A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
SEMBILAN BELAS



Tidak ada yang abadi.


Semua semu!


Kecuali cintaku padamu,Mihrimah


Bian


Sosok lelaki bertubuh tegap dan masih mengepalkan tinju itu sontak menjadi pusat perhatian semua pengunjung di club itu. Mata Mihrimah masih membelalak, dia kaget bukan main. Kini orang yang dia cari sudah berdiri dengan gagahnya di depannya. Baru saja membogem pria asing yang barusan menari-nari dengannya sambil menggodanya.


"Bian !!" Pekiknya kemudian. Bian langsung menoleh ke arah Mihrimah dengan wajah memerah dan tatapan mata yang marah.


"Kemari, Kau!" Ucap Bian sambil menarik tangan Mihrimah dengan kasar. Zeyn yang melihat hal itu langsung mendekati mereka dan berusaha menahan Bian untuk tidak membawa Mihrimah.


"Stop bro, dia datang denganku!" Kata Zeyn kesal.


"Datang denganmu? Siapa kau? Pria murahan yang sibuk menggoda teman wanitanya! Pwihh!" Ucap Bian dengan bahasa yang sinis dan mengejek.


"Apa maksudmu?!"Zeyn sudah bersiap untuk beradu dengan Bian. Dia sudah maju dengan niat untuk memberikan Bian pelajaran.


"Majulah, kalau kau tidak takut mati!" Maki Bian menantang, suaranya memenuhi seisi ruangan sampai-sampai DJ pun mematikan suara musiknya dan ikut menjadi penonton.


"Sudah-sudahhh... !" Mihrimah menjerit, dia tidak mau mereka berdua berhantam lagi.


"Ayo ikut aku!" Kata Bian sambil memandangi Mihrimah dari atas sampai bawah. Dia benci dengan pakaian Mihrimah yang sengaja di pakainya untuk memancing pandangan laki-laki lain.


"Tidak! Aku tidak mau!" Jawab Mihrimah sambil membuang muka. Bian sudah kehabisan kesabaran, dia tidak peduli apapun lagi. Dia lekas menarik tangan Mihrimah yang memberontak tidak mau ikut dengannya. Zeyn dan teman-teman lain langsung berusaha menghentikan aksi Bian itu, namun gagal. Para ajudan langsung memasang pagar besi dan membentengi mereka berdua sehingga berhasil pergi dari tempat itu, berdua.


Mihrimah masih memberontak saat di dalam mobil. Bian habis di pukulinya.


"Diam kau! Dasar wanita kejam!" Ucap Bian kehabisan kesabaran karena tingkah Mihrimah yang sudah di luar toleransinya.


"Aku? Kejam? Lalu kau apa? Kau hilang begitu saja dengan mamamu lalu tidak langsung menghubungiku!" Teriak Mihrimah tidak kalah emosi. Bian memandangi Mihrimah dan mini dress-nya dari atas hingga bawah, memang pakaian Mihrimah kali ini terlalu memancing mata!


"Wajar saja kau di gerayangi pria! Dasar kau wanita penggoda!" Ucap Bian lagi ketus. Mihrimah tidak tahan lagi dengan kalimat pedas dari mulut Bian.


PLAK!


Sebuah tamparan melayang ke pipi Bian. Bian tidak bergeming, dia sudah tahu akan jadi seperti apa kali ini. Mihrimah menatap Bian tajam dan ganas.


"Turunkan aku sekarang juga!" Perintahnya dengan suara bergetar karena menahan emosinya.


" Tidak. Bahkan jika kau menusuk dadaku tepat di jantung dan aku mati konyol di mobil ini, aku tidak akan menurunkanmu sebelum masalah kita selesai!" Ucap Bian tanpa ragu.


Mihrimah akhirnya pasrah, dia hanya mematung di samping Bian tanpa mau sedikitpun menoleh Bian. Wajahnya sengaja di arahkan ke luar jendela mobil. Dia kesal, bahkan berlipat-lipat dari kata kesal.


"Siapa yang tidak memberitahukan keberadaanku dengannya kemaren?! Jawab!!" Nada suara Bian menggelegar. Dia tahu kalau petugas di sana sengaja tidak menggubris Mihrimah saat dia datang dan menanyakan keberadaannya. Dia tahu kalau mamanya sudah memerintahkan mereka untuk mengunci mulut jika Mihrimah datang mencarinya.


"Jawab!!" Bian semakin berteriak. Suaranya bergema hingga ke dalam lobby.


