
Air mata Mihrimah sudah terasa mengering, dia bahkan merasa sudah tak sanggup lagi mengeluarkan air matanya. Beberapa tim yang berpencar dan mencari keberadaan Bian ternyata belum menemukan titik terang tentang keberadaan Bian. Curamnya jurang membatasi gerak mereka untuk meninjau sampai ke bawah jurang. Apalagi setelah di sorot lebih jelas dengan helikopter, ternyata di bawah jurang mengalir sebuah sungai yang arusnya saat itu lumayan deras saat itu. Cuaca di sekitar kawasan itu memang beberapa kali sering hujan, hal itu membuat beberapa aliran sungai yang biasanya kecil tiba-tiba airnya meluap dan menjadi aliran yang lumayan deras.
"Kalian ini bagaimana! Kalau caranya begini sampai kapan anak saya akan ketemu! Panggil helikopter! Saya laporkan kalian ke atasan tertinggi kalian, biar kalian di pecat semua!" Maki mama Bian dengan sikap otoriternya di hadapan para polisi dan beberapa tim gabungan yang ikut melakukan pencarian.
Mama Bian mondar-mandir tak bisa tenang, dia bahkan seringkali berteriak-teriak histeris memanggil nama anaknya.
Mihrimah sudah terududuk lemas di tanah, pakaiannya yang menjadi lusuh dan kumal tak lagi dia hiraukan. Beberapa ibu-ibu warga sekitar menopang Mihrimah dan menenangkannya agar jangan sampai hilang kesadaran. Kepala Mihrimah memang sudah terasa sangat berat, dia bahkan tidak sanggup lagi mengangkat kepalanya dan terkulai lemah.
"Cepat temukan anakku!" Teriak mama Bian lagi dengan suara yang bergetar. Seketika suasana menjadi semakin kalut, langit memang sudah mulai gelap. Helikopter sudah tiba dan ikut melakukan pencarian, namun karena saat itu sudah terlalu gelap dan cuaca juga mulai berangin kencang, pencarian pun terpaksa di hentikan.
Mama Bian tetap histeris dan menyuruh agar tidak berhenti melakukan pencarian. Wanita paruh baya itu bahkan ikut terjatuh ke tanah karena kesedihannya, sehingga beberapa ajudan langsung mengangkatnya ke mobil untuk di amankan.
Mihrimah memejamkan kedua matanya, dia hilang kesadaran, dia sudah hilang kesaradaran.
Tubuh Mihrimah terasa sakit semua, dia menggerakkan tubuhnya sedikit lalu membuka matanya perlahan. Sinar lampu membuat matanya silau.
"Aku di mana?"Tanya Mihrimah ketika dia tersadar.
"Nyonya pingsan, ini di rumah warga. " Balas seorang ajudan yang setia menemani Mihrimah bersama dengan si ibu pemilik rumah.
"Ini non, minum dulu teh manis-nya." Ibu sang pemilik rumah menyodorkan segelas teh hangat saat melihat Mihrimah sudah tersadar.
Mihrimah menggeleng, menolak minuman itu.
"Saya gak haus bu, suami saya di mana?"Tanya Mihrimah yang langsung mencari Bian dengan penuh harapan.
Sang ajudan dan si ibu pemilik rumah saling bertatapan, mereka tidak tahu apa yang harus mereka jawab. Mereka merasa iba dan tidak tega.
"Dimana suamiku? Sudah ketemu kan? Bian dimana? Jawabbbb!!!!" Tanya Mihrimah yang kembali mulai panik dan menangis sesenggukan. Si ibu langsung memeluk Mihrimah dengan kasihan, air mata Mihrimah tumpah lagi, dia tidak tahu harus bagaimana menerima kenyataan kalau Bian belum juga di temukan.
"Bu, jawab saya! Suami saya di manaa.....???" Tanya Mihrimah merengek dengan kedua mata yang sudah memerah penuh air mata. Si ibu ikut menangis, kesedihan yang di alami Mihrimah membuat si ibu sangat iba padanya.
"Nona berdoa, ya? Semoga musibah ini lekas berakhir, nona juga harus sabar.... Pasti suami nona bisa ketemu...." Kata si ibu sambil mengusap-usap punggung Mihrimah.
Tubuh Mihrimah bergetar, dia merasa nasib yang menimpanya dan Bian adalah sebuah kejadian yang tidak di sangka-sangka. Bahkan melebihi sebuah mimpi buruk!
