
Dengan keraguan yang masih jelas, Mihrimah melangkah menuju ke apartment milik Bian. Biasanya baru saja tiba di parkiran bawah, para security akan langsung menyambutnya atau setidaknya membungkuk. Namun, kali ini tidak. Mereka semua memandangi Mihrimah yang baru datang dan mendekati mereka untuk bertanya tentang keberadaan Bian.
"Maaf, saya mau tanya, apa tuan Bian-nya kemarin pulang ke huniannya?" Tanya Mihrimah dengan polos. Para penjaga disitu tidak sama sekali menggubrisnya. Mereka hanya saling memandang satu sama lain, seperti sudah di setting untuk menutupi sesuatu. Ya, mama Bian bahkan sudah sejauh itu untuk memisahkan anaknya dari Mihrimah. Bian kini entah kemana, Mihrimah merasa kalau dia sudah terjebak dalam situasi yang sulit.
Dengan berat hati dia akhirnya menyerah dan pulang ke rumahnya.
"Minta uang!" Suara yang akrab di telinga Mihrinah terdengar garang menodongnya dengan perkataan yang tidak perduli sama sekali.
"Aku tidak punya uang ayah, aku tidak punya lagi." Kata Mihrimah dengan mata yang sudah siap banjir. Ayahnya lalu mendorongnya dan memaki-maki dengan bahasa yang terlalu menyakitkan untuk di dengar.
"Kau tidak apa?" Zeyn yang baru saja datang ke rumah Mihrimah membantu Mihrimah untuk berdiri karena dorongan ayahnya. Ayahnya pun hanya memandangi Zeyn dengan pandangan sinis.
"Kau saja yang beri aku uang!" Ucap ayahnya tidak tahu malu. Zeyn menggeleng tidak habis pikir dengan kelakuan ayah Mihrimah. Dia lalu merogoh dompetnya di saku celana lalu menyerahkan sejumlah uang yang tidak sedikit. Setelah itu ayahnya pergi tanpa basa-basi.
Zeyn menatap Mihrimah iba, sementara Mihrimah hanya mendunduk, mungkin dia tidak tahu lagi kalimat apa yang dapat menggambarkan kondisinya saat ini, hidup dengan ayahnya yang tidak punya kasih sayang kepadanya dan hubungannya yang tidak berjalan lancar. Dia merasa sangat menyedihkan, dia merasa ditinggalkan.
Tanpa banyak kata, Zeyn menarik kepala Mihrimah ke arah dadanya, lalu membiarkan Mihrimah bersandar di dadanya yang bidang.
"Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu sendirian. Aku memang tidak sehebat kekasihmu itu Rima, tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah!" Kata Zeyn dengan nada yang lirih. Air mata Mihrimah akhirnya luruh, tanpa dia beri tahu ternyata Zeyn sudah punya firasat kalau dirinya tidak baik-baik saja.
"Menikahlah denganku Rima, aku akan selalu menjagamu." Pinta Zeyn sungguh-sungguh. Isi kepala Mihrimah berbenturan dengan isi hatinya. Biar bagaimanapun, dia tahu kalau dirinya dan Bian tidak akan bisa bersama karena terhalang oleh keluarga Bian terutama mamanya.
"Iya..." Ucap Mihrimah mendadak. Dia sendiri bingung kenapa sampai menjawab iya. Dia mengalahkan dirinya sendiri dan lekas menerima ajakan Zeyn untuk hidup bersama. Hatinya sakit saat tahu dia sudah mengambil jalan pintas untuk mengakhiri urusannya dengan Bian Jonas Mahendra.
Zeyn bahagia, senyumnya merekah. Berkali-kali dia memandangi wajah Mihrimah untuk memastikan jawaban Mihrimah barusan.
"Apa iya? Kau menerimaku?" Tanya Zeyn lagi. Mihrimah kali ini hanya mengangguk.
Di pelukan Zeyn, dia menyandarkan seluruh nasibnya kini. Dia tidak akan menggubris apapun lagi tentang Bian, demi kebaikan mereka bersama.
Malam hari Mihrimah tidak bisa tidur. Entah kenapa hatinya sangat risau akan kenyataan yang kini menimpanya. Pikirannya tidak bisa lepas dari Bian. Entah dimana lelaki itu sekarang? Begitu pertanyaannya dalam hati.
