
Habis sudah daya Mihrimah, bahkan jika dia harus melawan seorang nyonya besar seperti mama Bian, dia tak lagi punya tenaga.
Dengan sisa-sisa air mata yang masih berjejak di pipinya, Mihrimah melangkah lesu meninggalkan gedung rumah sakit setelah perdebatan sengitnya dengan mama Bian.
"Antar aku ke rumahku...." Kata Mihrimah putus asa kepada satu-satunya ajudan yang masih setia menemaninya.
"Maksud nyonya ke apartment?" Tanya sang ajudan meragu.
"Bukan, ke rumahku yang lama. Ke rumah orangtuaku." Jawab Mihrimah mempertegas maksudnya.
Sanga ajudan terdiam sejenak, perintah itu terasa berat baginya. Dia tahu betul betapa menyedihkannya rumah lama itu bagi Mihrimah. Dan lagi, pastilah ayahnya yang kejam itu akan mulai memanfaatkan Mihrimah.
"Tidak nyonya, di sana tidak aman." Kata sang ajudan berat hati.
"Tak apa, aku pasti baik-baik saja, jangan cemas." Jawab Mihrimah lagi meyakinkan ajudannya itu agar tak terlalu mencemaskannya.
"Tapi nyonya...." Suara sang ajudan terdengar memberat.
Namun akhirnya sang ajudan mematuhi perintah dari Mihrimah. Mobil menuju ke jalan rumah Mihrimah. Langit yang mulai sore tampak kebiruan.
"Untuk sementara aku tidur di sini dulu, kau bisa pulang."Ucap Mihrimah sesaat setelah turun dari mobil. Sang ajudan mengangguk, namun tanpa Mihrimah ketahui sang ajudan tidak langsung pergi begitu saja. Mobil itu menjauh sedikit namun tetap memantau beberapa meter dari situ.
Mihrimah masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil tak lagi tampak. Baru saja dia membuka pintu rumahnya, ayahnya mendatanginya dengan wajah garangnya.
"Kenapa kau pulang? Tumben!" Kata ayahnya tiba-tiba yang membuat Mihrimah sedikit kaget.
"Iya....ayah. Sementara mau tidur di sini dulu." Jawabnya singkat. Ayahnya mengerutkan kedua alisnya.
"Kau pisah dari suamimu yang orang kaya itu?! Mau jadi apa kau?! Gembel? Kalau kau tidak berhubungan lagi dengan pria kaya itu, darimana kau dapat uang untukku?!"Kata ayahnya tanpa rasa empati. Mihrimah menghela nafas pendek, dia sepertinya sudah tak heran mendengar ucapan ayahnya itu yang ujung-ujungnya selalu uang.
"Aku bisa kerja ayah, aku pasti usahakan bisa mandiri juga." Balas Mihrimah yakin.
"Dasar bodoh! Perempuan bodoh! Kau sudah jadi orang kaya lalu sekarang sok ingin mandiri sendiri! Lalu apa guna kau kawin dengan lelaki itu?! Pergi minta maaf kepada suamimu yang kaya itu!" Kata ayahnya dengan suara emosional.
"Ayah, bisakah sedikit saja tidak egois mementingkan diri ayah sendiri? Apa pernah ayah memikirkan bagaimana dengan aku? Apa hanya uang saja yang penting untuk ayah?!" Suara Mihrimah terdengar meninggi.
"Dasar anak tak tahu di untung, kau pikir kau siapa? Berani kau menjawabku!" Bentak ayahnya tak peduli. Dengan langkah berat Mihrimah tak lagi mau menggubris ayahnya itu dia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu sebelum pembicaraan mereka semakin menuju ke arah yang lebih menyakitkan hatinya.
Mihrimah bahkan masih sempat mendengar beberapa barang di banting ke lantai. Setelah puas, suara pintu depan terdengar di banting, ayahnya pun pergi....
