A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 4



Bian dan Mihrimah lumayan lama berpelukan dan menikmati pemandangan dari atas bukit. Sesekali embun dari atas awan bergerak menutupi hijaunya perbukitan.


Angin berhembus lumayan kencang, Bian mengencangkan pelukannya. Dia tak ingin Mihrimah merasa dingin.


"Apa kita turun sekarang?"Bian melirik jam, waktu terasa sangat cepat. Hari mulai menjelang sore.


Mihrimah mengangguk, dia setuju untuk turun segera dari situ sebelum mereka terlanjur kesorean.


Bian berjalan duluan sementara Mihrimah berjarak selangkah darinya. Bian berkali-kali mamastikan Mihrimah berjalan dengan aman di belakangnya, sampai akhirnya....


Brugggkhhh!


Kaki Bian tergelincir karena menginjak sebuah batu sebesar kepalan tangan. Bian berusaha meraih kayu yang ada di sekitarnya.


"Biannnnn!!!!" Pekik Mihrimah ketakutan. Di depan matanya kini suaminya itu tengah bergantung pada satu batang kayu.


"Jangan mendekat Rima! Selamatkan dirimu dulu..."Kata Bian sambil terengah-engah menahan bobot tubuhnya. Dia melarang Mihrimah mendekatinya. Namun, Mihrimah masih tak perduli, dia berusaha mengulurkan tangannya untuk di pegang Bian.


"Pegang tanganku!!" Seru Mihrimah dengan wajah ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar hebat.


Bagaimana tidak? Tepat di bawah sana jurang terjal sudah menanti. Dengan air mata yang langsung menetes, Mihrimah menjulurkan lagi tangannya agar di raih oleh Bian.


"Jangan... Jangan mendekat... Jangan pedulikan aku, aku mencintaimu Rima...." Kata Bian sambil menggelengkan kepala, menolak uluran tangan Mihrimah. Jika dia menyambut tangan istrinya itu, kemungkinan besar mereka berdua akan terjatuh seketika.


Bian menatap mata Mihrimah dengan sangat dalam, kesedihan yang amat pekat terlihat dari pancaran kedua matanya.


"Aku mencintaimu, jaga dirimu...." Kata Bian yang langsung mengeluarkan air mata. Mihrimah histeris, tangan Bian sudah memerah dan gemetaran karena menahan tubuhnya di batang kayu yang rapuh.


" Tidaakkkkk!!!!!!!!" Pekik Mihrimah histeris, tubuh Bian terjatuh tepat didepan matanya. Berguling-guling ke bawah jurang yang penuh dahan pohon dan semak belukar. Bian sudah tidak nampak lagi. Mihrimah roboh seketika, pingsan di pinggiran bukit.


Hari sudah menjelang petang, sekelompok orang berbondong-bondong naik ke atas bukit. Rupanya beberapa warga desa yang melihat sebuah mobil terparkis sejak tadi di pinggiran jalan merasa penasaran dan curiga, kenapa sang pemilik tidak kunjung kembali. Beberapa orang menyoroti perbukitan dengan senter untuk menerangi jalan ke atas bukit yang mulai gelap.


"Pak.... Pak.... Ada wanita pingsan di sini!" Seru seorang warga yang kemudian di kerumuni oleh beberapa warga yang lain. Seseorang yang merupakan tetua desa di situ langsung menopang tubuh Mihrimah yang sudah dingin, dia mendekatkan dua jemarinya ke hidung Mihrimah, masih bernafas....


"Pingsan ini, ayo kita bawa turun." Kata tetua desa, kemudian tubuh Mihrimah di bopong oleh seorang pemuda untuk turun ke bawah bukit.


Mihrimah di bawa ke rumah tetua desa dan di baringkan di atas dipan kayu.


"Non, bangun...." Panggil tetua desa sambil mengusap-usap kening Mihrimah. Tubuhnya berkeringat dingin.


Mihrimah perlahan tersadar setelah mencium aroma minyak angin di hidungnya. Dia tidak ingat apapun untuk sementara waktu, namun begitu dia menyadari sekitarnya dia langsung histeris.


"Tolong suami saya! Tolongggggg!!!!!" Pekik Mihrimah mengingat kejadian mengerikan yang tadi menimpa Bian.


