A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 12



Semua yang Bian pikirkan saat ini adalah keinginannya untuk menuntaskan rasa gundah dan penasaran di hatinya. Setelah dokter mamastikan kalau apa yang dia alami hanyalah amnesia sementara saja, Bian akhirnya diperbolehkan pulang dan melakukan perawatan di rumahnya.


"Kita pulang nak, syukurlah kalau kondisimu tidak separah yang kita bayangkan...."Kata mamanya sambil menelpon ke rumah untuk menyiapkan kepulangan Bian.


"Aku mau pulang ke tempat bapak."Ujar Bian saat mamanya mulai meraih tangannya dan bersiap membawanya pulang.


"Sudahlah Bian! Cukup! Mama tidak mau dengar lagi kau menyebut orang-orang kampung itu. Siapa mereka? Mereka bukan siapa-siapa Bian!" Emosi mamanya akhirnya tak bisa di tahan. Selama Bian menjalani perawatan memang berkali-kali Bian menyebut-nyebut nama kampung terpencil tempatnya ditemukan. Bian murung, dia tak bisa melawan. Terlebih saat kedua ajudan membantunya turun dari tempat tidur dan menggiringnya bagai nara pidana.


"Kau ini BIAN JONAS MAHENDRA! Kau bukan Ameer. Ingat jati dirimu!" Tegur mamanya kesal sesaat sebelum mereka keluar dari kamar perawatan.


Di dalam mobil mewah yang Bian naiki bersama mamanya, dia melamun. Tidak ada percakapan lebih lanjut setelah pertengkaran itu. Wajah mamanya juga tampak sangat gusar dan tak bersahabat.


Mobil sudah tiba di rumah keluarga Bian yang megah. Halaman yang luas dan rumah bak gedung yang menjulang tinggi dan besar membuat Bian menggelengkan kepalanya. Dia bahkan tak menyangka dirinya itu seorang sultan.


"Ini rumahku?"Tanya Bian tak percaya. Mama Bian tersenyum lebar.


"Iya.... Ini rumah keluarga kita."Ucap mamanya.


"Ayo turun...." Ajak mamanya yang duluan turun dari dalam mobil.


Bian masih memandangi kemewahan dan kemegahan rumah yang menjadi jati diri keluarga mereka. Bahkan halaman rumahnya entah berapa kali lipat luasnya dari lapangan sepak bola.


"Sudah mama bilang sejak tadi, kau itu anak bungsu kami, anak bungsu keluarga Mahendra. Kau tak perlu memikirkan apapun selain keluargamu di sini. Perusahaan kita menantimu, Bian. Fokuslah untuk sembuh."Kata mamanya sambil merangkul lengan Bian.


Namun, meski Bian berusaha mengingat tempat itu, dia sama sekali tidak ingat apapun. Rumah itu tak akrab baginya, dia merasa punya firasat kuat kalau dia tak tinggal di situ lagi.


"Tunggu, apa aku benar-benar tinggal di sini selama ini? Aku merasa asing dengan rumah ini."Bian meragu, dia menghentikan langkahnya.


Mama Bian tampak agak gugup, dia menutupi sesuatu.


"Ya, kau di sini. Kau tinggal bersamaku. Saudara-saudaramu yang lain sesekali ke sini juga karena mereka semua sudah berkeluarga, tapi kaulah yang menetap di sini dengan ku."Kata mama Bian pelan.


"Lalu aku? Apa aku sudah berkeluarga?"Tanya Bian lagi. Mama Bian terkejut mendengar pertanyaan Bian itu.


"Aaah...? Ka...u.... Hmmm...."Mamanya ragu menjawab.


"Aku sudah punya pasangan?"Tanya Bian lagi penasaran. Mamanya menggeleng dengan cepat.


"Apa? Ha ...ha... Ha.... Ada-ada saja pertanyaanmu Bian, kau belum punya pasangan. Kau pemilih, mama bahkan sudah berkali-kali mengenalkanmu dengan banyak wanita, tapi, yaaa tahu sendirilah, kau selalu bisa menolak dengan alasan ini dan itu." Kata mamanya berbohong. Bian mengangguk, dia percaya saja. Manalah mungkin dia curiga dengan keterangan mamanya itu, karena itu adalah mama kandungnya.


"Ayo kita masuk."Ajak mamanya sambil menggandeng tangan Bian lagi. Bian pun mengikuti wanita paruh baya itu dan masuk ke dalam pintu rumah yang luar biasa besar.


