A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 14



"Ma, aku mau berjalan-jalan sebentar ke luar. Mungkin ada memori-memori yang lebih mudah ku ingat kalau aku berjalan sendiri...."Pinta Bian saat mamanya ada di hadapannya. Mamanya jelas keberatan, wanita itu tampak mengerutkan dahinya.


"Tidak, mama takut kamu kenapa-kenapa, mama sudah trauma rasanya dengan kejadian yang menimpamu waktu itu. Jangan nak, biar mama temankan."Jawab mamanya dengan ekspresi wajah penuh kecemasan. Bian menggeleng, dia tak ingin di ikuti mamanya kali ini. Dia berpikir keras kalimat apa lagi yang harus dia lontarkan agar mamanya mengijinkannya pergi tanpa pengawasan.


"Aku ingin tenang, aku butuh me-refresh pikiranku ini, kalau aku terus-menerus di awasi seperti ini, ada baiknya aku kembali saja ke desa di balik bukit kemarin...." Ancam Bian penuh penekanan. Karena merasa terdesak dengan ucapan Bian barusan, mamanya terpaksa mengijinkan meski dengan setengah hati.


"Jangan terlalu lama di luar, kau belum terlalu hapal jalan kalau mengendarai mobil terlalu jauh. Apa yakin kau bisa tanpa supir Bian?"Tanya mamanya lagi dengan nada berat. Bian dengan yakin mengangguk, dia tak ragu sedikitpun. Ada sesuatu yang harus dia cari tahu sendiri, ada sesuatu yang sulit dia ceritakan dengan gamblang kepada mamanya, dia harus mencari sendiri jawaban atas kerisauan hatinya itu.


"Aku pakai mobil yang mana?"Tanya Bian.


"Pakai mobilmu saja, itu...." Tunjuk mamanya ke arah sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sudah lama tidak di jamah pemiliknya.


"Itu mobilku?"Tanya Bian.


Mamanya mengangguk dan tersenyum. Bian melangkah ke arah mobilnya itu, lalu mengelus mobil kesayangannya itu. Sepintas dia merasa akrab dengan kendaraan itu. Dia meraih remote mobil yang di sodorkan seorang ajudan lalu masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.


Bian tersenyum senang karena langsung merasa nyaman di mobil itu.


Bian pun mengklakson sekali sebelum akhirnya berlalu dengan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.


Kendaraanya melaju menuju ke sebuah tempat yang dia sudah curigai sebagai tempat tinggalnya sebelum dia mengalami lupa ingatan.


Sebelum meminta ijin ke mamanya untuk bepergian sendiri tanpa pengawasan, seorang ajudan yang melihatnya berbicara dengan seorang tukang taman menghampirinya dan diam-diam menyelipkan sebuah kertas kecil.


Awalnya Bian merasa aneh dan kaget juga, apalagi ajudan itu selalu dia lihat ada di sekitarnya dan keluarganya. Bian tak mengingat lagi kalau ajudan yang memberinya secarik kertas itu adalah ajudannya dulu yang paling setia dan mengetahu percis apa yang sebenarnya Bian ingin ketahui.


Bian kembali membaca catatan yang tertulis di kertas itu.


Sebuah nama apartement elit yang sama sekali tak dia ingat. Dia yakin, apa yang dia ingin ketahui pastilah ada hubungannya dengan tempat itu.


Mobil Bian berhenti di pos pengamanan depan apartement, begitu jendela mobilnya di turunkan, para security yang sedang berjaga spontan menundukkan kepala untuk menghormati Bian.


Mendapat perlakuan yang demikian, Bian masih merasa aneh. Dia hanya mengangguk saja dengan rasa tak enak hati.


"Maaf, apa saya boleh masuk ke dalam?"Tanya Bian kemudian.


Mendengar pertanyaan Bian barusan para penjaga langsung saling pandang, mereka memang tidak tahu sama sekali tentang apa yang baru saja menimpa Bian.


"Tentu saja tuan, mari kami antar." Sahut salah seorang penjaga yang langsung menuntun jalan Bian dan menunjukkan arah ke unit apartment milik Bian.


