A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
SEPULUH



Mihrimah naik lagi ke dalam mobil bersama dengan Bian di sebelahnya yang sedang fokus mengemudikan mobil.


"Aku mau lain kali kalau seseorang bersikap tidak adil ke dirimu, kau harus mampu melawan." Bian menasehati Mihrimah agar mampu membela dirinya dan tidak pasrah saja.


"Tapi, tadi kan kau yang langsung membela aku, padahal kan aku gak minta di bela?! Lagian aku bisa bela diri sendiri!" Mihrimah ngedumel.


Bian melirik Mihrimah jengkel lalu menoyor kepalanya pelan.


"Tidak tahu terimakasih,nih, perempuan!" Jawab Bian kesal. Mihrimah juga menahan kesal karena Bian mendorong kepalanya.


"Sekarang saatmu untuk balas budi! Tidak ada yang gratis di dunia ini, nona..." Ucap Bian dengan wajah yang menyiratkan sesuatu.


Mihrimah curiga, apa lagi maksud dan tujuan pria ini.


Mobil melaju menuju ke sebuah apartment yang sangat megah, gedungnya sangat tinggi. Bahkan untuk masuk ke dalam saja harus menggunakan ID card. Petugas keamanan berdiri tegap di beberapa sisi menjaga setiap tamu dan pemilik yang datang. Mobil demi mobil yang lewat di cek semua, tapi tidak dengan mobil Bian, ketika petugas melihat plat mobilnya dan dia menurunkan jendelanya sedikit, petugas pengaman di situ langsung membungkuk memberi hormat. Mobil Bian pun dapat masuk dengan bebas tanpa di cek lagi.


Mihrimah salut, sampai terheran-heran, lelaki di sebelahnya ini sangatlah punya power.


Mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam. Bian tidak memegang kartu lagi, hanya mendekatkan matanya ke sebuah kotak pendeteksi identitas lalu akses lift-pun sudah terbuka.


Sungguh canggih!


Mihrimah berdecak kagum. Dia baru kali itu datang ke tempat super safety nan mewah sekelas ini.


Bian duluan masuk ke dalam apartment miliknya. Begitu melihat isi hunian mewah itu, Mihrimah semakin takjub. Setiap sudut tempat itu sangatlah berkelas. Dia semakin yakin pria ini bukanlah orang sembarangan.


"SIAPA KAU? KAU KONGLOMERAT?" Mihrimah menatap Bian curiga, kedua matanya seperti menyelidiki sesuatu tentang Bian.


"Sudahlah, mana ada konglomerat mau di jamu dengan menu telur mata sapi, habis pula!" Ledek Bian sambil menyunggingkan senyum.


"Ck..ck...ck...masih syukur aku kasih makan!" Sahut Mihrimah jengkel.


"Untuk apa kau bawa aku ke sini, kau mau pamer?" Tanya Mihrimah curiga. Bian membalas dengan tatapan jengkel.


"MASAKLAH UNTUKKU LAGI, MASAKKAN AKU TELUR MATA SAPI." Pinta Bian tiba-tiba.


"APA? JADI KAU MEMBAWAKU JAUH-JAUH KE SINI HANYA UNTUK MEMBUATKANMU TELUR MATA SAPI?" Tanya Mihrimah dengan nada tidak pecaya dengan keanehan Bian.


"Kau yang bilang kulkasmu kosong. Ya di kulkasku banyak telur, kau masaklah!" Sahut Bian sambil menunjuk ke arah kitchen.


Mihrimah menuju ke dapur dengan langkah yang sengaja di hentakkan kuat-kuat ke lantai marmer ruangan itu, Bian tersenyum lucu melihat tingkah Mihrimah yang mulai seperti anak kecil. Dia duduk dengan kaki yang di angkatnya ke meja sambil menunggu Mihrimah memasak lagi untuknya.


Aroma telur mata sapi sudah tercium, Bian bersemangat. Sejak Mihrimah memasakkan telur mata sapi untuknya, sejak itu pula hidangan itu menjadi favoritnya. Padahal hanya telur saja, kenapa bisa enak? Begitu pikirnya.


