
Dinara meletakkan kembali box berukuran sedang berisi obat-obatan yang tadi di bawanya.
Ameer kembali baring di pembaringan setelah beberapa tetes obat dan ramuan selesai di oleskan ke luka-lukanya.
"Besok kita harus ke kota, mungkin keluargamu sudah mencarimu,Ammar. Semoga ada titik terang mengenai dirimu." Kata Bapak Dinara sepulang dari berburu.
"Iya...."Sahut Ameer meski dengan ketidakpastian. Sementara Dinara hanya menguping dari bilik kamarnya yang sempit. Hingga malam hari, Dinara enggan berbicara panjang lebar kepada Ameer. Baginya Ameer hanyalah orang asing, nantipun kalau sudah ketemu dengan keluarganya dia pasti akan pergi juga. Hari ini adalah hati ketiga sejak dia dan bapaknya menemukan Ameer. Meski pertemuan itu masih sangat singkat dan di awali dengan sebuah bencana, namun tetap saja bagi Dinara sosok Ameer sebenarnya sangatlah mengalihkan perhatiannya.
Dinara adalah gadis kampung yang sangat jarang bertemu orang banyak. Letak kampungnya yang terisolir juga membuatnya sulit menemukan orang baru untuk sekedar berkenalan. Barulah Ameer pemuda yang datang ke kampungnya lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Banyak pemuda-pemudi di kampung itu yang pada akhirnya meninggalkan tempat itu dan hidup di kota yang lebih maju dan menarik untuk di tinggali. Mungkin kalau di hitung-hitung gadis muda di kampungnya hanyalah tiga orang termasuk Dinara sendiri. Pemudanya pun berkisar empat orang saja dan semuanya tidak cukup menarik bagi Dinara. Barulah Ameer yang membuat jantungnya agak berdebar, Dinara merasa pria itu memiliki suatu daya tarik yang kuat.
"Kau melamun?"Sapa Ameer saat melihat raut wajah Dinara yang kosong. Lamunan Dinara seketika buyar, dia merasa kalau sedari tadi tengah di perhatikan oleh Ameer.
"Ah? Gak... " Bantah Dinara seketika.
"Kau jarang sekali keluar rumah, apa kau tak punya teman?" Tanya Ameer lagi. Dinara menggeleng pelan.
"Hanya kau pemuda baru yang datang ke sini. Bagaimana bisa aku berteman? Pemuda-pemudi lain sudah punya pasangan juga. "Balas Dinara dengan senyum polosnya.
Ameer memperhatikan wajah Dinara dengan lekat, dia lalu menghela nafas sekali sebelum lanjut berbicara.
"Lalu apa kau mau jadi temanku?"Tanya Ameer menawarkan diri. Dinara langsung menoleh ke arah Ameer.
"Aku serius, kau sudah menyelamatkan aku, mana mungkin aku akan baik-baik saja tanpamu dan bapak. Apa aku bisa jadi temanmu?"Tanya Ameer dengan kesungguhan.
Dinara mengangguk pelan, dia tersipu malu.
"Bapak senang, sekian lama putri bapak selalu menundukkan kepala. Baru kali ini raut wajahnya cerah, nak." Tiba-tiba suara bapak menyahut dari belakang. Rupanya sedari tadi bapak sudah memperhatikan percakapan keduanya.
"Bapak.... Sssttt....." Tampak Dinara jadi tak enak hati karena kejujuran bapaknya barusan.
"Oh,ya? Wahh.... Syukurlah! Aku senang sekali bisa membuat putri bapak lebih ceria." Sahut Ameer bersemangat.
"Oh ya? Benar nak?" Tanya bapak dengan semangat.
"Jadi menantu bapak lah nak, mungkin kamu cocok dengan anak bapak ini." Kata bapak dengan suara yang penuh harap.
"Bapakkkk!!!!" Terdengar seruan Dinara yang mendadak malu karena tingkah bapaknya itu. Dinara bahkan langsung membalikkan badan karena tak sanggup melihat ekspresi Ameer nantinya karena kalimat bapaknya barusan.
"Apa bapak setuju? Kalau saya menjadikan putri bapak pasangan saya? Apa bapak rela?"Balas Ameer dengan suara penuh keseriusan.
