A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 3



Mihrimah dan Bian berciuman setelah selesai makan. Hari masih terang, tapi mereka sudah tidak sabar untuk saling bermesraan. Kedua jemari Bian sudah meraba tubuh mulus Mihrimah. Sementara Mihrimah sudah menggeliat karena geli.


Bian mendorong Mihrimah ke kasur hingga tubuhnya itu terbaring di ranjang empuk mereka.


"Kau tidak takut denganku?" Tanya Bian dengan posisi berdiri menantang Mihrimah. Mihrimah yang sudah terbaring menggeleng sambil tersenyum manja.


"Kau ingin ku hukum?" Tanya Bian lagi dengan nakal. Bian langsung membuka tali pinggangnya dan memainkannya seperti hendak mencambuk Mihrimah.


Mihrimah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil tertawa geli melihat aksi liar Bian.


"Harusnya kau yang kutanyai, apa kau tidak takut denganku sayang?" Mihrimah balik bertanya. Bian mengerutkan alis sambil menggeleng mendengar pertanyaan Mihrimah.


"Kenapa?"Tanya Bian dengan wajah bingung.


"Kau akan ku kalahkan di sini." Ucap Mihrimah penuh keyakinan sambil menepuk kasur denga. Kedua tangannya. Bian tersenyum senang, dia suka dengan kalimat nakal Mihrimah barusan.


"Aku akan membuatmu menjerit, aku akan membuatmu menjadi gila." Kata Bian sambil melucuti satu per satu pakaiannya lalu membuka kasar pakaian Mihrimah. Siang itu, mereka beradu dalam gairah paling dasyat, Bian menjadi gila karena Mihrimah, keadaan bertambah liar karena mereka saling agresif. Keringat bercucuran meski suhu AC sudah mencapai suhu dingin yang maksimum.


"Ahhhhh, aku mencintaimu." Kata Bian sambil berhamburan di pelukan Mihrimah. Mihrimah mengusap-usap punggung Bian yang sudah bertitiran keringat sebesar biji jagung.


"Aku juga...." Balas Mihrimah kemudian. Mereka berdua terlelap tidur sambil berpelukan.


☆☆☆☆☆


Mihrimah mencium aroma wangi saat dia membuka satu matanya dengan rasa kantuk yang masih terasa kuat.


Di depannya sudah berdiri Bian yang sudah berpakaian rapi dan tampak seperti baru habis mandi.


"Kau sudah bangun sayang?"Tanya Bian sambil menyisir rambutnya dengan sisir kecil.


"Hoahemmm...kau mau kemana? Kenapa udah rapi?"Tanya Mirhimah sambil menggosok kedua matanya untuk memperjelas pandangannya.


"Bangunlah, besiap-siap. Kita akan berangkat liburan."Ucap Bian tiba-tiba. Mendengar hal itu sontak Mihrimah yang tadinya baring langsung terduduk.


"Liburan? Kemana? Kenapa mendadak?!" Kata Mihrimah spontan. Bian tekekeh-kekeh melihat reaksi istrinya yang kaget.


"Surprise donk. Pokoknya mandi aja, lalu kita ke bandara."Kata Bian penuh teka-teki.


Mihrimah membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Dia masih berpikir keras, kemana kiranya Bian akan membawanya. Bian bukanlah sosok pria yang biasanya romantis. Tapi kali ini, tanpa ada pertanda apapun suaminya itu tiba-tiba mengajaknya pergi liburan.


Kemana gerangan? Begitu pikirnya dalam hati.


Mihrimah sudah mengganti bajunya di dalam kamar mandi, dia memang sengaja. Kalau tidak langsung berganti di dalam kamar mandi, maka siap-siap dia akan di goda lagi oleh Bian.


"Cantik sekali...." Kata Bian lalu mengecup kedua pipi Mihrimah yang merona tipis-tipis karena blush on pink.


"Makasih...." Balas Mihrimah sambil mencubit kedua pipi suaminya yang sangat gagah itu.


Keduanya bergandengan tangan menuju ke parkiran bawah apartment. Seorang ajudan sudah berdiri di sisi mobil. Bian kemudian menghampiri sang ajudan duluan.


"Aku ingin pergi berdua saja dengan istriku, berikan kunci mobilnya."Kata Bian sambil meminta kunci mobilnya. Sang ajudan langsung menyodorkan kunci mobil dan membungkuk memberi hormat saat Bian dan Mihrimah masuk ke dalam mobil yang sudah dia bukakan.


Mobil mereka pun melaju meninggalkan parkiran apartment, kali ini Bian memang sengaja ingin berduaan saja menikmati waktunya berdua dengab Mihrimah, istrinya yang sudah membuatnya tergila-gila.