Seorang manajer yang bertugas sebagai pengelola apartment mendatangi Bian sambil membungkuk berkali-kali memohon maaf. Tapi Bian tidak perduli, dia langsung menarik kerah baju sang manajer dengan geramnya.


"Pecat mereka semua, atau kau yang kubuat jadi debu!" Ucap Bian dengan mata seperti monster. Sang manajer hanya pasrah mendengar hal itu, wajahnya tertunduk di hadapan sang Tuan besar Bian Jonas Mahendra.


Di dalam lift Bian masih tidak melepaskan genggaman tangannya dari Mihrimah. Saat sudah di depan pintu huniannya, dia mengisyaratkan para ajudannya untuk pergi dan kembali ke basement apartment. Semua ajudan membungkuk dan langsung pergi sesuai perintah setelahnya.


"Masuk!" Bian mendorong tubuh Mihrimah yang akhirnya sudah masuk ke dalam. Mereka kini hanya berdua, tanpa siapapun di dalam hunian itu. Bian masih memandangi Mihrimah dengan geram, sementara Mihrimah sudah pasrah dengan keberadaan Bian di depannya.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu tanpa aku?!" Tanya Bian dengan nada marah.


"Memang kenapa? Kau saja sesuka mu, pergi tidak lekas memberi aku kabar!" Jawab Mihrimah cuek.


"Mamaku menahanku, kau tahu alasannya. Tapi kau? Langsung berpaling dan pergi dengab laki-laki lain! Murahan!!" Balas Bian semakin pedas. Mihrimah sontak menatap mata Bian dengan tajam.


"Kau tidak mencintaiku!" Kata Mihrimah dengan suara bergetar. Mendengar hal itu Bian langsung mendorong tubuh Mihrimah hingga jatuh ke atas tempat tidur.


Dengan ganasnya dia menciumi tubuh Mihrimah yang masih memberontak ingin lepas. Namun, bukannya berhenti Bian justru merobek pakaian Mihrimah dan kembali melancarkan aksinya. Mihrimah pasrah, dia memandangi Bian yang sudah hilang akal, dia tidak melawan lagi.


Mihrimah memandangi Bian yang masih terlelap di sampingnya. Pandangannya kosong ke arah Bian, dia lalu mengibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan memungut pakaiannya yang sudah robek. Mihrimah menuju toilet dan berendam di bathtub .


"Ah...." Desahnya karena tubuhnya yang lelah merasa nyaman dengan hangatnya air yang mengenai kulitnya. Dia merasa lebih relax, dia merasa lebih nyaman sekarang.


Bian bangun dan kaget saat tidak mendapati Mihrimah di sampingnya. Wajahnya cemas, dia langsung bangkit dari tempat tidur dan mencari Mihrimah di sekitarannya.


"Rima! Rima!" Suara Bian terdengar cemas dan takut . Mihrimah yang mendengar suara Bian langsung lekas memakai handuknya lalu keluar dari dalam kamar mandi.


Dia mendapati Bian yang sudah berdiri ketakutan dan menahan tangis. Ada kesedihan yang tampak jelas di wajah pria yang lebih sering bersikap keras itu, kini pria yang biasanya nampak sekeras batu itu tak lebih dari seorang pria lemah yang menahan tangisnya.


"Kau kemana? Kukira kau pergi." Ucap Bian dengan nada suara lirih menahan sedih. Mihrimah memeluk Bian yang belum mengenakan pakaian sama sekali, dia mengusap usap punggung Bian dan menenangkannya. Bian pun mendekap tubuhnya dengan sangat erat, seperti ketakutan.


" Aku di sini." Ucapnya lembut.


Hari itu Mihrimah tidak pergi dari tempat itu. Dia selalu bersama Bian sepanjang malam.


"Berjanjilah kau tidak akan menyerah demi kita, Rima. Berjanjilah apapun yang terjadi kau akan selalu bersamaku, berjuang untuk hubungan kita." Kata Bian dengan penuh harap. Mihrimah meraih jemari Bian, tangan pria di hadapannya itu sangat lembut dan jemari yang indah. Dipandanginya wajah Bian yang tampan dan menawan. Seorang pewaris yang kini jatuh cinta pada wanita biasa seperti dirinya. Entah kenapa Bian selalu ingin bersama dirinya, dan dia pun juga begitu.


Jauh di dalam lubuk hatinya, nama Bian selalu punya tempat di hatinya. Pria asing itu kini mulai tidak asing baginya, dia terpikat cinta membara dari seorang pria berharta.