A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 7



Sementara di bawah kaki bukit, Mihrimah sudah tiba duluan dan menunggu para tim pencari yang akan melanjutkan pencarian pagi ini. Titik embun yang terasa pekat masih menyelimuti perbukitan pagi itu. Satu per satu tim penyelamat dan beberapa warga yang datang mulai memenuhi sekitar kaki bukit.


Sebuah mobil sedan mewah mendekat ke arah kerumunan dan parkir di situ.


"Untuk apa kau di sini! Kau tidak berguna!" Seperti biasa, begitu mama Bian melihat kehadiran Mihrimah di sana, dia tidak senang. Wajahnya langsung berubah arogan. Wanita paruh baya itu masih sangat dendam kepada Mihrimah, baginya Mihrimah tak lebih dari seorang penganggu, boro-boro menganggapnya sebagai menantu, untuk melihat wajahnya saja dia merasa geli.


Wajah Mihrimah sendu mendapat perlakuan seperti itu, dia berusaha menahan dirinya sekuat mungkin agar tidak menangis di depan banyak orang. Kini tak ada yang berpihak padanya, hanya para ajudan setia Bian yang masih mendampingi dirinya.


"Nyonya tidak apa-apa,kan?" Tanya sang ajudan begitu melihat Mihrimah tertunduk sedih. Mihrimah mengangkat kepalanya yang tadi terlanjur menunduk.


"Aku tidak apa-apa..." Balas Mihrimah agar para ajudan itu tidak mencemaskannya.


Sebuah helikopter sudah lepas landas untuk melanjutkan pencarian. Hembusan angin terasa begitu kuat saat heli melintas di atas mereka. Mihrimah tak henti-hentinya berdoa, dia ingin suaminya lekas kembali dalam keadaan baik-baik saja. Sekitar kira-kira sejam lebih pencarian dengan heli belum juga menunjukkan hasil apapun. Bian seakan menghilang begitu saja di telan bumi, tanpa jejak.


Kini lutut Mihrimah sudah lemas, dia patah arah. Titik air mata membasahi sudut matanya.


"Kau tega! Kau jahat!" Keluh Mihrimah kepada suaminya yang entah berada di mana. Mihrimah merasa di tinggalkan, dia kini tak punya siapa-siapa.


Mama Bian histeris, dia mengamuk dan menunjuk-nunjuk wajah pemimpin tim pencari dengan geram.


"Tidak becus kalian! Tidak berguna!" Maki mama Bian dengan berteriak. Suasana kalut kini menguasai pikiran mereka semua, entah bencana apa yang kini menimpa keluarga Mahendra. Berita mengenai pencarian Bian sudah memenuhi layar Tv dan juga tercetak di surat kabar. Bahkan sosial media turut serta mengabarkan hal ini, keluarga Mahendra memang terkenal di mana-mana. Tapi, kini berita itu adalah yang paling membuat nama besar Mahendra menjadi buah bibir.


Hari mulai gelap, beberapa warga yang turut menelusuri puncak bukit, hingga ke lembah bukit tidak juga menemukan apapun. Heli sudah tidak lagi mengitari kawasan itu, cuaca sangat buruk karena mendadak awan hitam menyelimuti tempat itu. Rintik hujan perlahan mulai turun.


"Naik! Naik!" Teriak ketua tim dan beberapa orang lainnya agar mengisyaratkan para pencari untuk berhenti sejenak. Air di lembah bukit nampak kembali banjir, hal itu membuat kawasan itu jadi rawan longsor dan berbahaya jika di paksakan untuk di lanjutkan pencarian. Ketua tim melaporkan bahwa pencarian kembali di tunda, mama Bian pasrah, dia sudah kehabisan tenaga dan daya karena emosinya terkuras semua.


Mihrimah berlutut di tanah, kakinya lemas. Kerumunan orang langsung berpencar mencari teduhan saat hujan semakin deras turun ke bumi.


"Nyonya, ayo kita pergi dari sini. Kita masuk ke mobil dulu." Ajak ajudan saat melihat istri majikannya itu tidak bergeming dari situ.


