
^^^Cemburu itu ketika bibir ini diam, tapi hati ngedumel.^^^
...•••...
"Aaaaaangeel!" panggil Devan dari luar kelas Angel.
Suaranya bisa terdengar sampai ketelinga Angel.
"Tuh anak kenapa sih? Susah banget dijauhin," lirih Angel.
"Angel? Kekantin kuy!" ajak Devan.
Kenapa sikapnya jadi gini? batin Angel.
"Males," jawa Angel.
"Lo mau makan apa? Gue beliin yah? Kita makan dikelas, lo mau kan?"
"Nggak laper,"
Namun setelah itu, Devan tertawa.
Pipi Angel tiba-tiba merona. Angel merasa malu.
"Mulut lo bilang nggak tapi perut lo bilang iya," ucap Devan lalu tertawa.
"Devan.. " panggil seorang cewek di ambang pintu terus berjalan menghampiri Devan, lalu merangkulnya.
Angel terkejut melihatnya. Angel merasa pipinya panas, entah mengapa jantungnya berdetak hebat. Ada rasa sesak didadanya dan sakit di lubuk hatinya.
Dia Rere, nama aslinya Regina entah Regina apa, Angel tak tahu. Rere ini primadona di sekolah. Dia cantik, tubuhnya tinggi, layak menjadi model, rambutnya panjang dan indah saat di urai.
"Devan.. Aku kangen.. " lirih Rere.
Entah mengapa, Devan sepertinya biasa saja. Dan yang lebih membuat Angel merasa semakin panas adalah Devan membalasnya dengan tersenyum.
"Re.. " panggil seorang lelaki yang berjalan mendekati mereka.
Dia Kevin, teman Devan.
"Re.. Aku disini," ucap Kevin.
"Kamu main rangkul pacar orang aja," sambung Kevin.
Pacar orang? batin Angel.
"Pacar orang?" tanya Rere bingung.
"Aku pacar kamu Re," lirih Kevin.
"Iyaa.. maaf," ucap Rere lalu mendekati Kevin dan duduk disampingnya.
Kenapa mereka malah kumpul disini? batin Angel.
Angel pergi, merasa dirinya tak ada hubungan apa pun diantara mereka. Angel hanya tak ingin mengganggu obrolan mereka. Lagi pula Angel mempermudah mereka, agar percakapan mereka tidak didengar orang asing. Mungkin seperti itu.
Angel berjalan dikooridor menuju kantin. Rasanya, Angel tak rela jika harus meninggalkan Devan dengan wanita itu.
Kenapa juga aku peduli, toh aku memang bukan siapa-siapanya Devan. Lagi pula ada Kevin bersama mereka, batin Angel.
"Arghh! Kenapa juga aku harus mikirin mereka!" ucap Angel pada dirinya sendiri.
Angel merasa jalannya tertahan, dan seperti ada yang menggenggam pergelangan tangannya.
"Angel.. " panggil Devan lembut.
Angel hanya menghela nafas. Lalu berbalik badan.
"Lo kenapa?" tanya Devan.
"Aku nggak apa," jawab Angel.
"Iya,"
"Angel, jujur sama gue," ucap Devan.
"Jujur apa?" tanya Angel bingung.
"Lo kenapa pergi?" tanya Devan.
"Aku cuma mau ke kantin," jawab Angel.
"Gue ikut!" ucap Devan.
"Terserah kamu," Angel membalikkan badannya kemudian berjalan menyusuri kooridor.
"Tungguin!" ucap Devan.
Sesampainya dikantin, Angel berpapasan dengan Alvian. Angel menatapnya dingin dan Alvian juga membalas tatapannya dingin. Sama-sama dingin. Dan sama-sama bergelut dalam pikiran masing-masing.
"Alvian!" panggil Shintia dengan nada manja, lalu melingkarkan tangannya posesif di lengan Alvian.
Angel mengalihkan pandangannya ke samping.
"Angel!" panggil Devan.
"Hmm," jawab Angel.
Devan melihat Angel berhenti berjalan, kemudian Devan berlari mendekatinya. Devan melihat pemandangan itu.
Devan merangkul Angel, kemudian berkata "Angel, ayo! Devan lapar!" ucapnya manja.
"Yaudah, ayo!" pekik Angel.
Kemudian mereka berdua pergi dari hadapan Alvian dan Shintia.
"Lo kenapa sih, Shin?" tanya Alvian.
"Gue nggak suka Angel liatin lo terus!" ucap Shintia.
"Tapi, bisa nggak lo berhenti kayak gini?" lirih Alvian.
"Nggak bisa, lo dari dulu cuma sama gue dan harus tetep sama gue," ucap Shintia kekeuh.
Angel tak suka Devan merangkulnya seperti ini. Namun, sepertinya Angel lebih suka jika Devan bersamanya dari pada harus bertemu dan bersama Rere.
Zeline yang hendak turun pun melihat Angel dan Devan bersama. Ternyata ancamannya waktu itu tidak berlaku pada Angel.
Zeline merasa kesal kepada Angel. Hingga roknya digenggam sampai kusut. Zeline rasanya ingin sekali memaki-maki Angel. Namun, tidak baik jika harus disini. Lagi pula Angel sekarang sedang bersama Devan. Bisa-bisa Zeline kena amukan Devan.
Saat Zeline masih memandang kedua pasangan itu, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.
"Lo kenapa?" tanya Shintia.
"Bukan urusan lo!" ketus Zeline.
Shintia mengikuti arah pandang Zeline. Kemudian mengangguk seolah mengerti apa yang Zeline rasakan.
"Gue bisa bantuin lo," ucap Shintia dengan pandangan yang sama dengan Zeline.
"Maksudnya?" tanya Zeline.
"Ikut gue!" ucap Shintia.
..._______________________________________________...
A/N :
Double part mao?