
Bian mengitari seisi rumahnya, pagi hari setelah semua anggota keluarganya sibuk masing-masing dengan kegiatan mereka, Bian berusaha merangkai ingatannya dengan terus mengingat setiap sudut rumahnya, kalau-kalau masih ada yang mampu dia ingat.
Tapi tak ada!
Bian masih saja terus merasa asing dengan tempat itu.
"Aku merasa asing...."Gumam Bian dalam hati. Seorang tukang taman yang melewati Bian kemudian di panggilnya.
"Iya tuan...." Jawab si tukang taman setelah berhenti karena Bian memanggilnya.
"Ayo ikut aku." Kata Bian menjauh ke arah taman belakang agar jangan ada yang melihat mereka berbincang.
Bian memastikan sekitarnya dengan melirik kanan kiri sebelum akhirnya melanjutkan bicaranya.
"Sudah berapa lama bapak kerja di sini?"Tanya Bian pelan.
"Hampir dua tahun tuan...." Jawab si tukang taman segan.
"Aku ingin kau jujur, apa aku selalu di rumah ini?"Tanya Bian lagi. Si tukang taman diam sejenak, ragu untuk menjawab.
"Jangan takut, jujurlah." Pinta Bian.
"Maaf tuan.... Saya, saya...." Suara si tukang taman terputus. Wajah Bian penuh harap, dia menaruh kepercayaan pada apa yang pekerja rumah itu katakan.
"Tolonglah saya pak, saya butuh penjelasan tentang status saya di sini, dirumah ini. Apa bapak sering melihat saya?"Tanya Bian pelan.
Si tukang taman menggeleng pelan sekali, lalu kemudian menunduk.
"Saya sudah hampir beberapa bulan jarang melihat tuan di sini. Kata pekerja yang lain, yang lebih lama dari saya, tuan sudah menikah dan tidak tinggal di sini." Kata si tukang taman gugup. Bian tertegun, keterangan dari pekerja di rumahnya itu membuat dia tambah bingung. Lantas kenapa dia tidak di beri tahu keluarganya perihal yang satu ini?
"Lalu aku tinggal di mana selama ini?" Tanya Bian lagi. Si tukang taman menggeleng, dia tak tahu.
Setelah memberikan keterangan itu, tukang taman itu pergi. Sementara Bian merasa sudah di bohongi oleh keluarganya, mungkin keluarganya sengaja membodohi dirinya dengan cara menyembunyikan fakta yang harusnya dia ketahui.
Tapi untuk apa? Kenapa?
Bian tak tahu jawabannya, yang dia tahu hatinya kini mulai ragu akan keluarganya sendiri. Kalau mereka bersepakat bersama untuk membohonginya, pastilah ada hal lain yang juga mereka rencanakan untuknya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Bian!"Terdengar suara mamanya memanggilnya lalu menghampirinya dengan raut wajah senang. Mamanya memeluk dia dan mencium kening putera bungsunya itu.
"Kesayangan mama...." Ucap mamanya sambil menepuk-nepuk bahu anaknya itu.
"Kau sudah makan?"Tanya mamanya penuh perhatian, bian tak menjawab hanya mengangguk. Hatinya mulai meragukan kebaikan mamanya sendiri, namun dia berusaha sekuat mungkin terlihat wajar.
"Ikutlah dengan mama ke perusahaan, ada beberapa hal yang harus kita diskusikan bersama saudara-saudaramu yang lain." Pinta mamanya. Bian sebenarnya enggan, namun akhirnya menurut saja. Mereka bersiap ke perusahaan, tempat dimana harta dan tahta keluarga Mahendra bermula. Setibanya di sana para pekerja dan pengamanan langsung menyambut mereka dengan rasa hormat dan segan. Bian mengikuti mamanya sampai ke lantai 10, ruang rapat internal para pemilik saham.
Bian dengan tenang melangkah masuk ke dalam ruangan, di sana sudah duduk semua saudara laki-lakinya beserta keluarga dan juga ayahnya yang baru saja tiba dari luar negeri. Bian menyalami ayahnya yang tampak kaku itu meski dia sangat merasa asing.
