
Kring...Kring...Kring...
Alarm ponsel Mihrimah berbunyi. Dia terkejut, dia bahkan tidak menyadari kalau dirinya kini tertidur di kamarnya sendiri.
Dia melirik jam dinding kamarnya, sudah jam 05.00 pagi.
Sejak kapan?
Begitu pikirnya dalam hati. Belum tuntas penasaran di hati Mihrimah, dia tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Bian yang muncul di pintu kamarnya.
" KAU?" Mihrimah memandangi Bian yang dengan santai nyelonong saja masuk ke kamarnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Bian yang langsung bertopang dagu di paha Mihrimah.
"Emmm.. Sejak kapan aku tidur?" Tanyanya kepada Bian.
"Kemarin malam, lemas dan tidak sadar di dadaku, lalu aku mengangkatmu ke sini." Kata Bian yang wajahnya dekat sekali berhadapan dengan Mihrimah.
Mihrimah kemudian menarik badannya agak mundur, dia gugup saat terlalu dekat dengan Bian.
"Siapa kau?" Tanya Mihrimah ke wajah Bian dengan pelan.
"Siapa kau?" Bian juga ikut bertanya ke Mihrimah dengan pelan.
Mereka kini adalah dua insan yang saling penasaran. Lumayan lama mereka saling menatap satu sama lain.
"Aaah... Bagaimana kalau malam cari makan keluar?" Tawar Bian untuk memecah suasana kikuk yang menghampiri mereka.
"Aaa.... Anu... Aku..." Mihrimah mencoba menghindar.
"Sudah... Jangan terlalu banyak alasan, biarlah ini jadi perkenalan kita. " Putus Bian tanpa ingin di nego lagi. Mihrimah tidak menjawab. Dia masih segan untuk terlalu sering bersama dengan pria itu.
Kruukkkkk Kruukkk...
Suara perut Bian terdengar keroncongan, semalam dia memang buru-buru meninggalkan hotel dan melewatkan makan malam.
"Aku lapar." Ucap Bian tiba-tiba. Mihrimah mengerutkan kening, bingung harus bagaimana, dia juga enggan makan berdua saja di luar. Baagimana kalau ada yang kenal? Dia tahu sejak awal, pria di hadapannya itu bukanlah pria biasa.
"Kulkasku kosong." Ucap Mihrimah dengan niat agar Bian pulang saja dan makan di rumahnya.
"Hei! Tidak sopan! Aku datang meninggalkan hotel hanya demi dirimu, aku takut kau kenapa-napa dan buru-buru kesini, aku bahkan belum makan apapun semalam! Kau tinggal pilih saja, mau makan berdua denganku di luar atau memasak untukku" Protes Bian dengan wajah cemberutnya. Mihrimah akhirnya tidak bisa menghindar, mau tidak mau dia harus memasak sesuatu sebagai ucapan terimakasih.
"Aku masak saja." Kata Mihrimah kemudian.
"YESSSS." Bian melukis raut bahagia karena Mihrimah akhirnya menuju dapur.
Mihrimah membuka kulkas. Tidak ada apa-apa. Hanya telur saja.
"Ahh... Biarlah, lagian siapa suruh dia memaksa untuk makan di sini. Dia kan punya banyak uang, tinggal keluar dan makan di restoran mahal!" Ucap Mihrimah yang mengomel sendiri di dapur. Dia pun memecahkan dua butir telur dan menceploknya menjadi telur mata sapi. Setelah itu, Mihrimah menyendokkan sepiring nasi dan meletakkan dua buah telur mata sapi tadi ke piring.
"INI...." Ucap Mihrimah masih kesal sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk telur ke hadapan Bian. Bian kegirangan, meski dia hanya di sodorkan dengan makanan seadanya.
"Makasih...." Ucap Bian sumringah. Mihrimah heran, kenapa pria itu senang sekali.
"Lain kali kau harus memasak lagi untukku." Kata Bian setelah selesai dengan makannya. Mihrimah menoleh ke arah Bian dengan wajah cemberut.
"Lain kali?? Apa kau pikir akan bertemu lagi denganku? Apa kau akan ke sini lagi ?" Tanya Mihrimah sedikit keberatan.
"Pasti ! Dan kaulah yang akan menghubungiku nanti." Balas Bian percaya diri. Mihrimah memasang raut wajah kesal mendengar perkataan Bian.