Bapak dan Dinara terkejut, mereka tak menyangka pria asing di hadapan mereka itu justru menyambut tawaran itu dengan serius. Apalagi Dinara, seketika jantungnya berdegup kencang, wajahnya berseri dan memerah karena malu. Meskipun memang jauh di dalam lubuk hatinya dia tertarik juga pada Ameer.
"Bapak??? Kenapa jadi bahas hal-hal serius kayak gini, sih? Ayolah kita makan dulu." Dinara berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak berlanjut.
Wajah bapak dan Ameer masih menyimpan tanda tanya yang mendalam. Mereka berdua tampak masih ingin melanjutkan pembicaraan ke arah yang lebih serius. Bagi bapak Dinara, lebih baik menjodohkan putrinya itu daripada melihat putrinya tidak bergaul dengan siapapun. Siapa tahu dengan hidup bersama Ameer nantinya Dinara akan jauh lebih bahagia. Dan bagi Ameer, Dinara bukan hanya sekedar gadis biasa. Di matanya, sosok Dinara adalah gadis penyelamatnya, gadis itu juga sangat baik dan telaten mengurusinya. Dinara bahkan sangat ikhlas di repotkan olehnya tanpa mengeluh sedikitpun. Hal itu membuat dia tertarik pada sosok Dinara. Di mata Ameer, kecantikan gadis itu juga sangat alami, dia suka.
Sepanjang jam makan, Ameer dan Dinara saling curi-curi pandang. Keduanya seperti menunjukkan ketertarikan yang sama. Jantung Dinara selalu berdegup lebih kencang saat kedua matanya bertemu dengan mata Ameer. Begitu juga dengan Ameer, dia merasa kalau dia tertarik pada gadis itu.
Besoknya pagi-pagi sekali Ameer di dampingi bapak sudah bersiap akan naik ke atas bukit menyusuri hutan-hutan untuk mendekati arah kota. Dinara mengamati persiapan bapaknya dan Ameer dari ruang tamu. Sesekali pandangan mata Dinara menuju ke Ameer.
"Oke, kita harus berangkat sekarang, mumpung masih pagi. Dinara, bapak berangkat dulu." Kata si bapak berpamitan. Si bapak keluar rumah duluan, kemudian Ameer menghampiri Dina.
"Aku pergi dulu...." Suara Ameer terdengar memberat. Dinara juga, hatinya tiba-tiba menjadi sedih. Meski dia belum tahu betul asal-usul pria yang ada di hadapannya itu, namun hatinya merasa berat juga saat Ameer berpamitan.
"Kau kenapa?"Tanya Ameer karena melihat Dina tak mau menatapnya balik. Wajah cantik Dina tertunduk dalam. Ameer memberanikan dirinya untuk meraih jemari Dina. Dinara langsung mengangkat wajahnya dan mereka pun saling berpandangan.
"Aku ....aku...." Suara Ameer terhenti sejenak. Dia kemudian menghela nafas dan memberanikan diri melanjutkan kalimatnya.
"Aku sepertinya menyukaimu.... Aku pasti kembali, Dina. Aku ingin menuntaskan perasaanku setelah memastikan jati diriku ini. Aku pasti kembali lagi ke sini." Ucap Ameer dengan yakin. Wajah Dinara berseri, gadis itu melukiskan senyuman yang menawan. Jemari mereka berdua masih saling bertautan. Ameer kemudian mengelus kedua pipi Dina dan sontak Dina memeluk tubuh Ameer. Jantung mereka berdua berdegup tak karuan. Hal itu terjadi secara spontan, Dina merasa damai di pelukan Ameer.
"Kau harus kembali, aku menunggumu." Kata Dina penuh harap. Ada sejuta kecemasan di hatinya kalau-kalau setelah mencari tahu tentang dirinya yang sebenarnya dan kemudian mulai pulih ingatan, Ameer akan melupakannya. Namun hal itu berusaha Dina tepis karena biar bagaimanapun dia tak ingin keluarga pria itu berlarut-larut dalam kecemasan karena mencari-cari Ameer.
"Ehemm.... Ayo nak, kita jalan sekarang." Tiba-tiba suara bapak membuyarkan percakapan keduanya. Ameer dengan sigap langsung balik badan begitu juga dengan Dina yang lekas mundur selangkah menjauhi Ameer.
"Jaga dirimu, aku pasti kembali." Kata Ameer sedikit berbisik sebelum keluar pintu. Dina mengangguk, dia yakin pria itu akan kembali dan tetap mencarinya lagi.