"Kau sudah sehat,nak?"Sapa sang ayah menjabat tangan putera bungsunya itu lalu mengusap punggungnya. Bian mengangguk pelan.
"Duduklah...." suruh sang ayah sambil menunjuk ke arah kursi di dekatnya. Saudara-saudaranya yang lain tampak tak senang dan jelas menunjukkan ekspresi cemburu. Sedari dulu Bian memang anak kesayangan. Meski selama ini kakak-kakak lelakinya lah yang paling sibuk mengurusi perusahaan, tapi perhatian dan keistimewaan Bian di mata ayah dan mama mereka tak pernah berpaling. Bahkan dalam pembagian saham perusahaan, Bian selalu mendapat yang tertinggi dan posisi paling krusial. Itulah yang masih menjadi pertanyaan bagi saudara-saudaranya yang lain bahkan seluruh keluarganya tentang sikap orangtua mereka itu yang seakan pilih kasih.
"Kau adalah kesayangan kami, kau spesial!" Begitulah kalimat yang sering kali terlontar dari mulut ayahnya setiap kali dia menunjukkan rasa sayangnya kepada Bian. Bian memang spesial, anak bungsu mereka itu bukanlah anak yang biasa saja. Sejak lahir dia sudah berjuang hidup karena kehamilan mamanya saat itu memasuki usia rentan, sehingga berkali-kali Bian bahkan di sinyalir tidak mampu bertahan di kandungan mamanya, namun Bian justru lahir dengan sehat. Berdasarkan cerita orangtua dan para kerabat, saat mengandung Bian, perusahaan langsung melejit pesat, bahkan saat kelahiran Bian-lah usaha keluarga sampai pada puncaknya. Saham keluarga Mahendra naik dan berhasil dalam berbagai bidang usaha yang di geluti.
Bian anak emas! Pembawa hoki!
Bian kecil juga sangat lincah, dia cerdas dan tak pernah mengecewakan orangtuanya. Bian tumbuh di lingkungan yang mensupport semua bakat dan keahliannya. Berbagai olimpiade dan prestasi olahraga juga menjadi gengsi tersendiri bagi keluarga di mata para rekanan. Jika mereka tengah menbahas anak, maka Bian-lah yang menjadi andalan mereka. Bian mahir dan bersinar dalam banyak bidang, mereka bangga pada putera bungsu-nya itu. Sangat!
Saat Bian beranjak remaja, seperti kebanyakan remaja pada umumnya, dia memang sering terlibat kenakalan remaja. Seperti berkelahi, bolos dan lain-lain. Tapi, justru itulah yang membuat kedua orang tuanya menjadi terhibur, pasalnya semua perilaku Bian selalu di barengi dengan prestasi yang lainnya, hal itu membuat mereka memaklumi banyak kesalahan Bian.
"Kau tak pernah mengecewakan kami! Tetaplah menjadi Bian kami yang membanggakan!" Kata ayahnya suatu kali saat Bian di hukum skors karena berkelahi untuk membela temannya yang di bully.
"Kalau aku berubah, yah?" Tanya Bian suatu kali. Sang ayah tersenyum lebar.
"Kau akan tetap istimewa selamanya!" Seru sang ayah. Kepercayaan kedua orangtuanya itulah yang mengiringi Bian hingga dewasa dan menjadi sosok yang mempuni dalam bisnis. Hampir semua hal yang di percayakan kepadanya selalu berbuah manis!
Semua kolega akan bertanya kepada saudara-saudaranya tentang Bian apabila dalam pertemuan bisnis, dia tidak di libatkan.
Bagaimana bisa saudara-saudaranya itu tak cemburu?
Para kolega bisnis memilih tertarik pada Bian, bahkan para musuh bisnis mereka segan pada kecerdasan putera bungsu keluarga Mahendra itu. Dia cerdas! Mempesona ! Sekaligus tak terkalahkan!
Tapi, sejak Bian mengenal Mihrimah, perlahan fokus Bian mulai teralihkan. Baginya dunianya kini adalah Mihrimah! Wajar saja seluruh keluarganya menjadi kecewa, apalagi orangtuanya. Bian berubah banyak!