
Hari ini Bian janji akan menjemput Mihrimah di rumahnya untuk pergi bertemu dengan keluarga besarnya. Dia berusaha berdandan dan berpenampilan semaksimal mungkin meski dia tetap saja merasa tidak sebanding dengan keluarga Bian. Dia meyakinkan dirinya berkali-kali kalau dia sudah layak untuk berdiri dan di perkenalkan di hadapan keluarga besar Bian nantinya. Lama sekali Mihrimah berdiri di teras rumahnya,
1 jam, 2 jam, hingga 3 jam.
Bian tidak juga muncul. Mihrimah heran kenapa Bian lama sekali, biasanya dia tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu. Mihrimah melirik jam tangannya berkali-kali, namun Bian tidak muncul juga. Ponselnya juga tidak berdering sedari tadi, tidak ada pesan ataupun panggilan yang masuk dari Bian.
Mihrimah menghela nafas panjang, berusaha tetap tenang meski kesal bukan main. Dia akhirnya menelpon nomor Bian di handphone- nya.
"Ha..."
"Hallo. Ini siapa?" Jawab seorang wanita yang memotong ucapan Mihrimah.
Jantung Mihrimah berpacu, suara itu membuat hatinya sakit. Siapa dia? kenapa seorang wanita yang terdengar ? Dimana Bian?
"Hallo...Hallo..." Ucap wanita itu lagi karena tidak ada sahutan lagi dari Mihrimah.
"Em...Anu.... Ini nomor Bian, kan?" Kata Mihrimah sekuat hati untuk tenang.
"Iya. Ini siapa?" Ucap wanita itu.
"Ini Mihrimah, Biannya dimana?" Tanya Mihrimah dengan hati yang kacau.
"Lagi di toilet, sebentar aku panggil..." Jawab Wanita itu.
Hati Mihrimah terpukul, sakit rasanya dia mendengar kalau Bian kini ada di toilet dan ternyata bersama dengan seorang wanita.
Kenapa dia di sana? Untuk apa? Dengan siapa?
Itu adalah jeritan hatinya kini. Dia tidak sanggup lagi meneruskan panggilannya dan lekas mematikannya. Dia kemudian mematikan ponselnya dan masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Di dalam kamarnya, dia menatap cermin di depannya dengan tatapan hampa. Kosong!
"Keterlaluan!" Ucapnya dengan suara kesal dan emosi. Dia merasa Bian sudah mempermainkan dirinya. Bian tidak benar-benar serius akan menikahinya, dialah yang merasa terlalu percaya diri!
Air mata Mihrimah mengalir. Dia seharusnya tidak menangis, tapi entah kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya.
"Kenapa aku menangis? Aku kan bukan siapa-siapa, dia juga bukan siapa-siapa untukku! Lalu kenapa aku menangis?" Batinnya menjerit. Dengan cepat Mihrimah mengganti pakaiannya lalu menghapus riasan di wajahnya.
Dia menatap ke langit yang mulai gelap. Dia menghela nafas panjang karena dadanya terasa sesak.
Suara pintu terdengar di ketuk dari luar. Mihrimah agak kaget lalu berjalan ke arah pintu. Dia mengintip dari balik jendela.
Zeyn...
Mihrimah membuka pintu lalu melihat Zeyn sudah berdiri di depannya.
"Zeyn?" Mihrimah memandang Zeyn yang langsung tersenyum dengan menenteng sekantong plastik berisi makanan.
"Gorengan kesukaanmu." Ucap Zeyn dengan senyum lebarnya. Mihrimah membalas senyuman Zeyn dan mempersilahkan Zeyn untuk masuk.
"Kita pulang!" Kata Bian kepada ajudannya yang setia berdiri di sebelahnya. Ajudannya itu langsung membukakan pintu mobil dan mereka berlalu pergi dari situ.
Di dalam mobil, wajah Bian muram, tatapannya penuh kebencian, dia menganggap kalau Mihrimah sama saja dengan perempuan lainnya, tukang selingkuh!