"Tenang dulu non, saya tetua di desa ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan nona?" Tanya tetua desa dengan nada hati-hati. Air mata Mihrimah seketika tumpah ruah, dia terisak-isak, hingga sulit berkata-kata.


"Minum dulu nona...." Kata tetua desa itu lagi sambil menyodorkan segelas air putih hangat. Mihrimah meneguk air itu dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Pak...suami saya....jatuh ke jurang...." Kata Mihrimah dengan suara yang lirih, air matanya semakin menjadi-jadi. Para penduduk desa yang hadir di situ langsung bereaksi prihatin. Tetua desa menghela nafas berat, dia merasa iba dengan apa yang barusan Mihrimah katakan.


"Nona ingat betul kejadian itu?" Tanya tetua desa dengan suara yang memberat.


Mihrimah tak lagi besuara, dia mengangguk lalu tenggelam bersama suara tangisan yang pilu. Semua orang di situ ikut bersedih, beberapa juga menangis.


"Kita lapor ke polisi dulu, supaya bisa membantu kita semua melakukan pencarian. Mang Asep, hubungi kepolisian terdekat. Yang lain ikut saya mencari suami nona." Perintah tetua desa.


"Saya ingin mengabari ke rumah dulu, biar para ajudan menyusul say di sini untuk membantu mencari suami saya." Kata Mihrimah dengan suara parau.


Mihrimah segera mengabari para ajudan di apartment. Berita jatuhnya Bian ke jurang sontak membuat seisi rumah gempar. Termasuk bibik yang bekerja di rumah. Berita juga langsung cepat sampai ke keluarga besar Bian di rumah utama. Semua histeris dan panik. Kepolisian kota di hubungi bahkan kepala-kepala kepolisian agar mempercepat pencarian.


Para ajudan menyusul ke lokasi dengan mengawal mama Bian dan saudara tertuanya.


Saat tiba di lokasi dan mendapati Mihrimah terduduk di kelilingi seluruh warga dengan kepala menunduk, mama Bian langsung menjambak rambutnya dan berteriak-teriak menyalahkan Mihrimah.


"Dasar perempuan gak tau diri! Kau penyebab kesialan yang menimpa anakku! Enyah kau!" Maki mama Bian dengan mata melotot. Mihrimah sudah lemah semakin lemah saat mendapat perlakuan demikian dari mama mertuanya. Mama Bian bahkan nyaris melayangkan tamparan ke pipi Mihrimah jika tidak lekas di tepis oleh saudara tertua Bian yang ikut menengahi.


"Ma, tahan emosi mama. Kita harus fokus untuk pencarian Bian. Jangan dulu bertengkar begini. Sebaiknya kita mencari Bian sekarang!" Kata saudara tertua Bian itu.


"Hiks... Hiks.... Mama sedih... Dimana adikmu? Bagaimana kondisi adikmu sekarang?" Mama Bian luruh di pelukan anak tertuanya itu. Tangisnya tumpah seketika saat menyadari kini anak bungsunya sedang di timpa bahaya.


"Kami akan ikut dalam rombongan pencarian, nyonya."Kata seorang ajudan yang datang berombongan untuk ikut serta mencari keberadaan majikan mereka kini.


"Cari sampai ketemu, anakku....anakku sayang.... Kau di mana...?" Tanya Mama Bian sambil masih menangisi tragedi yang menimpa Bian.


Semua rombongan warga, polisi dan para ajudan sudah berangkat ke bukit untuk menemukan keberadaan Bian. Mihrimah terkulai lemas masih di atas dipan kayu milij tetua desa.


"Kau tidak berguna! Kau pembawa bencana untuk anakku! Kau harus pergi dari keluarga kami!" Kata mama Bian dengan wajah dan suara yang menggeram, menahan perasaan kalut dan risau yang menggerogoti dirinya.


"Saya tidak bermaksud membuat hidup Bian kacau atau sengsara, saya mencintainya, saya benar-benar mencintai suami saya...." Balas Mihrimah dengan suara yang kemudian tenggelam bersama suara tangisannya.


"Air mata buaya!" Maki mama Bian yang kemudian dengan sengaja buang muka untuk menghina dan merendahkan Mihrimah.


Tangis Mihrimah masih deras, ada rasa sakit dan pahit saat di hatinya saat dirinya menerima perkataan demi perkataan yang menyudutkan dirinya atas musibah yang Bian alami.


"Kau di mana? Kau di mana?"Gumamnya pada diri sendiri.