"Kita mau kemana, sih?"Tanya Mihrimah berkali-kali, tapi namanya juga Bian, pria itu selalu enggan menjawab dengan serius jika Mihrimah terlihat kebingungan. Mihrimah bahkan sesekali sengaja mencubit pinggang Bian yang mulai kegelian sambil menyetir mobilnya.


"Ke tempat yang indah sayang, tunggulah sebentar, kau pasti akan sangat suka!" Seru Bian dengan penuh semangat.


"Kemana????" Tanya Mihrimah belum putus asa.


Bian melirik ke arah Mihrimah, baru saja hendak menggodanya, Bian buru-buru menginjak pedal rem-nya untuk menghentikan mobil.


"Kita sampai...."Kata Bian sambil menunjuk ke arah sebuah bukit yang masih asri dan terjaga kelestariannya.


"Maksudmu? Kita ke bukit sana?"Tanya Mihrimah sambil menunjuk ke arah gunung yang baru saja di tunjuk Bian.


"Iya sayang."Balas Bian dengan lebih semangat.


"Aduh sayang, ngeri ahh, masa kita harus mendaki ke bukti itu? Tinggi loh itu, nanti kalau ternyata jalannya curam gimana?"Tanya Mihrimah sedikit ragu. Bian meraih jemari Mihrimah, lalu mengecupnya.


"Kan ada aku, pasti seru kalau kita mendaki ke sana dan melihat pemandangan dari atas sana. Soalnya aku dan kawan-kawan udah pernah, indahhh banget..."Ucap Bian lagi masih berusaha meyakinkan Mihrimah yang tampak ragu.


"Ayolahhh...."Kata Bian sambil menarik tangan Mihrimah menyebrangi jalan raya lalu menuju ke jalan setapak, ke arah bukit. Mobil mereka di tinggalkan tepat di seberang jalan.


Udara segar langsung terasa saat keduanya masuk menyusuri jalan kecil yang masih di kelilingi rerumputan dan semak.


"Ahhhh, segarnya...." Kata Mihrimah sambil memetik setangkai bunga liar di pinggiran jalan yang mereka lalui.


"Kau suka kan? Nanti di atas akan lebih seru lagi, sangat indah!" Kata Bian meyakinkan dengan penuh semangat.


"Dari mana kau tempat ini, sayang?"Tanya Mihrimah sambil melirik ke sekitarnya yang sejauh mata memandang hanyalah semak dan rerumputan liar.


"Dulu pernah ke sini dengan teman SMA, ini jadi tempat rahasia kami untuk menepi dari kota."Balas Bian. Mihrimah tersenyum simpul, dia semakin tidak sabar untuk melihat pemandangan dari atas bukit. Dia yakin pemandangannya pasti sangatlah indah, seperti apa kata Bian.


Mereka sudah hampir tiba di puncak bukit, keringat sudah mulai membasahi kening mereka berdua.


"Kau lelah?" Tanya Bian sambil menoleh ke Mihrimah yang berjalan pelan di belakangnya.


"Lumayannn...." Sahut Mihrimah namun tetap berusaha tersenyum.


"Sebentar lagi kita sampai, itu...." Kata Bian sambil menunjuk ke arah sudut pinggiran bukit yang sedikit lebih lapang.


Anehnya terdapat kursi kayu di atas bukit, pastilah orang-orang juga sering naik ke atas untuk menikmati pemandangan dari situ.


"Wahhhhhh..... Indahnyaaaa!" Seru Mihrimah yang kemudian tidak sabaran dan berjalan cepat mendahului Bian di depannya.


"Wahhhhh...." Seru Mihrimah lagi, kedua matanya tak henti-henti memandangi sekitarnya, bibirnya juga berulang kali berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Pemandangan itu layaknya sebuah lukisan surgawi, sungguh mempesona!


"Kau suka?"Tanya Bian sambil memeluk tubuh Mihrimah yang masih berkeringat dari belakang.


"Sangat!" Jawab Mihrimah kegirangan.


Bian tiba-tiba berlutut di hadapan Mihrimah, melihat hal itu Mihrimah merasa sedikit kaget.


"Aku mencintaimu, Mrs.Mahendra. Aku harap kita bisa selalu bersama, aku ingin kita berdua terikat satu sama lain meski nanti sudah terpisah raga...." Kata Bian dengan tatapan penuh cinta.


"Hussshhh.... kita tak akan terpisah raga, bahkan jika kelak di atas sana, aku akan selalu mengikutimu, ke neraka, atau ke surga." Balas Mihrimah yang langsung mendekap Bian dengan erat.