
Sementara masih di ruang perawatan rumah sakit, Bian berharap dia segera bisa keluar dari situ. Sambil merenung dia memikirkan cara agar bisa lekas pergi dari situasi yang asing baginya.
"Selamat siang anak mama.... Gimana perasaan kamu sekarang?"Tanya mamanya saat kembali datang mengunjungi siang itu.
"Aku tidak sakit, aku mau kembali ke kampungku bersama bapak...." Pinta Bian yang masih belum menyadari jati dirinya yang sebenarnya.
"Pulang? Pulang ke mana? Inilah kotamu, kau berasal dari sini!"Tegas sang mama yang mulai kesal karena Bian berulang kali meminta untuk pergi.
"Maaf, aku tak mengerti siapa kalian. Aku tak bisa terus berada di antara orang asing yang tak ku kenali." Jelas Bian yang masih berusaha tenang meski hatinya gundah.
"Kau tetap di sini! Ini asal mu! Dan aku mamamu!" Ucap sang mama mulai kehabisan kesabaran.
Wajah Bian mengisyaratkan perasaan jengkel, dia tak lagi mampu melawan ultimatum wanita paruh baya yang ternyata adalah mama kandungnya itu.
"Baiklah, kalau begitu ijinkan aku bertemu sekali saja dengan bapak yang datang bersamaku waktu itu."Pinta Bian terus terang. Karena melihat Bian terus-menerus mengeluh dan memaksa untuk bertemu dengan orangtua yang dia panggil bapak itu, akhirnya mama Bian setuju.
"Oke, kau boleh bertemu dengan orangtua itu, tapi ingat hanya sekali saja, dan kau harus tetap di sini karena inilah tempatmu, kamilah keluargamu Bian!" Jawab mamanya merelakan.
Tak berapa lama di panggilah si bapak yang langsung masuk ke dalam kamar perawatan Bian.
"Nak...."Sapa si bapak yang lega telah melihat Bian secara langsung, karena sejak Bian di temukan oleh mamanya, si bapak memang dilarang mendekat.
"Pak, bapak baik-baik aja kan?" Tanya Bian yang tersenyum saat melihat wajah si bapak.
"Iya, nak bapak gak apa-apa. Pikirkanlah kesehatanmu dulu, mama kandungmu pasti sudah sangat merindukanmu." Ucap si bapak tulus. Bian menggeleng, dia kesal mendengar mamanya di sebut.
"Aku tak mau di sini pak, aku mau ikut dengan bapak, pulang ke rumah...." Balas Bian jujur. Si bapak tampak cemas, dia tahu pastilah mama Bian dan keluarganya yang lain tak akan mengijinkan.
"Sabarlah dulu nak, biar bapak pulang duluan. Nanti kalau kondisimu sudah membaik dari dokter baru kamu boleh menyusul bapak ke rumah bapak."Kata si bapak menyarankan.
Bian menghela nafas, kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Pikirannya melayang kepada sosok Dinara, perempuan cantik nan sederhana anak si bapak.
"Aku menyukai Dinara pak dan sudah berjanji akan kembali ke sana. Pastilah dia nanti menunggu...."Kata Bian jujur.
Terlihat bapak tidak kaget, memang ternyata diam-diam bapak mengerti bahwa ada benih-benih rasa suka di antara keduanya, namun bapak sengaja diam.
"Perasaan itu tidak sepenuhnya salah nak. Tapi, kalau bisa tuntaskanlah dulu urusanmu di sini dengan keluargamu. Jati dirimu harus benar-benar di perjelas, barulah jika sudah beres kamu dan Dinara enak menentukan arah akan kemana perasaan kalian berdua berlabuh."Ujar bapak dengan hati-hati.
Bian mengangguk, dia mengerti tujuan baik bapak, pria yang sudah memasuki usia lansia itu memang bijaksana dan tidak gegabah.