"INI!" Mihrimah menyodorkan lagi sepiring nasi dengan lauk telur sesuai dengan request Bian. Bian langsung sumringah, dia kegirangan hanya karena telur mata sapi itu.


Dengan cepat Bian melahapnya dan habis. Dia puas, tinggal-lah wajah heran Mihrimah saat memandangi pria di depannya itu sangat bahagia setelah selesai makan.


Bian memantik api dan merokok. Mata Mihrimah mendadak tertuju pada sudut bibir Bian yang tertinggal sebutir nasi.


Mihrimah mengambil nasi itu dan membuangnya ke asbak. Tangan Bian kemudian meraih lengan Mihrimah dan menariknya lebih dekat dengannya. Dia bahkan meletakkan rokoknya ke asbak lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang belakang Mihrimah.


DEG... DEG... DEG...


Jantung Mihrimah seperti mau loncat keluar. Dia gugup karena kini Bian mendekatinya. Tapi entah kenapa dia sulit menolak. Tubuhnya mendadak menjadi kaku, sulit bergerak.


Perlahan Bian mulai memandangi bibir Mihrimah, dia mengusap bibir itu dengan jari jempolnya lalu menempelkannya ke bibirnya.


"Biarkan aku mencium mu, aku ingin bercinta denganmu dalam keadaan sadar. Aku ingin benar-benar sadar dan menikmatimu tanpa pengaruh alkohol lagi, agar aku ingat bagaimana rasanya kita bercinta waktu itu." Ucap Bian yang sudah di kuasai hasratnya.


GLEK !


Mihrimah menelan ludah mendengar ucapan Bian barusan, tapi lagi-lagi lidahnya kelu, tidak berani berucap apapun. Wajah tampan Bian membuatnya sampai pangling. Dia sulit sekali menghindar. Dia terpana, dia terpesona.


Bian mendekatkan bibirnya ke bibir Mihrimah dan menciumnya berkali-kali. Mihrimah seperti melayang, terbang ke awan dan tidak kembali lagi. Bibir mereka sudah basah karena berciuman. Jemari Bian perlahan mulai menuju ke kancing baju Mihrimah. Jantung mereka berdua memburu, dan nafas pun memberat. Satu per satu kancing baju Mihrimah lepas, logikanya hilang. Dia akhirnya jatuh lagi ke pelukan Bian, bercinta hingga lepas kendali, namun kali ini dia dan pria itu sadar sepenuhnya. Ya, benar-benar sadar.


Mihrimah menatap ke arah langit-langit kamar yang mewah. Nuansa kayu menambah hangat langit-langit kamar itu. Dia menoleh Bian yang masih terlelap di sampingnya dengan nyenyak. Tidak tega dia membangunkannya. Perlahan dengan agak berjinjit Mihrimah meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, dia melangkah menuju ke toilet dan membawa pakaiannya ke sana.


Mihrimah menatap wajahnya di cermin, dia menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya beberapa kali. Dia memandangi pantulan dirinya di cermin yang tampak setengah badan, dia belum berpakaian. Pelan-pelan dia menghidupkan keran shower dan membasahi tubuhnya itu di bawah shower. Di raihnya sabun yang ada di rak dan memakainya.


Aroma Bian...


Gumamnya dalam hati saat mengenali wanginya. Pancuran air dari lubang shower sangat hangat terasa di kulitnya. Dia tampak menikmati rasa kehangatan air itu. Pikiran Mihrimah kembali terbayang pada apa yang dirinya dan Bian lakukan barusan. Dia merasa sedikit melewati batasnya kali ini. Tapi, Ah... Dia sendiri pun entah kenapa selalu hilang kontrol akan dirinya sendiri.


Bian sangat spesial, pria berwibawa yang kadang suka seenaknya sendiri itu selalu mampu mengendalikan semuanya. Setiap kali bersama dengannya, Mihrimah bisa merasakan cemas, takut, tenang, bahagia, dan berbagai rasa-rasa lain yang berbaur jadi satu, sehingga seringkali membuatnya bingung sendiri. Kenapa dan bagaimana kini menjadi pertanyaan yang sulit di jawab Mihrimah jika itu tentang Bian Jonas Mahendra. Karena pria itu sangat istimewa, dia tidak biasa saja, dia tidak biasa !