
Bian masuk kembali ke dalam mobil, Mihrimah baru saja turun setelah tiba tepat di depan rumahnya.
"Halo!" Jawab Bian seketika dengan suara penuh penekanan dan marah.
"Kenapa kau tega menjauhi aku? Kau sengaja menolak semua panggilan dariku!" Tanya seorang wanita yang air matanya sudah banjir di wajahnya. Wanita itu tampak frustasi dengan sebotol minuman keras di depannya.
"Kenapa? Ada perlu apa?!" Tanya Bian masih dengan nada yang marah.
"Aku hamil!!" Jawab wanita itu tiba-tiba.
DUARRR...! Bak bunyi sebuah petir di telinganya.
Bian terpaku, lidahnya kelu. Dia kaget dengan jawaban barusan. Di dalam mobil dia berpikir keras tentang apa yang barusan dia dengar.
"Kau bercanda?!" Kata Bian lagi tidak percaya.
"Hiks...Hiks.... Aku tidak bercanda!" Jawab wanita itu yang langsung terisak-isak setelahnya.
"Tidak! Itu bukan anakku. Kau selingkuh!" Maki Bian dengan suara keras hingga membuat ajudannya yang menyupir menjadi terkejut.
Bian kemudian mematikan ponselnya. Dia membuang pandangannya ke luar jendela mobil, kepalanya berat dan pikirannya mendadak kalut. Dia tahu dengan siapa kini dia berhadapan.
Ya, wanita itu adalah mantan pacarnya yang pernah tinggal bersama dengannya dulu. Setelah sekian lama tidak saling berhubungan, Bian bisa sedikit lega terlepas darinya, namun beberapa hari terakhir hari-harinya mendadak suram.
Wanita itu muncul lagi di hidupnya, bahkan berani menghampirinya, Ya, wanita itulah yang di lihat Mihrimah berdebat dengannya saat itu. Bian selalu yakin jika itu hanyalah akal-akalan wanita itu saja untuk mengganggunya. Tapi, wanita itu tetap bersikeras kalau dia mengandung anaknya.
"Kita putar arah." Ucap Bian dari kursi belakang.
"Siap tuan, kemana?"Tanya ajudan sambil melirik kaca spion atas.
"Ke rumah Mihrimah." Jawab Bian dengan wajah penuh kecemasan.
Bian mengetuk pintu, berharap Mihrimah lekas membukakan pintu. Sang ajudan sudah sengaja dia suruh pulang saja. Tepat setelah mobil berlalu meninggalkan halaman rumah, Mihrimah membuka pintu. Dia sedikit kaget melihat Bian yang sudah berdiri dengan wajah kusut di depannya.
"Aku datang lagi." Ucap Bian sambil langsung memeluk Mihrimah. Mihrimah terdiam untuk beberapa saat, dia membiarkan Bian dalam posisi seperti itu agar Bian sedikit tenang.
"Masuklah." Kata Mihrimah dengan nada pelan.
Setelah mereka duduk di ruang depan, Mihrimah meraba kening Bian yang mulai hangat.
"Kau sakit?" Tanya Mihrimah sambil memperhatikan wajah Bian. Bian menggeleng lesu.
"Kenapa?" Tanya Mihrimah penasaran melihat ekspresi Bian yang seperti orang banyak pikiran.
"Dengar, apapun yang terjadi, apapun yang kau dengar di luaran sana, kau harus lebih dulu bertanya padaku. Janji?" Pinta Bian dengan nada yang memelas. Mihrimah sedikit bingung, entah apa maksud Bian berkata demikian. Tapi akhirnya nya hanya mengangguk saja untuk meng-iyakan.
"Kau tidur di sini saja malam ini, badanmu hangat." Kata Mihrimah kemudian. Bian tersenyum, dia bahagia bisa dekat dengan wanitanya itu. Meskipun hubungan mereka berdua belum resmi, tapi keduanya memang sudah sama-sama memiliki ikatan di dalam hati masing-masing.
Bian masuk ke kamar Mihrimah yang sempit, dia dan Mihrimah masih berpegangan sampai ke dalam.
"Ruangannya sempit gini, apa bisa kau tidur?" Tanya Mihrimah ragu, Bian memperhatikan sekitar kamar, tempat itu benar-benar bagaikan langit dan bumi bila di bandingkan dengan kamarnya yang sangat mewah.