"Apapun hasil dari pemeriksaan ini dan siapapun jati diri saya, nantinya saya akan tetap ke kembali ke rumah bapak dan Dinara. Saya serius mau bersama Dinara pak, semoga bapak tidak keberatan."Jawab Bian percaya diri dan bersungguh-sungguh. Setiap kalimatnya di dengar bapak dengan saksama. Memang tak bisa di pungkiri bapak juga salut dengan keberanian Bian dan keseriusannya untuk memilih bersama anaknya.
"Sampai jumpa lagi ya nak Bian, sabar dan jalani saja prosesnya." Kata bapak lagi.
Itulah kalimat terakhir sebelum bapak pergi meninggalkan kamar perawatan Bian dan melanjutkan perjalanan menuju ke kampungnya yang jauh menuruni balik bukit.
Bian masih terus terbayang akan Dinara anak si bapak. Dia ingin lekas pergi dari situ dan kembali saja ke sana, ke rumah saat dia pertama kali sadar dari musibah yang menimpanya.
"Dina...."Gumamnya pelan.
"Bian...."
Sebuah suara membuyarkan lamunannya, mamanya telah kembali dan masuk ke ruangan itu tanpa dia sadari.
"Kapan anda kembali?"Tanya Bian yang masih belum bisa memanggil mamanya dengan panggilan mama.
"Mama barusan masuk dan melihatmu melamun sendiri. Nak, apa benar sedikitpun tak ingat mamamu ini?"Tanya mama dengan suara sedih. Bian menggeleng, dia memang tak ingat. Raut wajah kesedihan dan terpukul jelas nampak dari wajah wanita paruh baya itu.
"Jadi apa yang kau ingat? Siapa yang pertama kali kau ingat saat pertama kali sadar?"Tanya mamanya penasaran.
"Tak jelas. Hanya aku merasa ada sebuah suara yang memanggilku dan akrab di telingaku, begitu aku sadar suaranya sudah tak lagi ada."Jelas Bian sambil mengerutkan keningnya karena berusaha mengingat-ingat momen saat pertama kali dia membuka matanya setelah kejadian yang menimpanya.
"Suara siapa? Suara apa?"Tanya mamanya ingin tahu.
"Seorang wanita..."Balas Bian pelan. Raut wajah mamanya tampak berubah, agak menegang. Ada suatu kecurigaan yang terbersit di benak mamanya. Dia mencurigai kalau-kalau suara itu adalah sosok seseorang yang Bian ingat meski di alam bawah sadarnya.
"Ehem.... Mama ketemu dokter dulu, mungin ada beberapa hal dari pemeriksaan terkini yang akan di jelaskan dokter. "Mama berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Bian mengangguk, setelah itu mamanya pergi.
Rasa penasaran akan jati dirinya dan keinginannya untuk pulang teramat besar. Keduanya berimbang dan beradu di dalam hatinya.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus kabur saja? Atau bertahan dulu untuk sementara? Tapi gimana dengan Dina? Dia pasti menunggu janjiku untuk kembali dengan segera." Begitu suara hati yang bergemuruh di dadanya. Harusnya Bian ingat sesuatu, meski hanya sedikit. Tapi, entahlah!
Dia kesal kenapa tak ingat satupun kecuali sebuah suara yang masih dia ingat memanggilnya. Terasa sangat akrab meski hanya sebuah suara. Kepala Bian mendadak terasa sakit, pusing karena terus di paksa berpikir.
Dia menggaruk-garuk kepalanya agar rasa pusingnya hilang, suara di dalam benaknya itu kemudian terngiang lagi dan beradu dengan suara seseorang yang baru saja menjenguknya tadi....
Mihrimah....
Bian kaget, wajah Mihrimah, sosok wanita yang tak dia ingat itu muncul tiba-tiba.
"Siapa dia....Siapa wanita yang baru saja menjengukku itu....?"Tanya Bian dalam hati saja.