue cuma nungguin lo sampe lo dijem-"
"Ihh! Terserah kamu yang penting aku ikut" Angel masuk kedalam mobil Devan. Dan Devan hanya terkekeh geli.
Disepanjang jalan Angel dan Devan tak banyak bicara. Angel yang ingin menghilangkan suasana keheningan berinisiatif untuk menghidupkan musik.
"Aku boleh ngehidupin musik?" Angel menatap kearah Devan.
Angel menghidupkan salah satu lagu milik One direction yang berjudul You and I dengan sangat keras.
"Besar banget suaranya. Kecilin dikit dong ngel," ucap Devan.
"Biarin aja,"
"Lo tuli ya?" Devan menatap Angel.
"Ihh, iya aku kecilin."
"Ngel," panggil Devan.
"Apa?" Angel melihat kearah Devan.
"Itu.. Alvian?" tanya Devan.
Angel melihat ke arah pandangan Devan.
Dan benar, itu Alvian. Dia bersama seorang cewek dan mereka berada disebuah cafe.
"Ngel, liat deh cewek itu? Anak Bintara juga kan?"
"I.. Itu.. Shintia"
"Yang dulunya pindahan dari Tanggerang? Yang dulu pernah kalian pergokkin ngebully adik kelas?"
"Iya,"
Devan menoleh kearah Angel. Mata Angel sudah berkaca-kaca. Devan menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan cafe itu masih terlihat dalam pandangan. Angel baru percaya dengan apa yang dikatakan Farrel, Sella dan anak Bintara lainnya.
"Udah. Cowok kayak gitu nggak usah ditangisi,"
"Tapi.. Aku udah bertahan selama ini, berjuang selama ini, terus balasannya? Apa dari awal cinta aku cuma bertepuk sebelah tangan? Apa aku cuma bahan taruhan Alvian sama temennya? Tujuh bulan itu cukup lama Devan." lirih Angel.
Devan yang mendengarkan kata demi kata yang dilontarkan dari mulut mungil Angel. Mengerti dengan perasaan yang dirasakan Angel sekarang. Mengingat kejadian yang sama yang pernah Devan rasakan saat seseorang yang disukainya malah bersama orang lain.
"Gue ngerti, Ngel." Devan mengusap punggung Angel, berusaha menenangkan Angel yang kian lama semakin menangis sejadi-jadinya.
Devan yang tak tahan melihat Angel menangis seperti ini, meraih tubuh Angel kemudian dipeluknya Angel. Angel yang berada didekapan Devan semakin mengeluarkan air matanya tanpa suara. Devan masih berusaha menenangkan Angel.
"Udah, ngel. Nanti gue masuk angin. Liat nih baju gue udah basah semua gara-gara air mata lo,"
Angel melepaskan pelukannya dari Devan. Angel malu dengan apa yang dia perbuat.
"Ihh, siapa yang meluk duluan!" Angel cemberut.
"Iya, gue yang meluk lo duluan. Lagi pula lo nangis kenceng banget. Nanti gue dikira ngapa-ngapain lo!"
"Ihh, apasih!" Angel mencubit lengan Devan.
"Jadi gimana? Mau pulang atau nunggu disini?"
"Pulang. Sebelum mobil kamu jadi kolam renang,"
"Oke."
...•••...
"Makasih,"
"Iya, gue pulang dulu. Sorry nggak bisa mampir. Titip salam ke bonyok lo."
"Iya," Angel tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah Devan.
Devan hanya tersenyum lalu pergi dari pekarangan rumah Angel.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam."
"Pulang sama Alvian?" tanya Zain yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Sama Devan. Abang sih nggak jemput jadinya aku nyusahin orang. Bikin malu aja,"
"Biasanya juga malu-maluin," ejek Zain.
"Ihh, abang!" Angel mencubit lengan dan menyambak rambut Zain.
"Udahh mulut ember! Sakit tau!"
"Siapa yang duluan?"
"Udah ihh, aku mau mandi. Gerah!" sambung Angel.
Angel menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Angel meraih handuk dan pergi mandi.
Setelah Angel selesai mandi dan memakai kimononya. Angel mengambil ponselnya di atas meja belajar yang sudah full baterai karena sempat dia charge di mobil Devan.
Lalu Angel mengetikkan pesan kepada MyPrince.
^^^: Angel^^^
^^^Alviannnnnnnn..^^^
^^^Vian?^^^
^^^P^^^
^^^P^^^
^^^P^^^
^^^P^^^
^^^Kemana?^^^
^^^Bikin khawatir^^^
^^^Sibuk ya?^^^
^^^Kenapa nggak sekolah?^^^
^^^P^^^
^^^P^^^
^^^P^^^
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Tak ada balasan. Kemudian di menit keempat pesannya sudah centang dua dan berwarna biru.
MyPrince :
Apa
Nggak usah spam
Berisik tau nggak
Ganggu aja
Beneran Vian? Batin Angel.
...___________________________________________________...