Kini Bian sengaja memblokir semua kontak Mihrimah dan memerintahkan ke ajudannya untuk mencegah Mihrimah agar jangan sampai mendatanginya dimanapun.
"Siap, tuan." Sahut ajudannya yang langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi sesuai dengan perintah tuannya. Bian langsung menuju ke sebuah club malam, dia kembali tenggelam dalam hentakan music yang terdengar keras masuk ke telinga.
Seorang wanita muda dan seksi dengan tubuh semampai datang menghampirinya yang duduk di kelilingi pengamanan yang ketat.
Para ajudan kemudian menghalanginya agar tidak mendekat.
"Biarkan dia datang." Kata Bian yang sudah mabuk.
Wanita itu datang mendekat lalu duduk di pangkuan Bian.
"Bawa aku pulang, Tuan." Bisiknya ke telinga Bian. Bian tertawa lepas lalu menyeretnya pergi. Para ajudan mengikuti Bian dan wanita itu dari belakang. Malam itu Bian kembali kepada jati dirinya yang dulu. Dia bersenang-senang dengan wanita itu tanpa perasaan. Baginya wanita hanya objek saja, tidak layak di beri hati. Bian kembali ke sifat aslinya yang liar.
Dia mencampakkan sejumlah uang setelahnya lalu pergi sambil membetulkan kancing bajunya. Para ajudan mengawalnya. Wanita tadi kemudian berusaha mendekatinya lagi, namun tidak berhasil. Para ajudan langsung menghalaunya sehingga dia terjatuh dan mereka meninggalkannya.
Bian sudah kembali ke apartmentnya, hatinya hampa, kosong! Pikirannya kembali tertuju pada Mihrimah yang kala itu bersama Zeyn masuk ke dalam rumah. Meski dia berusaha melampiaskan rasa cemburunya kepada wanita lain, namun tetap tidak bisa.
Esoknya Bian kembali sibuk dengan segudang aktivitasnya. Jika pagi dia berada di perusahaannya sebagai leader yang punya kemampuan mempuni, malam hari dia bekeliaran di club-club malam dan menghabiskan berbotol-botol minuman beralkohol dengan harga yang fantastis. Biasanya besok paginya dia sudah bangun di tempat tidur hotel dengan seorang wanita lalu kemudian meninggalkannya. Begitu berulang selama seminggu.
Bian merasa sudah kembali seperti dulu, menjadi pria yang liar dan tak punya hati.
"Sampai kapan kau mau seperti ini?! " Abangnya yang kebetulan berpapasan dengan Bian ketika di lobby hotel langganan keluarga mengamuk ketika melihatnya merangkul seorang gadis. Bian hanya melengos pergi, tidak perduli.
Bagi Bian hidupnya kini memang untuk senang-senang saja. Dia tak mau ambil pusing.
"Aku minta tanggung jawab!" Mantan kekasihnya melabrak Bian di lobby hotel setelah selesai dengan wanita bookingannya.
"Keterlaluan kau ya! Kau buntuti aku?!" Bian memaki Zendaya yang masih saja memburunya untuk tanggungjawab.
"Aku hamil dan ini anakmu!" Ucap Zendaya dengan nada nyaring sekali. Bian langsung ikut emosi mendengar Zendaya berteriak-teriak di lobby hotel berusaha untuk mempermalukannya.
Mihrimah terkejut, matanya nanar melihat dua orang yang sedang berdebat tak jauh dari tempatnya berdiri. Entah kebetulan apa yang membuatnya sampai melihat Bian dan seorang wanita tengah berdebat sengit.
"Kau?!!" Bian menunjuk ke arah Mihrimah yang tengah menyaksikan perkelahiannya dengan Zendaya. Sementara Mihrimah yang kala itu datang bersama Zeyn berusaha setenang mungkin agar terlihat biasa saja.
Bian lalu mendatangi Mihrimah yang sontak buang muka ke arah lain.
"Cukup sandiwaramu! Ikut aku!" Teriak Bian sambil menarik Mihrimah dan menyeretnya ke luar hotel.