Mihrimah jinjit untuk mengecup bibir Bian. Hati Mihrimah tiba-tiba seperti sudah mengenal pria di hadapannya itu sejak lama. Dia tidak merasa asing lagi di pelukannya, dia sudah tidak merasa ragu lagi menciumnya. Bian melukiskan senyumnya, dia bahagia Mihrimah tidak lagi menjaga jarak dengannya.
"Cium aku lagi." Pinta Bian lagi. Mihrimah kemudian jinjit dan melingkarkan kedua tangannya di leher Bian lalu mereka berciuman.
Malam itu mereka larut dalam suasana yang mendadak menjadi hangat. Keduanya bercinta tanpa ragu seperti sebelumnya. Bian tidak bisa tidur sampai pagi, kedua matanya terjaga. Sedangkan Mihrimah sudah terlelap di dadanya.
Pikiran Bian masih tertuju pada mantan kekasihnya tadi. Wanita gila yang sengaja dia putuskan karena ketahuan berselingkuh dengan rekan bisnisnya. Bian memang bukan pria yang baik sebagai pasangan, dia tidak suka berkomitmen tapi untuk mentolerir perselingkuhan dia tidak bisa. Dia benci dengan itu karena punya riwayat ayahnya yang juga tukang selingkuh.
Mihrimah tiba-tiba terbangun melihat Bian masih membuka kedua matanya.
"Kau kenapa? Tidak tidur?" Tanya Mihrimah sambil bergerak dan dengan manja memeluk Bian lebih erat. Bian kegelian, dia tersenyum sebentar lalu kembali serius lagi.
"Janjilah denganku satu hal..." Kata Bian kepada Mihrimah yang matanya masih terpejam karena terkantuk-kantuk.
"Apa..." Jawab Mihrimah setengah sadar.
"Tetaplah denganku. Tetaplah disini." Kata Bian setengah berbisik.
"Mmmm." Guman Mihrimah yang sudah tidak lagi sadar dan kembali tidur.
Matahari sudah menampakkan sinarnya. Mihrimah menggeliat di atas kasurnya ketika menyadari dia masih tidur dengan selimut menutupi tubuhnya yang polos. Sementara Bian sudah tidak ada di kasur. Setelah berpakaian Mihrimah keluar kamar dan mendapati Bian duduk di ruang depan sambil melamun.
"Mau kubuatkan kopi?" Ucap Mihrimah yang langsung membuyarkan lamunan Bian.
"Iya. " Kata Bian kemudian. Mihrimah beberapa kali mendapati Bian melamun, seperti ada sesuatu yang dia pendam dalam hati. Setelah secangkir kopi selesai, dia menghidangkannya dengan sepiring biskuit.
"Kau kenapa?" Tanya Mihrimah menyelidiki wajah Bian. Wajah Bian berubah agak kaget ketika Mihrimah bertanya.
"Kenapa?" Bian balik bertanya menutupi sesuatu.
"Aku perhatikan kau melamun beberapa kali. Apa ada sesuatu?" Tanya Mihrimah mendesak. Bian menggeleng, dia masih belum siap menceritakan kejadian yang menyita pikirannya itu. Mihrimah hanya mengangguk, tapi di dalam hatinya dia bersiap untuk menyelidiki sesuatu. Dia tidak lantas percaya dengan apa yang Bian katakan.
"Lusa ku kenalkan dengan keluarga besarku." Kata Bian sambil menyeruput kopi.
Mihrimah gugup, tapi memang hal itu tidak bisa terelakkan, karena pernikahan pastilah terkait dengan keluarga besar.
"Aku harus berpakaian apa?" Tanya Mihrimah ragu.
"Berpakaian saja seperti biasa. Lagian kita sudah pasti tidak akan di restui." Ucap Bian enteng. Mihrimah mengerutkan dahinya mendengar perkataan Bian barusan.
"Maksudmu?" Mihrimah minta di perjelas.
" Ya.... Orangtuaku itu ribet, keluargaku juga. Tapi kita tidak butuh restu. Kita akan jalan sendiri dengan cara kita. Kalau nunggu restu mereka, tidak akan terjadi pernikahan!" Kata Bian panjang lebar. Mihrimah hanya bisa terdiam mendengar itu semua, dia sudah dapat di pastikan akan menjadi menantu yang tidak mendapat restu.
"Jadi?" Kata Mihrimah melanjutkan untuk meminta kepastian.
"Kita menikah saja, tanpa mereka juga tidak masalah." Ucap Bian tegas.