
Hari ini Mihrimah masuk kerja, baru saja sampai di depan pintu kantornya, atasannya ternyata sudah menunggu dia.
"SUDAH SEMBUHH?? SAMPAI DUA HARI TIDAK MUNCUL. SEHARUSNYA KEMARIN JADWAL PIKET MU KAN? TIDAK ADA KABAR SAMA SEKALI, TIBA-TIBA TIDAK MASUK." Pak Sulayman bernada sinis menyambut kedatangan Mihrimah dengan ocehan di pagi hari.
"Maaf pak, saya benar-benar minta maaf." Mihrimah membungkuk berkali-kali.
"CK...CK...CK...ANAK BARU!" Ucap pak Sulayman bengis lalu berlalu dari hadapan Mihrimah.
"Sabar Rima. Gimana kondisimu? Kemarin kenapa susah ku hubungi? Teman-teman lain juga bilang sulit menghubungimu." Kata Zeyn yang langsung mencecar Mihrimah dengan banyak pertanyaan ketika melihatnya datang
"Aku baik-baik saja, aku kerja dulu." Ucap Mihrimah yang merasa enggan membahas tentang keberadaan dirinya yang hilang tiba-tiba dari Zeyn dan teman-teman lain.
Zeyn bertanya-tanya dalam hati kenapa sikap Mihrimah tampak sengaja menghindarinya.
"EHEMM!" pak Sulayman sengaja berdehem agar mereka kembali ke tempat masing-masing dan lekas bekerja.
Zeyn berlalu dari hadapan Mihrimah, ekor mata Mihrimah kemudian melirik Zeyn yang sudah pergi.
Maaf, Zeyn.
Begitu bisik Mihrimah dalam hati.
Waktu berlalu dengan lamban sekali, Mihrimah gelisah sepanjang hari. Kerjaannya beberapa kali salah ketik, untungnya klien hari itu tidak terlalu bawel, panjang pengertiannya. Mihrimah sulit sekali mengembalikan konsentrasinya, dia merasa kalau isi kepalanya sudah tersita sejak kejadian kemarin malam. Dia selalu terbayang akan Bian Jonas Mahendra, lelaki yang sudah menyentuh dirinya itu. Lelaki yang membuat Mihrimah jadi terbayang selalu.
Tak...tak...takk...
Hanya suara detak jarum jam yang terdengar di telinga Mihrimah, sedangkan kepalanya masih terisi dengan sosok Bian yang wara-wiri dengan celana Boxernya sambil merokok dan minum wine.
"Mihrimah... Hello....Helooo...Hei anak baru! "
Tsapppp!
Mihrimah kaget, lamunannya buyar, tiba-tiba pak Sulayman sudah berdiri tegap di depannya.
"Ehh.. i...iya pa..pak.." Jawab Mihrimah terbata-bata dan masih kaget.
"Ck ...ck ...ck... Ini!" Pak Sulayman bicara dengan nada kesal sambil menyodorkan sebuah amplop.
"Apa ini pak?" Tanya Mihrimah curiga.
"Baca saja sendiri. Dan mulai besok, kamu bebas." Jawab pak Sulayman yang langsung buang muka lalu pergi masuk ke dalam ruangannya lagi.
SURAT PEMBERHENTIAN KERJA
Baru saja Mihrimah membaca judulnya, kakinya sudah lemas. Dia pasrah, besok dia sudah resmi jadi pengangguran. Bos nya itu juga sudah menyelipkan uang pesangon seadanya di dalam amplop. Mata Mihrimah berkaca-kaca, dia tidak tahu harus bagaimana.
Rekan-rekan yang lain berbisik-bisik saat berita tentang pemberhentian kerja Mihrimah sampai di telinga mereka. Mihrimah terduduk lemas di kursinya.
"Bagaimana aku sekarang? Cari uang di mana lagi?" Bisiknya dalam hati lirih. Kepalanya mendadak terasa berat, keningnya panas karena pusing berpikir.
Zeyn mendatangi Mihrimah yang nampak sangat gusar.
"Aku antar pulang, ya?" Ucap Zeyn menawarkan bantuan kepada dirinya. Mihrimah menggelengkan kepalanya, tanda tidak ingin.
"Aku ingin pulang sendiri." Jawab Mihrimah singkat dan langsung keluar ruangan, pulang ke rumah.
Langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya yang jahat itu sudah berdiri di depan rumah menunggunya. Mihrimah langsung hendak lari.
"EEEEE..EEEEEEEE KEMANA KAU?" Ayahnya berhasil menangkap lengannya. Mihrimah pasrah.
Surat di tangan dan amplop cokelat berisi uang pesangonnya di sambar ayahnya itu dengan sangat cepat. Mihrimah pasrah, tak bertenaga lagi untuk melawan.