Setelah sampai di depan lift, sang penjaga langsung memencet nomor sesuai dengan unit Bian.


"Terimakasih banyak, saya rasa cukup." Ucap Bian sambil tersenyum ramah. Sang penjaga kemudian menunduk sesaat sebelum pintu lift tertutup. Bian pun naik ke atas sesuai dengan nomor unit yang sudah di arahkan oleh si penjaga tadi.


Pintu lift terbuka tepat depan pintu unit apartment Bian yang ekslusif.


Bian menempelkan sidik jarinya dan pintu pun terbuka. Bian melangkah ke dalam unit apartment mewah itu.


Pandangannya bertemu dengan seseorang yang setengah terbangun dari baringnya saat mendengar seseorang masuk ke dalam unit apartment itu.


Rasa kaget menyelimuti keduanya, Bian bertemu lagi dengan Mihrimah, wanita yang sempat menemuinya saat dia masih di rumah sakit. Sementara tak kalah kagetnya, Mihrimah juga tak menyangka kalau suaminya itu akan datang ke apartment itu setelah ingatannya hilang.


"Kau?!" Seru Mihrimah dengan suara membesar.


"Kau.... Kenapa kau di sini?" Tanya Bian kemudian. Mihrimah gelagapan, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri masih tak menyangka Bian kini ada di hadapannya.


" Aku.... Aku...." Suara Mihrimah tercekat di tenggorokan.


Belum selesai pertanyaan Bian di jawab, pandangan mata Bian menangkap beberapa foto berbingkai yang terpajang rapi di beberapa sisi dinding apartement.


Jelas itu fotonya dan Mihrimah!


Bian mendekati salah satu foto dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya. Pikirannya masih belum bisa mencerna, ada hubungan apa gerangan antara dirinya itu dengan wanita yang kini ada di dalam apartement miliknya.


"Ini apartement milikku bukan? Apa hubungan kita? Apa arti ini semua??" Tanya Bian semakin penasaran. Dia ingin jawaban yang masuk akal untuk dia cerna, karena apa yang dia amati kini baginya sangatlah membingungkan.


"Kau harusnya bisa menebak sendiri, kenapa aku ada di sini, lalu kenapa ada foto-foto kita di unit apartment mu ini, iya kan?" Mihrimah balik bertanya, dia ingin Bian mengingat sendiri siapa dirinya itu dan apa sebenarnya hubungan keduanya.


"Kau? Apa kita punya hubungan spesial? Apa kita berdua tinggal di sini?"Tanya Bian tambah bingung. Mihrimah mendekat ke arah Bian, dia meraih kedua tangan Bian.


Air mata Mihrimah spontan terjatuh, kedua tangan yang dia genggam itu terasa masih sama, kedua tangan yang sangat dia kenal dan dia rindukan.


"Apa kau sama sekali tidak bisa mengingatku? Apa selupa itukah kau denganku?" Tatapan Mihrimah tampak sendu, kedua matanya sudah basah oleh air mata.


Bian menatap Mihrimah dengan pandangan iba, namun memang dia tak ingat apapun tentang wanita yang kini menangis pilu di hadapannya itu.


" Pandanglah aku Bian, pandanglah aku ini, apa tak ada sedikitpun yang tersisa tentang aku? Tentang kita?" Tangis Mihrimah semakin menjadi, isak tangisnya memenuhi seisi ruangan. Bian semakin merasa iba dan merasa bersalah, dia mengusap air mata Mihrimah yang memandanginya dengan tatapan hancur.


" Huuusshhhh.... Sudahlah, tenanglah...." Pinta Bian yang berusaha meredakan tangis Mihrimah. Namun Usahanya itu gagal, Mihrimah tetap tak bisa mengendalikan rasa sedih dan rasa hancur yang kini bergejolak di dirinya.


Seandainya Bian bisa mengingat sedikit saja tentangnya, meski hanya puing-puing yang tersisa, dia pasti tak akan merasa sesedih itu.