Hiburan saat ini tidaklah bermakna sama sekali bagi Mihrimah, dirinya sudah terlanjur layu. Bahkan untuk membayangkan lagi kejadian yang dia alami bersama Bian, dia sudah tidak sanggup. Hal itu sangatlah traumatis baginya!
Berita kehilangan Bian Jonas Mahendra langsung menjadi breaking news malam itu juga. Wajah Bian dan profil keluarganya seketika memenuhi berita-berita di televisi. Pewaris bungsu keluarga Mahendra jatuh ke jurang dan belum berhasil di temukan. Beberapa rekan bisnis perusahaan juga sibuk menghubungi beberapa kerabat setelah mendengar berita tentang musibah itu.
Begitu juga dengan beberapa teman Mihrimah sibuk menelpon untuk mencari tahu tentang kebenaran berita itu dan mendengar langsung dari Mihrimah.
Dengan masih bersadar di sandaran tempat tidur, Mihrimah masih berusaha mengangkat telpon para sahabatnya dan beberapa rekan kerjanya yang masih kontak dengannya. Suara Mihrimah terdengar lesu, dia bahkan memaksakan dirinya untuk menjawab panggilan itu.
"Nyonya istirahat saja, jangan di jawab lagi. Nyonya harus punya tenaga yang kuat untuk esok hari." Kata sang ajudan melarang Mihrimah menjawab ponselnya yang berdering. Mihrimah tidak menjawab, air matanya mengalir lagi. Sang ajudan dengan sigap meminta ijin untuk mengambil ponselnya dan menyimpannya agar majikannya itu bisa istirahat dulu.
Air mata tak henti-hentinya membasahi kelopak mata Mihrimah, kedua mata indahnya itu sudah bengkak. Wajahnya juga memerah dan sangat kusut. Aura kecantikannya terlihat memudar berganti dengan aura negatif yang memurungkan wajahnya.
Sang ajudan sudah meninggalkan kamar bersama dengan si ibu pemilik rumah. Lampu kamar juga sudah di matikan, Mihrimah yang sudah terbaring di kasur menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tak mungkin bisa tidur, dia tak bisa menyingkirkan wajah Bian dari benaknya. Dia ingin lekas pagi, agar pencarian Bian dapat segera di lanjutkan.
Kilat beberapa kali menyambar dan memercikkan cahaya lewat kaca jendela kamar.
"Kau di mana? Kau bagaimana?"Gumam Mihrimah dalam hati. Dia tak bisa membayangkan betapa ketakutannya Bian saat ini, pastilah dia juga terluka.
Hujan mulai turun, perlahan lalu mulai menjadi deras. Petir juga tidak mau kalah, sedari tadi menyambar-nyambar seperti sedang memaki kesalahan Mihrimah karena tidak bisa menyelamatkan suaminya.
Sementara di bawah jurang yang dalam, seorang gadis melihat tubuh pria terbawa arus sungai yang memang alirannya sedang deras pasca musim hujan. Gadis muda itu mendekati pria dengan tubuh penuh luka itu.
"Bapak... Bapak...Ada orang di situ!" Seru seorang wanita memanggil bapaknya yang berjalan duluan selepas menghadiri acara keluarga warga kampung.
Sontak sang bapak langsung berbalik dan mendekat ke arah yang di tunjuk oleh anak perempuannya itu.
"Astaga, manusia nak.... Bapak ke tengah sungai dulu." Seru si bapak yang langsung seketika masuk ke air dan menyeret tubuh itu.
"Masih nafas ini nak, ayo bantu bapak angkat ke punggung." Kata si bapak dengan wajah penuh kecemasan. Si gadis tadi langsung membantu mengangkat tubuh itu, dia keberatan!
Namun dengan beberapa kali usaha, tubuh pria itu berhasil dia naikkan ke punggung bapaknya. Dengan sekuat tenanga yang tersisa di bapak mempercepat langkah kakinya menuju ke rumah mereka yang tak terlalu jauh lagi.
Darah segar bercucuran sepanjang mereka berjalan, si gadis cemas pria itu akan kehabisan darah jika terlambat mereka tolong. Kawasan itu adalah desa terjauh yang ada di bawah perbukitan. Bahwan tempat itu sangat terpencil, entah kenapa sosok pria bisa terombang-ambing di sungai dengan kondisi memprihatinkan.
"Ayo pak... Cepat, kasihan pak...." Kata si anak gadis dengan wajah kalut.