"BAGUS! INI YANG AYAH SUKA!" Seru ayahnya setelah melihat isi amplop itu adalah uang. Ayahnya itu langsung saja melengos pergi meninggalkan Mihrimah yang terpaku.
BRUKKKGHHHH!
Tubuh Mihrimah terjatuh, kakinya sudah tidak kuat berdiri, hatinya kacau balau dan hancur. Dia rasanya ingin mati saja sekarang.
Di halaman rumahnya, Mihrimah menangis meraung-raung seperti anak kecil karena semua hal buruk yang sepanjang hari ini menimpanya. Air matanya mengalir deras, susah sekali berhenti. Dia menderita!
Sepasang mata di dalam mobil mengawasi Mihrimah, ajudan Bian! Memang sejak tadi orang suruhan Bian itu sudah mengawasi sekitar rumah Mihrimah. Sang ajudan kemudian mengirim beberapa laporan melalui pesan singkat dan juga mengirim poto Mihrimah yang sudah terduduk di tanah, di halaman rumahnya sambil menangis.
Sementara, Bian Jonas Mahendra, enggan menoleh ponselnya yang bergetar meskipun ada pesan masuk. Dia mengira itu masalah kerjaan. Seorang wanita bertubuh sangat seksi menghampiri Bian di sebuah kamar hotel. Wanita panggilan itu sudah mengenakan kostum nakal yang membuat mata pria menjadi silau.
"Come to me, babe !" Perintah Bian sesaat setelah melihat wanita itu berdiri menantang di depannya. Wanita itu langsung menyeret langkah kakinya dengan gerakan menggoda ke arah Bian, Bian meneguk habis segelas Whiskey di tangannya, dia ingin menghabiskan malam yang gila itu bersama wanita berkostum seksi di depannya itu. Baru saja hendak melakukan permainannya, ponselnya nyaring berbunyi. Ponselnya itu berkali-kali berdering sehingga membuat konsentrasinya buyar. Dia kesal, karena hilang semua hasratnya yang sudah di ujung tadi.
"CK CK! Minggir!" Perintahnya sambil mengeluh agar wanita yang sudah duduk di pangkuannya itu menyingkir.
SEBUAH NOMOR BARU!
Bian mengangkatnya.
"Haaa...." Suara Bian terpotong.
"Hiks...Hiksss...Hiksss. ..A..Aku...ini A...Aku..." Suara tangisan Mihrimah memotong sapaan Bian dengan terbata-bata. Rupanya Mihrimah teringat Bian lalu memungut kartu nama di halaman rumahnya itu yang kemarin di lempar dari jendela lalu menghubungi nomor yang tertera.
Wajah Bian langsung tampak serius dan cemas, dia kenal dengan suara itu.
"Aku ke sana!" Balas Bian tanpa basa-basi dan langsung membetulkan kancing kemejanya yang sudah terbuka sebagian, dan pergi meninggalkan wanita penggodanya itu di kamar seorang diri.
Seorang supir sigap membukakan pintu mobil untuknya, di dalam mobilnya Bian membuka laporan dari ajudannya yang ternyata sudah dari tadi melapor kepadanya.
Mobil pun dengan laju menuju ke arah rumah Mihrimah. Di dalam mobil, sepanjang perjalanan Bian mencemaskan Mihrimah. Dia berharap gadis itu menunggunya datang. Dia senang, akhirnya Mihrimah menghubunginya.
Dari ujung jalan sudah tampak sinar lampu mobil menyoroti halaman rumah Mihrimah. Dia masih terduduk dalam gelap di depan rumahnya sampai akhirnya lampu mobil hitam itu meneranginya.
Pintu mobil di buka supir. Tampaklah Bian yang keluar dari dalam lalu perlahan mendekati Mihrimah yang terduduk dengan menyedihkan di halaman rumahnya.
Bian jongkok dan meraih wajah Mihrimah, lalu menghapus air matanya yang masih mengalir dengan deras.
"Hiks....Akuu....Aaa...ku...." Mihrimah terbata-bata, sulit melanjutkan.
Sssst ...." Bian menghentikan ucapan Mihrimah yang tampak masih terpukul, lalu memeluk tubuh Mihrimah dan mengusap-usap punggungnya. Mihrimah langsung tampak tenang, tangisnya mereda di pelukan Bian.
Malam itu Bian sepanjang malam menjaga Mihrimah. Para ajudan dan supir sengaja di suruhnya pulang saja. Mihrimah sudah tertidur di kasurnya, sementara Bian berkeliling melihat seisi rumah. Beberapa poto lama terpajang di dinding rumah tua itu. Dia menyadari satu hal, wanita yang kini menyita pikirannya ini bukanlah siapa-siapa, tidak seperti keluarganya.
Tapi kenapa dia tidak bisa lepas dari pikiranku?
Begitu pertanyaan dalam hatinya. Karena kehadiran Mihrimah dalam hidupnya terlalu membingungkan bagi dirinya.