
...Boro-boro mau selingkuh, kamu marah aja aku nangis....
...•••...
"Dasar lo! Perusak hubungan orang!" pekik Alvian.
"Apa? Apa lo bilang! Perusak? Lo yang ngerusak! Hati orang itu dijaga! Jangan seenaknya lo mainin!" balas Devan.
"Kalian itu tuli apa gimana? Gue udah bilang, Shintia itu cuma temen! Temen!" jelas Alvian.
"Bacot!"
BUGH!
"Temen kayak mana rangkul-rangkulan disekolah!?" tanya Devan.
BUGH!
"Temen kayak mana kalo chat dari pacar sendiri dikasarin!?" tanya Devan lagi.
BUGH!
"Devan! Udah ini disekolah, nanti kamu dipanggil keruang BP cuma gara-gara aku, aku nggak apa!" ucap Angel meyakinkan Devan.
"Biarin, ngel!" ujar Devan.
"Halah!"
"Apa lo!" Devan menarik kembali kerah baju Alvian.
"Dasar pengecut!" teriak Devan, kemudian menghempaskan tubuh Alvian ke lantai.
"Kalian sama aja! Lo jadi cowok sok kepahlawanan! Dan lo jadi cewek kegenitan! Wajah lo polos tapi ternyata lo tukang selingkuh!"
Genit? Selingkuh?
Tak perlu waktu lama, air mata Angel telah berhamburan dipipinya. Air mata itu mengalir dengan berbagai alasan, Angel tak suka dibentak, Angel juga merasa di fitnah. Devan yang tak terima langsung mengepalkan tangan, siap untuk membogem Alvian yang tak tahu diri itu.
"Genit lo bilang!?" Devan benar-benar telah kehabisan kata sabar.
"Udah Devan, udah! biarin!" Angel menarik lengan Devan yang hampir melayangkan tinjunya.
"Dasar murahan!" teriak Alvian, walaupun telah jauh namun kata-kata itu masih terdengar ditelinga Angel maupun Devan.
Devan kembali mengepalkan tangannya. Sedangkan Angel yang melihat reaksi Devan segera melepaskan satu per satu jari-jari yang telah bersatu itu.
"Udah nggak apa," Angel tersenyum.
Senyum Angel itu sangat manis, entah mengapa Devan merasa tenang melihat senyum itu.
"Mana! Mana Alvian! Gue geprek dia nanti!" ucap Ikaa.
"Jadiin perkedel!" usul Rindu.
"Ayam geprek, udah digeprek dikasih cabe, udah capek pedes pula." ucap Sella.
"Apasih yang lo bilang? Ga jelas hahahaa!" ejek Rindu.
"Enak tuh biar jadi hukuman buat Alvian sok ke romantisan itu! Bayangin dia yang jadi tuh ayam, seneng sehidup semati gue!" ucap Liyaa.
"Eh, guys! Liat tuh ada yang lagi tatap-tatapan," ucap Ikaa, matanya tertuju pada dua insan disana.
"Iya tuh, lagi berbunga-bunga!" ledek Liyaa.
Angel yang telah sadar dari adegan tatap-tatapan merasa pipinya panas, ditambah godaan demi godaan dari sahabat-sahabatnya.
"Ish! Nggak ih, aku sama Devan cuma temen."
"Wihh, sakit hati Devan. Cuma dianggep temen"
"Kita tulus temenan," ucap Devan.
"Temen apa demen!" ledek Ikaa.
"Ikaa udah!" ucap Angel yang tampak salah tingkah.
"Pasti salah satu dari kalian udah ada yang nyimpen rasa atau dua-duanya udah sama-sama suka?"
"Aku rasanya masih perlu nemuin Alvian deh," ucap Angel.
"Gue nggak setuju! pokoknya nggak!" ucap Ikaa.
"Tapi aku mau bahas masalah hubungan aku,"
"Kita ikut!"
"Gue juga!" ucap Devan.
"Kalian nggak usah ikut, disini aja. Aku cuma sebentar."
...•••...
"Lo jadi cewek suka ngambing hitamin orang yah!" ucap Shintia yang sedang membersihkan lebam di wajah Alvian.
"Emang dia sama temennya sama aja!" ucap Gwena, menambahkan.
"Aku nggak ada urusan sama kalian," ucap Angel.
"Dan lo kenapa masuk kelas orang!" bentak Shintia.
Sedangkan Alvian dan Martin hanya diam saja disana.
"Aku cuma mau minta maaf terus aku juga cuma mau minta kejelasan dari hubungan kita," Mata Angel tertuju pada Alvian yang sedang menahan perih karena luka bekas bogeman Devan.
"Lo sama Alvian udah nggak ada apa-apa lagi," ucap Shintia.
"Lo itu murahan! Genit! Kecentilan! Cowok sana sini digandengin!"
Air mata Angel hendak keluar dari matanya, namun air mata itu tak langsung keluar. Angel telah meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Untuk apa menangis sedangkan kita tidak salah apa-apa.
"Dan lo nggak usah nginjakkin kaki lo disini! Nggak usah datengin Alvian! Nggak usah minta kejelasan! Lo blokir nomornya! Lo hapus segala kontak sama Alvian! Dan lo sama Alvian udah bisa ngejalanin semuanya sendiri-sendiri!"
Angel masih terpaku disana, kata demi kata yang dilontarkan Shintia sangat mengiris hati.
"Angel? Lo selingkuh!" tuduh Alvian.
"Boro-boro aku selingkuh, kamu marah aja aku nangis!"
Angel pergi dari kelas itu.
Pergi.
Pergi dari segala hal yang menyangkut kelas itu.
Pergi dari segala hal yang berkaitan dengan cowok itu.
Pergi dari segala hal yang menyakitkan.
Pergi dari segala kepahitan.
Pergi dari segala fitnahan.
Pergi dari segala hinaan.
Pergi dari jurang hitam.
Pergi dari segala kenangan pahit
Pergi dari hidupnya, hidup Alvian.
Disepanjang kooridor, Angel meluapkan amarahnya dengan menangis. Menangis sepuasnya. Semua murid disana menatap Angel dengan penuh tanda tanya.
Keempat sahabatnya dan Devan, entah berada dimana sekarang, Angel pusing. Entah mengapa hubungannya semakin rumit.
"Angel?" panggil Devan.
"Angel?" panggil Devan sekali lagi.
Angel masih sama dengan posisi yang menenggelamkan kepalanya dimeja. Tak berkutik, diam tak bersuara. Dan entah mengapa Devan merasa penasaran kemudian disenggolnya Angel dan melihat Angel yang telah lemas dan pipinya yang dipenuhi oleh air mata yang hampir mengering.
Devan segera menggendong Angel dan membawanya melewati banyak siswa-siswi berkeliaran.
"Minggir!"
...________________________________________________...