A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
ENAM BELAS



"Lepaskan!!" Mihrimah memberontak kala lengannya di tarik bian menuju ke luar hotel. Dia marah dan tidak ingin mengikuti Bian.


Namun Bian tidak sekalipun melepaskan cengkramannya dari Mihrimah. Sementara Zeyn mengejar Bian yang sudah menarik Mihrimah menjauhinya.


"Stop bro! Kau menyakitinya!" Zeyn yang sudah menyusul mereka berdua menepuk bahu Bian dan menarik lengan Mihrimah yang satunya lagi.


Bian kemudian menoleh ke belakang dan menepis tangan Zeyn dengan sangat kasar.


"Jangan berani-berani ikut campur!" Ucap Bian dengan wajah marah. Dia menatap Zeyn sebagai musuh, dengan tatapan penuh kebencian.


"Bro!" Zeyn tetap berusaha menahan langkah mereka. Emosi Bian tidak terkontrol, dia langsung meraih kerah baju Zeyn dan nyaris meninjunya. Fisik mereka sudah saling bergesekan siap untuk adu jotos.


"Stoppp! Cukup!" Mihrimah berteriak keras meski ada rasa takut. Para ajudan yang berada di depan hotel berlari mendekat dan siaga untuk melindungi Bian yang hampir bergulat dengan Zeyn.


Bian mengangkat tangannya, memberi kode agar ajudannya mundur dan tidak ikut campur. Para ajudan sudah melingkari mereka, siap menunggu komando dari Bian. Bian menunjuk wajah Zeyn tepat di mukanya.


"Cam kan baik-baik, jaga dirimu sendiri, urus urusanmu sendiri, kalau kau masih mau hidup, jauhi Mihrimah!" Ancam Bian tanpa empati. Sorot matanya tajam, nafasnya memberat menahan amarah. Dia cemburu dengan keberadaan Zeyn, dia tak suka dengan lelaki itu yang sengaja menyusup di antara dirinya dan Mihrimah!


Bian kemudian berlalu tanpa melepas sedikitpun pegangannya dari tangan Mihrimah. Mihrimah mau tidak mau mengikuti kemanapun Bian membawanya.


"Masuk!"Kata Bian ketus, Mihrimah langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah yang pasrah. Bian lalu masuk lewat pintu sebelahnya dan duduk di samping Mihrimah yang tertunduk tak berdaya. Supir langsung tancap gas dan meninggalkan halaman hotel dengan kecepatan tinggi.


Di dalam mobil, Mihrimah tidak ingin menatap mata Bian. Dia marah, dia kesal kepada pria itu. Dia merasa kalau Bian selalu saja sesuka hati terhadap dirinya. Dan sering semena-mena mengontrolnya.


"Kenapa kau ke hotel dengan pria itu?!" Tanya Bian kemudian dengan nada dingin. Mihrimah tidak menjawab, dia diam seribu bahasa. Bian yang masih terbawa emosi tetap berusaha agar tidak melampiaskan amarahnya di dalam mobil. Dia tidak ingin Mihrimah takut kepadanya seperti para ajudan dan bawahannya yang bekerja untuknya, karena baginya Mihrimah adalah wanita yang spesial di hatinya, dia mencintai Mihrimah.


Bian menghela nafas lalu kembali mencoba setenang mungkin berbicara kepada Mihrimah yang sengaja tidak ingin menjawabnya.


"Jawab aku." Ucap Bian setelah emosinya sedikit mereda. Mihrimah masih diam saja dan kepalanya menunduk.


Bian kemudian meraih jemari Mihrimah dengan niat membujuknya, namun Mihrimah menepisnya. Bian pantang menyerah, dia kembali meraih jemari Mihrimah lagi dan kali ini Mihrimah diam saja.


"Kita harus bahas ini. Kita gak bisa terus-terusan begini." Ucap Bian lembut. Mihrimah akhirnya luluh, air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Jangan menangis, Hussh...." Bian berusaha menenangkan, dia merangkul pundak Mihrimah sambil mengusap-usap punggungnya.


"Kenapa kau tidak datang menjemputku? Katanya kita mau ketemu keluargamu? Tapi kau tidak muncul juga." Tanya Mihrimah masih dengan mata yang sembab karena linangan air mata. Bian menunjukkan ekspresi kaget, dia kini mengerti kenapa Mihrimah begitu marah padanya. Mereka berdua sama-sama salah paham tentang kejadian malam itu.


"Aku menjemputmu Rima, aku terlambat. Tapi ku lihat si lelaki kurang ajar tadi masuk denganmu ke dalam rumah. Mana bisa aku terima hal itu!"Keluh Bian dengan jujur. Mihrimah kemudian menatap wajah Bian seperti mencari jawaban lain.


"Lalu kenapa ponselmu di jawab seorang perempuan malam itu? Itu siapa?" Tanya Mihrimah dengan suara yang parau dan sedih. Mata mereka saling bertatapan.