Mihrimah membetulkan seprai kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan kosong. Dia menepuk-nepuk sedikit bantalnya yang berdebu, lalu baring di situ. Air matanya mengalir kala mengingat nasibnya kini yang harus kembali ke dalam kehidupannya yang pahit. Bahkan untuk bisa bertemu dengan Bian saja dia tak punya kesempatan. Hanya laporan dari sang ajudan setia saja dia bisa mendapat sedikit kabar tentang Bian. Mihrimah masih terngiang ucapan sang ajudan kepadanya tentang kondisi Bian.
Air mata Mihrimah tumpah, dia menangis sesenggukan. Rasa cemas dan rasa rindu menguasai dirinya.
"Aku harus bagaimana? Kenapa kau hilang dari hidupku? Kenapa kau tak mencariku? Apa kau juga tak bisa mengingatku?" Tanya Mihrimah dalam hatinya.
Dadanya terasa sesak, dia tertidur setelah kelelahan menangis. Malam itu Bian hadir di mimpinya, Bian bahkan tak tersenyum dan bersembunyi di balik dedaunan untuk menghindarinya.
Yuma terbangun di tengah malam setelah keringat bercucuran dan dia tersadar dari mimpinya. Dia melihat sekelilingnya dan baru menyadari kalau dia tengah berada di kamar rumah lamanya. Mihrimah mengusap keningnya yang berkeringat dengan tissue di meja. Dia mimpi buruk, dan setelahnya dia terjaga sampai pagi.
----------"--------‐----
Pintu terdengar di ketuk dari luar, Mihrinah yang memang terjaga sampai pagi seketika bangun dari pembaringannya dan melangkah menuju ke pintu depan.
"Siapa?" Tanyanya saat sudah berada di balik pintu.
"Ini saya nyonya." Kata sang ajudan yang langsung di kenali oleh Mihrimah.
"Kau sudah datang?" Mihrimah agak kaget saat melihat ajudannya pagi-pagi sekali sudah berada di depan pintu rumahnya.
"Nyonya makan dulu, sarapan dulu. Saya dapat kabar dari orang rumah sakit kalau tuan Bian bisa di kunjungi. Nyonya besar barusan meninggalkan ruang perawatan jadi mungkin nyonya bisa melihat tuan Bian dengan aman." Kata sang ajudan dengan suara semangat.
"Kalau dia menolakku? Aku bahkan tak berani memikirkan kalimat apa yang akan dia ucapkan saat pertama kali melihatku lagi." Mihrimah menggeleng, meragukan dirinya sendiri. Kabar yang dia dapatkan kalau Bian bahkan lupa dengan orang-orang di sekitarnya membuat hatinya meragu. Kalau dengan mamanya sendiri saja dia lupa, apalagi dengan dirinya! Begitulah isi pikiran Mihrimah dan ketakutannya.
"Tuan pastilah mengingat nyonya, jangan langsung pesimis begitu nyonya. Tuan Bian itu sangat mencintai nyonya, saya saksinya." Ucap sang ajudan berusaha sebisa mungkin meyakinkan hati Yuma agar tidak langsung berburuk sangka terhadap kondisi majikan mereka.
"Apa aku harus pergi? Apa iya?" Tanya Mihrimah masih sedikit ragu.
"Ayolah nyonya, ayo kita menemui tuan Bian." Ajak sang ajudan dengan penuh harap.
Dengan sedikit usaha dan keyakinan yang masih setengah-setengah, akhirnya sang majikan berhasil membawa Mihrimah ke rumah sakit. Sang ajudan bahkan mendahului untuk memastikan situasi kalau semua aman.
"Ayo nyonya." Kata sang ajudan sambil meng-isyaratkan tangannya agar Mihrinah langsung masuk ke dalam kamar tempat Bian di rawat.
Mihrimah akhirnya bisa masuk, dengan wajah yang masih segan dan cemas Mihrimah melihat sosok Bian, suaminya yang sangat dia rindukan. Sangat!
Bian tampak memunggunginya, melamun seorang diri.
"Bian...." Sapa Mihrimah dengan suara meragu. Lalu Bian menoleh, mengerutkan keningnya sementara Mihrimah menunggu respon darinya.
"Siapa?" Tanya Bian.