"Lihatlah Bian, siapa diri kita ini. Semoga dengan kembali ke rumah ini, kau lekas menyadari jati diri dan status mu di keluarga kita ini. "Kata mamanya dengan nada suara yang berbangga.


Bian melihat sekeliling isi rumah dan berdecak kagum, rumah itu bukanlah rumah biasa, itu istana!


"Ayo kita ke kamarmu, akan mama tunjukkan sesuatu."Ajak mamanya sambil terus menggandeng tangannya.


Mereka sudah di depan pintu kamar Bian dan langsung dibukakan pintu oleh pelayan.


"Lihat, kamarmu masih tertata denga rapi. Lihat poto-potomu itu, kau sekarang yakin kan, siapa dirimu?"Mamanya memaksa Bian untuk memahami dirinya itu dengan cepat.


Bian memperhatikan dinding kamar yang menunjukkan beberapa lukisan dan beberapa foto yang menunjukkan gambar dirinya dengan beberapa kemewahan. Ada gambar dirinya tengah berkuda, berada di luar negeri dengan beberapa pejabat dan tak lupa koleksi-koleksi gambar dirinya mengenakan barang mewah dan mobil mewahnya.


Sekarang Bian tahu sekaya apa dirinya dan keluarganya itu.


"Okelah, jangan lupa makan malam nanti, mama sudah menghubungi semua kakakmu agar berkumpul di rumah ini nanti malam, mungkin dengan kehadiran mereka dan cerita mereka nanti, kau akan lebih mengenal status kita. Istirahatlah dulu, mama mencintaimu nak..."Ucap mamanya sambil mengecup pipi anak bungsunya itu.


Bian mengangguk, meski masih terasa asing baginya, tapi dia berusaha menerima perlakuan mamanya. Ya, meski ingatannya belum kembali, tapi untuk sementara ini hanya mamanya dan keluarganya-lah yang harus dia yakini. Setidaknya ada hubungan darah disitu.


Bian menatap ke arah jendela kamarnya yang besar, dia melamun dan kembali teringat akan Dinara. Sedang apa? Dan bagaimana caranya kesana lagi? Sementara bapak sudah kembali pulang sendiri ke kampung terpencil itu setelah sengaja di ancam oleh mamanya tanpa sepengetahuan Bian.


Bian berusaha menerima lebih dulu kondisi dirinya saat ini dan keadaannya, dia menenangkan hatinya untuk bisa berpikir jernih. Dia tak mau gegabah, apalagi nekad menyusul ke kampung itu tanpa sepengetahuan keluarganya. Bisa jadi dengan power yang di miliki oleh keluarganya, keberadaan Bapak dan Dinara akan terancam.


Ahh, jangan sampai!


Begitu isi hati Bian yang bergemuruh di dadanya.


Hari sudah menjelang sore, Bian bersiap untuk makan malam di ruang makan keluarga. Beberapa saudaranya sudah menunggu dan berdatangan dengan pasangan dan anak mereka. Bian memakai kemeja berlengan pendek dan simpel saja. Dia menatap ke cermin dan sekali lagi menenangkan dirinya agar bisa berbaur, setidaknya dia harus siap dulu untuk itu.


Setelah dia siap, Bian turun ke lantai bawah dengan santai.


"Bian!" Semua saudaranya sontak berseru dan memeluk dia. Mereka senang dan puas melihat Bian sudah kembali ke rumah. Hubungan antar kakak adik itu memang unik, meski mereka bersaing dalam dunia bisnis tapi mereka juga sekaligus rekan dan saudara sedarah. Kesibukan masing-masing tidak serta-merta menghilangkan hubungan sedarah mereka.


"Kau kembali dan kami lega! Kau harus terus di sini, kami akan mendukungmu untuk kembali ke jati dirimu !" Ujar salah satu kakaknya sambil berkali-kali merangkul pundaknya.


Sorot mata anggota keluarga itu seperti saling memberi kode satu sama lain, Ya, mereka berusaha keras menutupi sesuatu agar tertata dengan baik dan sesuai dengan keinginan mereka.


"Ma? Kalau Bian ingatannya pulih bagaimana? Lamban laun dia akan ingat akan istrinya itu dan dimana selama ini dia tinggal...."Tanya salah seorang menantu.


"Yang penting kita bentuk dulu pikiran Bian seperti dia yang dahulu sebelum bertemu dengan perempuan itu! Selebihnya kita atur strategi dan rencana agar Bian meninggalkannya."Ucap mamanya dengan raut wajah penuh rencana. Menantu-menantunya langsung mengangguk, mereka pasti akan mendukung. Karena bagi mereka, Bian harus berpihak kepada keluarganya lagi!