"Itu Zendaya, mantan pacarku. malam itu dia mendatangiku dan menuntut tanggungjawab. Katanya dia hamil denganku. Aku memang menjalani hubungan yang lama dengannya, tapi itu dulu. Aku tidak bodoh Rima, mana mungkin aku tidak tahu kalau itu benihku atau bukan. Aku menolak untuk percaya sebelum tes DNA. Dan soal panggilan itu, dia mungkin mengambil kesempatan waktu aku meninggalkan ponselku di meja dan kau menelpon. Dia selingkuh saat masih menjalin hubungan denganku dan bukan hanya sekali dua kali, yang lebih parahnya lagi selalu dengan rekan bisnisku. itulah alasan hubungan kami berakhir. " Bian berusaha menjelaskan dengan hati-hati, dia ingin Mihrimah mempercayai dia sekali ini saja.


Mihrimah terdiam dalam pelukan Bian. Dia merasa kalau Bian jujur tentang hal itu.


"Aku ingin mulai sekarang kita jujur tentang apapun. Kalau ada sesuatu hal yang ingin kita tanyakan, kita harus tanyakan langsung, aku tidak sanggup berlama-lama jauh darimu, aku seperti hilang arah Rima, aku seperti tersesat di jalanku sendiri. " Ucap Bian dengan nada lirih. Mihrimah mengangguk pelan, dia juga merasa kalau hidupnya hampa tanpa Bian, dia ingin pria itu selalu ada di hari-harinya yang hambar. Mereka kemudian berpegangan tangan, enggan untuk saling melepaskan.


Mobil sudah memasuki area parkir gedung apartment Bian. Mihrimah dan Bian turun dari dalam mobil setelah supir membukakan pintu. Para petugas pengamanan yang sedang bertugas malam itu membungkuk ketika melihat mereka turun dan menggiring mereka hingga naik ke hunian milik Bian.


"Malam ini kau tidur di sini saja, aku dapat laporan dari ajudan yang mengawasi sekitar rumahmu, ayahmu sekarang ada di rumahmu. Walaupun dia baru pulang dari rumah sakit, tapi aku khawatir membiarkan kau dirumah bersamanya." Kata Bian saat mereka sudah masuk ke dalam.


Mihrimah mengangguk saja, dia ingin mendengarkan Bian, dia ingin percaya kepada perkataan Bian.


Bian mendekatkan wajahnya ke Mihrimah, Mihrimah memejamkan matanya, kedua bibir mereka bertemu, Ya... Malam itu adalah malam yang dingin, tapi bagi keduanya setiap malam adalah hangat saat mereka bersama. Pelukan Bian membuat Mihrimah merasa nyaman, dan dia tidak bisa menolak apapun yang Bian inginkan darinya.


Baru saja mereka berdua hendak menuju ke tempat tidur, suara ribut-ribut mengagetkan mereka yang tengah bermesraan.


"Mana Bian!!!" Teriak seorang wanita yang dengan suara nyaring tampak marah masuk ke dalam.


"Mama?!!" Mata Bian membelalak, dia terkejut melihat mamanya sudah berhasil nyelonong masuk dengan berteriak- teriak setelah gagal di cegah oleh para ajudan.


Bian melotot memandangi ajudan yang tertunduk karena gagal melaksanakan tugasnya.


"Siapa dia?! Ternyata benar, ya, kalau kamu sudah berhubungan dengan wanita yang tidak sederajat dengan kita!" Bentak seorang wanita yang tampak masih awet muda, wajahnya sangat tegas dan berkelas. Penampilannya khas nyonya kaya raya.


"Kenapa ma? Kenapa selalu saja ikut campur urusanku?!" Protes Bian yang tidak terima melihat mamanya mulai sibuk mengurusi hidupnya.


"Apa?Ikut campur katamu? Kamu itu pewaris,Bian! Ingat, kamu itu MAHENDRA!" Ucap mamanya dengan nada tinggi. Bian dan mamanya berdebat hingga berkali-kali membuat Mihrimah mengelus dada ketakutan.


"Keluar kau dari sini, jauhi anakku!!" Mama Bian melotot sambil memandangi Mihrimah dari atas hingga ke bawah. Mihrimah merasa seperti sedang di sidang. Dengan masih menunduk, Mihrimah melangkah berniat untuk meninggalkan tempat itu.


"Jangan! Jangan pergi, tetaplah disini." Pinta Bian menahan langkah Mihrimah. Wajah Bian dipenuhi dengan kesedihan, begitu juga dengan Mihrimah yang ikut terguncang.


"Aku perintahkan sekali lagi, Keluar dan tinggalkan anakku!" Ucap mama Bian semakin lantang dan garang, dia mengacungkan telunjuk ke arah Mihrimah. Bian meraih sebuah pot bunga di sampingnya lalu membantingnya ke lantai.


Suara derai kaca yang pecah dan berserakan saat membentur lantai marmer terdengar sangat keras sehingga menghentikan bentakan mamanya kepada Mihrimah dengan tiba-tiba.


"Aku tidak butuh persetujuan mama. Aku akan memilih jalanku sendiri, dan aku akan tetap bersama wanita ini!" Ucap Bian dengan nada tegas, dia kemudian memegang tangan Mihrimah tepat di depan wajah mamanya dan mengajaknya keluar dari apartment untuk bergegas pergi dari situ.