Nomor Bian bahkan tidak bisa lagi di hubungi. Dia hilang kontak dengan pria itu, kini dia yakin Bian pun tidak berusaha menghubunginya.
Mihrimah menatap saldo yang masih tersisa di rekeningnya. Dia berniat untuk mengembalikan itu nanti saat dirinya dan Bian bertemu lagi.
"Kau cantik sekali. Kau sangat cantik." Kata Zeyn melihat penampilan Mihrimah begitu dia keluar dari pintu rumah. Dia berpakaian sangat modis dan seksi. Kali ini dia ingin menjadi pusat perhatian, dia ingin membuktikan pada dirinya sendiri kalau dia bisa menjadi orang lain untuk saat ini.
"Ayo kita jalan." Kata Mihrimah sambil naik di atas motor Zeyn. Mini dress berwarna merah yang di pakai Mihrimah semakin terangkat saat naik ke atas motor. Zeyn sampai gugup melihat tubuh Mihrimah yang menawan.
Semua teman-temannya menyambut Mihrimah. Akhirnya Mihrimah bersama mereka dan Zeyn lagi. Dia bahkan minum lebih banyak dari saat pertama kali menginjak tempat itu.
"Ayo kita turun." Ajak Zeyn kepada Mihrimah untuk menari dengannya di tengah keramaian. Mihrimah menggeleng dan masih meneguk alkohol dari gelasnya.
"Kau saja. Aku malas." Kata Mihrimah. Zeyn pun mengangguk dan lekas kr tengah kerumunan bersama teman-teman Mihrimah.
Dari jarak yang tidak berapa jauh, Mihrimah melihat Zeyn menari dengan temannya dengan gaya yang menggoda dan sengaja memancing teman-temannya untuk bersentuhan dengan gestur yang sangat menantang. Mihrimah tidak cemburu sama sekali, dia bahkan mati rasa melihat semua itu. Dia tidak merasakan apapun.
Sementara suara music dari DJ sudah semakin panas dan membara, sorotan lampu di tempat itu menyilaukan mata karena sengaja di kelap-kelipkan lebih cepat mengikuti dentuman music DJ. Sang DJ pun sudah semakin menggila dengan pakaian seksi-nya tidak mau kalah pesona dengan para hadirin di depannya.
Seorang pria mendekati Mihrimah, Mihrimah menoleh ke sampingnya.
"Hai? Sendiri saja?" Tanya nya dengan suara yang keras agar terdengar karena suara di tempat itu yang semakin bising.
"Iya." Kata Mihrimah ikut berteriak, tidak mau kalah.
"Ayo dansa denganku!" Katanya lagi. Mihrimah memandangi pria itu dari atas hingga bawah. Terlihat gagah dengan wajah yang lumayan. Mihrimah melirik ke arah Zeyn yang sudah memeluk salah seorang temannya dan menggerayangi temannya sambil berjoget tanpa rasa malu dan ragu.
"Ayo!" Ucap Mihrimah yakin. Dia pun ikut dengan pria itu setelah meneguk habis isi gelasnya.
Mihrimah langsung merapatkan dirinya kepada pria itu. Dia memutari tubuh pria itu dengan gerakan seksi dan berani. Pakaian Mihrimah yang ketat membuat pria itu kepanasan di sertai dengan wajah Mihrimah yang sangat cantik. Pria itu berkali-kali berusaha menangkap Mihrimah untuk memeluknya dan mendekapnya ke tubuhnya. Mihrimah sengaja mengelak untuk membuatnya semakin penasaran dan berani. Setelah menghindar berkali-kali pria itu akhirnya meraih pinggul Mihrimah dan mendekapnya sambil meraba paha Mihrimah.
BRUGHHHKKKK!
Sebuah tinju melayang ke pria itu. Mihrimah yang sudah nyaris berciuman dengan pria itu karena terbawa suasana sampai menjerit kaget. Pria itu terjatuh tepat di depan matanya. Seisi ruangan riuh meski sebagian tetap tidak peduli dan kembali larut dalam hentakan musik.
"Kau??!!!" Pekik Mihrimah. Pandangannya melirik seseorang yang sudah berdiri dengan dada yang bergejolak naik turun, menahan amarah.