"Over percaya diri." Gerutu Mihrimah pelan.
Setelah makan Mihrimah menceritakan apa yang dia alami, mulai dari ayahnya yang kasar padanya, dan juga kondisi keluarganya yang tidak berada. Dia juga menceritakan soal statusnya yang kini jadi pengangguran pasca di berhentikan atasannya. Bian mendengar semua cerita Mihrimah dengan seksama.
"Ayo kita pergi." Kata Bian tiba-tiba dan langsung menarik tangan Mihrimah yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kemana?" Tanya Mihrimah heran.
"Ikut saja." Ucap Bian yang tanpa basa-basi menggenggam jemari Mihrimah lalu membawanya pergi dengan mobil yang di tinggalkan satu kemarin.
Mihrimah naik dan duduk di kursi depan, sementara Bian mengemudikan mobil.
Sesekali Mihrimah mencuri-curi pandang ke arah Bian yang sangat tampan saat menyetir mobil sendiri.
Bian sadar juga kalau Mihrimah tengah mencuri pandang ke arahnya. Dia sengaja beberapa kali menoleh ke arah Mihrimah yang langsung buang muka dan pura-pura tidak sedang menatapnya.
Bian tersenyum puas, dia merasa kalau Mihrimah perlahan mulai tertarik pada dirinya.
Mobil telah sampai di depan tempat kerja Mihrimah.
"Mau apa kita kesini ??!" Seru Mihrimah yang belum paham tujuan dia di bawa ke tempat itu lagi.
"Ikut saja!" Perintah Bian yang langsung turun dari mobil dan menarik tangan Mihrimah lagi untuk masuk ke dalam.
Bian membuka pintu ruangan kantor itu, dia lalu melihat seisi tempat itu dan mencari di mana ruangan pak Sulayman, atasan Mihrimah yang baru saja memecat dirinya.
"Ke... Kenapa? Heii.... Kii...kita kenapa kesini??" Mihrimah berusaha melepaskan pegangan tangan Bian. Tapi tidak bisa. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruangan pak Sulayman.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu? Anda siapa?" Tanya pak Sulayman sedikit kaget karena ada orang masuk ke dalam ruangannya.
Pak Sulayman lalu menyadari kalau Mihrimah, mantan karyawannya itu ada di depannya bersama seorang pria berwajah tampan dan berwibawa.
"Dengar hei pak Sulayman yang pendek dan tidak punya hati. Kalau aku mau, PERUSAHAAN ANDA INI BISA SAYA BELI HANYA DALAM WAKTU SEDETIK! Tapi saya tidak mau, karena perusahaan anda ini belum tentu profit buat saya! Jadi, mulai sekarang jagalah perusahaan anda yang kecil ini, jangan sampai tumbang dalam sedetik karena saya benci dengan anda! " Ucap Bian geram tepat di depan wajah pak Sulayman. Mantan atasan Mihrimah itu masih terheran-heran dengan perkataan yang baru saja di terimanya, dia kaget.
"Anda siapa?" Tanyanya kemudian.
"Catat nama saya dalam otak anda! Dan mulai kini berhitunglah detik demi detik kapan waktunya saya akan meratakan semua bisnis anda ini! Paham? Nama saya Bian Jonas M-A-H-E-N-D-R-A !! " Kata Bian lagi dengan suara kerasnya yang terdengar sampai keluar ruangan.
Pak Sulayman terduduk lemas di kursinya, hampir saja dia jatuh dan terguling saat akan duduk. Bak tersambar petir, dia sangat kaget bagaimana bisa pewaris keluarga MAHENDRA itu datang sambil marah-marah di depan wajahnya. Dia ketakutan!
Mereka berdua meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki Bian yang tegas, Dia menatap semua yang ada di kantor itu satu demi satu dan menghapal wajah mereka semua. Seisi kantor merinding disko melihat raut muka Bian yang memerah karena tersulut amarah. Mereka tertunduk saat tahu kalau yang barusan membentak bos mereka adalah orang yang paling di perhitungkan di dunia bisnis.
Dari belakang, Zeyn memandang Mihrimah yang berlalu pergi berpegangan tangan dengan pria itu. Zeyn terpaku, dia tidak menyangka kalau Mihrimah ternyata dekat dengan pria lain selain dirinya, dan bukan orang sembarangan pula. Zeyn merasa cemburu, ya dia cemburu.