A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
DUA PULUH (END)



Bian mengemas beberapa lembar pakaiannya ke dalam koper yang ada di dalam apartment. Dia juga memasukkan beberapa potong pakaian yang sengaja baru di beli ajudannya atas perintah Bian. Memang beberapa ajudannya sudah berpaling darinya dan menuruti perintah mamanya, namun beberapa ajudan setianya tetap di sisinya. Dia tidak ingin lagi menunda-nunda waktu.


Handphone Mihrimah berbunyi, ayahnya memanggilnya di telepon.


Kau di mana?


Mihrimah kemudian terpaku sambil memandangi layar ponselnya.


"Jangan lagi kau balas! Mulai sekarang semua tentangmu di bawah tanggungjawabku!" Ucap Bian yang memang sudah mengetahui dengan jelas melalui laporan para ajudannya tentang ayah Mihrimah yang tidak tahu diri.


"Kita mau ke mana?" Tanya Mihrimah


"Kawin lari!" Jawab Bian yakin. Mihrimah menarik tangan Bian yang sudah hendak beranjak dari situ. Dia menahan lengan Bian agar dia berhenti.


"Kau serius??" Tanya Mihrimah dengan wajah tidak percaya.


"Tidak ada yang bisa menghalangi kita. Tidak keluargaku ataupun ayahmu. Aku tidak peduli!" Ucap Bian dengan sungguh. Dia sudah tidak lagi peduli dengan apapun, selagi dia bisa bersama Mihrimah, dia merasa akan baik-baik saja.


Tak berapa lama, seorang ajudan datang di ikuti oleh seorang lagi dari belakang.


"Tuan, ini beberapa dokumen saham perusahaan milik tuan dan juga surat aset-aset berharga. Ini kuasa hukum yang sudah saya siapkan untuk memegang amanah tuan." Ucap salah seorang ajudan yang sedari awal memang selalu membuntuti Bian. Mihrimah kebingungan, dia kemudian di ajak Bian untuk ikut duduk di kursi sesaat setelah kuasa hukum datang beserta ajudan kepercayaan Bian.


"Tanda tangan di sini, nyonya."Pinta kuasa hukum itu kepada Mihrimah. Mihrimah semakin bingung.


"Tanda tangan, cepat!!" Bian mendesak Mihrimah. Dengan masih berwajah bingung, Mihrimah akhir ya membubuhkan tanda tangan banyak sekali di beberapa lembar kertas berisi alinea-alinea yang panjang. Dia tidak sempat membaca isinya apa, Bian segera merebut dokumen itu dan bergegas bergantian membubuhkan tanda tangannya.


Selesai!


"Segera akan saya sebarkan ke forum mengenai pertemuan kita ini, tuan. Saya akan mewakili tuan untuk menghadap, tuan dan nyonya tidak perlu cemas." Ucap kuasa hukum itu sambil membungkukkan badan kepada mereka berdua. Mihrimah semakin kebingungan, dia mengerutkan alisnya karena tidak memahami kejadian barusan.


"Apa itu?" Tanya Mihrimah polos.


"Surat kuasa." Jawab Bian santai.


"Kuasa apa?" Balas Mihrimah makin tidak mengerti. Dia menatap Bian lekat-lekat mencari jawaban yang pasti tentang hal itu.


"Kau sudah resmi menjadi satu-satunya pewaris semua harta dan saham perusahaan yang atas namaku. Mulai sekarang tidak akan ada yang bisa menyingkirkanmu lagi, karena kau sudah menggantikan diriku." Balas Bian puas.


Mata Mihrimah membelalak, mulutnya menganga, dia serasa tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Apaaa????"Mihrimah melotot. Suaranya melengking karena sudah di luar nalarnya.


"Iya. " Bian tersenyum santai, seperti tidak ada kejadian apa-apa.


"Kau sudah gila?" Tanya Mihrimah semakin keheranan dengan tingkah Bian.


"Aku serius. Dan aku masih waras." Balas Bian lalu menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dengan wajah tenang.


"Kita belum menikah! Aku bukan siapa-siapamu. Kenapa kau membahayakan semua milikmu di tanganku??" Tanya Mihrimah denga ekspresi tidak percaya.


"Kita akan menikah. Kita akan kawin lari karena sekarang semua urusan tadi sudah beres, dokumen itu akan segera sampai kepada mereka semua termasuk keluargaku. Dan aku tidak merasa kau berbahaya Rima, sejak kapan kau berbahaya untukku? Apa kau beracun? Kau ular ? Jika kau ular beracun, aku punya penawarnya." Kata Bian sambil sengaja meremas pinggul Mihrimah dengan sambil tersenyum nakal. Mihrimah sampai terkejut dengan kelakuan Bian itu.


"Kau..." Mihrimah kehabisan kata-kata.