"Aku ingin mati saja....aku ingin mati!" Teriak Mihrimah yang langsung histeris, jiwanya bergetar, dia merasa Bian tidak sepantasnya meninggalkannya sendirian. Seharusnya dia ikut terjatuh kala itu!


Para ajudan begitu iba melihat Mihrimah dalam kondisi terpuruk, mereka menarik tangan Mihrimah dan memapahnya masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil seorang ajudan menyodorkan handuk, namun tidak ada respon apapun dari Mihrimah. Tatapannya masih saja kosong, dia tak lagi berdaya.


Hari mulai gelap, kawasan itu mulai sepi. Mobil yang membawa Mihrimah pun perlahan meninggalkan tempat itu menuju ke arah kota.


"Nyonya, sebaiknya nyonya kembali saja ke apartment, biar kamu saja yang mematau perkembangan dari pencarian ini. Kasihan nyonya kalau harus ikut ke sana lagi. Nyonya harus istirahat, kalau ada perkembangan lebih lanjut mengenai tuan Bian, kami pasti akan segera melapor. "Kata seorang ajudan saat mobil mengarah ke jalan menuju apartment.


Bibir Mihrimah terkunci rapat, entah apa yang harus dia ucapkan. Untuk menolak saran itupun dia tak sanggup. Tapi jika harus berada di sana dan menyaksikan sendiri getirnya dan pilunya pencarian Bian yang belum membuahkan hasil apa-apa, dia juga tidak sanggup. Dia ingin melompat saja ke jurang dan ikut hilang bersama Bian. Pikirannya itu sudah kacau, tidak lagi bisa berpikir logis.


Mobil sudah sampai di parkiran apartement. Para ajudan mengantar Mihrimah sampai ke depan pintu apartment. Satu orang tetap menjaga Mihrimah dan siaga di apartment sedangkan yang lainnya kembali ke kawasan bukit.


Tubuh Mihrimah yang tadinya basah sudah mulai kering dengan sendirinya, dia merasa badannya mulai tidak enak karena terkena hujan. Dengan langkah yang melemah dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mihrimah melamun di depan kaca kamar mandi, dia menatap wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi karena tragedi yang menimpanya itu.


Seorang ajudan yang tadi berjaga di depan pintu memencet bel dari luar dan menunjukkan wajahnya di depan kamera pintu masuk.


"Nyonya, ini makanan. Nyonya makanlah dulu." Kata sang ajudan sambil mengangkat sebuah bungkusan berisi makanan. Mihrimah membukakan pintu lalu mengambil bungkusan itu.


"Makasih, kau makanlah juga, jangan lupa makan juga." Balas Mihrimah lalu kembali menutup pintu. Makanan itu dia letakkan di meja, memang dia mengambil bungkusan itu hanyalah demi formalitas. Agar ajudan itu tidak bertambah cemas saat menjaga dirinya. Mihrimah enggan untuk makan, dia tidak bisa makan apapun kalau pikirannya sedang kacau. Dia bahkan tidak merasa haus apalagi lapar. Dia hanya ingin lekas bertemu dengan suaminya, hanya itulah satu-satunya yang dia inginkan saat ini.


Mihrimah yang sudah berganti pakaian menggunakan pakaian tidur terduduk di atas sofa. Hari sudah larut, belum ada perkembamgan kabar dari para ajudan yang masih berada di kawasan perbukitan. Hal itu membuat air mata Mihrimah kembali mengalir, mata sembabnya sudah terasa pedas karena terus menangis. Isak tangisnya bahkan samar-samar terdengar hingga ke depan pintu apartement. Sang ajudan yang mendengar merasa ikut teriris perasaan karena tangisan istri majikannya itu, namun tak tahu harus berbuat apa selain menunggu laporan terkini dari para ajudan yang lain.


Malam itu langit terlalu gelap tanpa bintang atau bulan. Hujan juga bersambut dengan petir seperti enggan berhenti walau sejenak. Mihrimah terus menerus menangis meratapi nasibnya kini di tengah derasnya hujan dan dasyatnya suara petir di langit.


"Kau harusnya mengajakku juga! Kau harusnya membawaku juga!" Gumam Mihrimah lirih dengan isak tangis yang memilukan.