Bian tertawa lebar, dia kemudian memanggil ajudan di luar untuk mengangkat tas-tas dan koper mereka ke dalam mobil. Dalam sekejap mata semua sudah beres, mereka naik ke mobil lalu pergi dari situ.


Semua orang gempar, keluarga dan para petinggi perusahaan sibuk saling menghubungi dan mencoba menelpon Bian berkali-kali, terlebih kedua orangtuanya.


Harga saham perusahaan mendadak seperti roller coaster, beberapa turun namun ada juga yang justru naik karena imbas hal itu. Apalagi setelah tahu pemimpin selanjutnya adalah calon istri Bian. Sementara di tempat lain, Bian sudah bersiap-siap dengan Mihrimah menuju ke sebuah tempat yang akan meresmikan hubungan mereka selamanya.


"Selesai, kalian resmi suami istri." Ucap pemuka agama yang sudah menjadi saksi dan meresmikan hubungan mereka menjadi Mr and Mrs. Bian meraih kedua sisi wajah Mihrimah lalu mengecup bibirnya dalam sekali.


"Kau harus menurutiku mulai sekarang, Mrs Bian Mahendra. " Ucap Bian sambil memandangi wajah Mihrimah yang tampak cantik dengan riasan sederhana.


"A...a...ku..."Mihrimah terbata-bata, bibirnya kelu. Kejadian ini begitu cepat dan singkat . Tiba-tiba dia kini sudah berubah status menjadi nyonya Bian Mahendra. Air matanya tumpah, dia bingung saat ini perasaannya seperti apa. Apakah dia senang ataukah dia sedih karena kebingungan, tapi yang pasti dia memang tidak ingin berpisah lagi dari Bian.


"Apa kita akan baik-baik saja?"Tanya Mihrimah lugu. Bian mengecup keningnya dan memeluknya erat.


"Aku akan menjagamu, kau akan menjagaku. Selama kita berdua bersama, kita pasti akan baik-baik saja. " Kata Bian menyakinkan. Mihrimah mengangguk percaya dengan ucapan Bian barusan dan akan selalu percaya dengannya.


Mereka kemudian masuk ke sebuah rumah yang tidak berapa jauh dari situ, rencananya mereka akan tinggal sementara di situ sampai semua situasi yang bergejolak kembali tenang. Ponsel mereka berdua bahkan sengaja di matikan.


"Ayo, masak untukku, sekarang kau sudah resmi jadi milikku, Ah..." Ucap Bian sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang empuk.


"Kau..." Suara Mihrimah terhenti, dia tidak berani lagi untuk meneruskan.


"Kenapa? Kau sudah mulai takut membantahku seperti biasa, ha ...ha ...ha?" Tanya Bian sambil tertawa karena melihat Mihrimah yang sudah tidak nyolot lagi dengannya.


"Biasa aja... !" Mihrimah menyembunyikan ekspresinya agar tampak biasa saja meski sebenarnya dia memang mulai segan membantah suami barunya itu.


"Istriku..." Bisik Bian yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya dan memeluknya dari belakang.


"Kau..." Suara Mihrimah lagi-lagi terhanti dan melembut.


"Ha...Ha...Ha... Tuan Bian Mahendra sekarang sering salah tingkah,ya?" Ledek Bian dengan sengaja. Mihrimah memasamkan wajahnya mendengar perkataan Bian barusan.


"Panggil aku suamiku. Coba, aku ingin dengar..." Pinta Bian menggoda.


"Apa?? Jangan macam-macam ya permintaannya!" Keluh Mihrimah.


"Cepat!" Bian mempertegas suaranya agar menakuti istri barunya itu.


"Su...su...suamiku..." Ucap Mihrimah ragu.


Bian menyunggingkan senyum lebar, dia puas.


"Masaklah untukku istriku. Ha...haa....haa.." Tawa Bian lepas, dia lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Gejolak perusahaan masih terjadi hingga beberapa bulan, tapi Bian dan Mihrimah tidak terlalu perduli. Sesekali ajudan kepercayaan mereka melaporkan situasi terbaru kepada Bian. Keluarga Bian pun sibuk mencarinya, namun mereka belum ingin muncul ke permukaan.


"Aku akan terus di sisimu, memastikan semua baik-baik saja untuk kita, Mrs Bian Mahendra. Isi kontrak perjanjian pernikahan kita sekarang harus berubah." Ucap Bian lembut.


"Apa?" Tanya Mihrimah pelan.


"A,B,C,D I LOVE YOU." Ucap Bian sambil berbisik ke telinga Mihrimah yang bersandar di dadanya sambil tiduran malam itu.


Mihrimah menatap kedua mata Bian sangat dalam lalu tenggelam dalam dekapan hangat Bian sampai pagi.


Aku mencintaimu, My CEO


The End.