A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 11



Dengan raut wajah terpukul, Mihrimah mendekat ke arah Bian. Dia seperti mencari jawaban akan pertanyaan Bian barusan.


"Kau tak mengenaliku?"Tanya Mihrimah pelan. Bian menggeleng yakin, dia menunjukkan ekspresi wajah terganggu akan kehadiran Mihrimah.


"Apa kau tahu di mana aku sekarang? Aku harus kembali ke kampungku di bawah bukit, ada seseorang yang menungguku...." Kata Bian dengan suara pelan.


"Siapa?"Tanya Mihrimah terpukul.


"Dinara...." Jawab Bian.


Sontak nama yang barusan Bian sebutkan membuat jantung Mihrimah seperti sedang di tikam pisau. Dia tak bisa berbohong kalau hatinya sangat sakit saat ini. Bagaimana bisa Bian melupakannya? Bagaimana bisa Bian menyebut nama wanita lain dengan entengnya.


Mata Mihrimah berkaca-kaca, tatapannya nanar.


"Kau sama sekali tak kenal aku?" Tanya Mihrimah entah untuk keberapa kalinya. Bian masih yakin menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kau siapa? Siapa namamu?"Tanya Bian penasaran.


"Aku Mihrimah...." Dengan sekuat tenaga menahan gundah di dadanya Mihrimah mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Ameer...." Jawab Bian menyebut sebuah nama yang terdengar asing di telinga Mihrimah.


Jelas sudah....


Bian tak lagi mengingat dirinya, dia bahkan tak ingat namanya. Nama Ameer kini dia yakini sebagai jati dirinya yang baru.


Mihrimah tak mampu mengacaukan suasana dan menuntut hak nya dalam ingatan seorang Bian. Dia tak mau Bian tertekan sekarang lalu menjauhinya.


"Siapa wanita yang menunggumu itu?"Tanya Mihirmah penasaran. Meski hatinya sudah sangat sakit, dia berusaha tampak sewajarnya kala menanyakan hal itu kepada Bian.


"Wanita yang sudah menolongku, dia sangat spesial." Terang Bian dengan wajah sedikit berbinar kala menyebut wanita yang kini tengah dia kagumi itu.


Mendengar pernyataan Bian barusan, bertambah-tambahlah rasa sakit hati dan sesak yang merasuk di hati Mihrimah. Bibirnya tiba-tiba kelu, tak mampu lagi mengucapkan sepatah katapun. Dengan perlahan dia meninggalkan ruangan Bian tanpa mengucapkan apapun, dan Bian, suaminya itu hanya memandanginya saja berlalu dari hadapannya.


Mihrimah terpukul, sesampainya di luar ruangan, air matanya yang sedari tadi si tahannya akhirnya luruh juga. Sang ajudan merasa iba dan sudah tahu kalau apa yang didapati Mihrimah di dalam pastilah suatu hal yang kurang baik.


"Sabar nyonya, nyonya harus kuat." Hibur sang ajudan saat Mihrimah menangis di hadapannya.


"Dia bahkan tak ingat namanya, apalagi dengan aku... Dia lupa segalanya, dia melupakan kita." Ucap Mihrimah dengan nada putus asa.


"Tuan Bian pasti akan segera mengingat nyonya lagi, nyonya harus yakin. Tuan Bian sangat mencintai nyonya. " Kata sang ajudan masih berusaha mengembalikan semangat Mihrimah. Mihrimah menggeleng pelan, meski kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut ajudan itu sangatlah mendukung dirinya, namun hatinya terlanjur patah.


"Bawa aku kembali ke rumahku. Untuk sementara aku akan di situ saja, aku tak bisa tinggal lagi di apartment itu...." Pinta Mihrimah.


"Tapi nyonya...." Suara sang ajudan terputus kala melihat ekspresi wajah Mihrimah yang memelas.


"Baiklah nyonya, tapi saya mohon nyonya tetap mengijinkan saya untuk memantau nyonya, anggaplah ini sebagai bakti saya kepada majikan saya." Kata sang ajudan dengan suara yang ikut sedih.


"Terimakasih banyak...." Balas Mihrimah sendu.


"Pak, apa saya bisa minta saran?"Tanya Mihrimah tiba-tiba kepada sang ajudan yang masih menyetir mobil.


"Iya nyonya...."Balas sang ajudan.


"Bagaimana dengan saham yang Bian titipkan ke saya? Apa saya kembalikan semua ke keluarganya?" Tanya Mihrimah lugu.


Ciiiittttt!!!!


Mobil tiba-tiba mengerem mendadak. Sang ajudan kaget akan pertanyaan majikannya barusan.


"Jangan nyonya! Itu berbahaya, tuan Bian tak pernah cocok dengan keluarganya. Nyonya harus mempertahankan hak tuan Bian yang dititipkan ke nyonya. Saat ini tuan Bian begini karena kehilangan ingatannya. Tunggulah sampai tuan bisa mengingat semuanya lagi nyonya." Kata sang ajudan dengan suara cemas.


"Bagaimana aku bisa memegang haknya sedangkan dia tak mengenalku?"Mihrimah masih meragu.


"Tuan Bian lupa ingatan karena musibah nyonya, tapi saat tuan Bian menitipkan amanah itu kepada nyonya, beliau sadar sepenuhnya. Itu yang harus nyonya pegang teguh...."Jawab sang ajudan bijaksana.


Mihrimah mengela nafas, dia bisa menerima saran dari ajudan itu.


"Sudah berapa lama bapak ikut dengan Bian?"Tanya Mihrimah kepada sang ajudan yang memang sejak awal selalu siap sedia dengan setia melayani Bian.


"Saya adalah kakak kelasnya. Dulu ibu saja bekerja untuk keluarga Mahendra, tapi sejak ibu saya meninggal, sayalah yang kemudian bekerja dan ikut dengan tuan Bian. Beliau bagi saya bukan hanya sekedar majikan, tapi juga teman...." Jelas sang ajudan dengan wajah mengenang masa lalu.


"Sudah lama sekali ternyata, pantas saja anda selalu membela Bian." Ucap Mihrimah.


Sang ajudan mengangguk pelan, lalu kembali melanjutkan menyupir mobil.


"Kita makan dulu, ini sebagai ucapan terimakasih saya kepada anda...." Kata Mihrimah dengan ramah, berkat sang ajudan-lah dirinya masih bisa bertahan dalam kemelut besar seperti sekarang ini. Meski kadang hampir menyerah, tapi berkat sang ajudan setia itulah semua masalah seakan bisa dia atasi.


"Baik nyonya." Balas sang ajudan bersemangat karena Mihrimah memang mau mendengarkan sarannya.


Mobil pun berbelok menuju ke sebuah restoran yang dulu sering sang ajudan dan Bian datangi.


"Kita makan di sini saja nyonya, ini tempat kesukaan tuan Bian sejak dulu. Waktu itu tuan Bian sempat bilang ke saya mau ajak nyonya ke sini, tapi belum sempat karena kesibukannya. Sekarang biarlah kita berdua dulu yang makan di sini, supaya nyonya tahu bahwa memang benar setiap saat dalam kondisi apapun tuan Bian selalu mengingat nyonya, menceritakan nyonya." Ujar sang ajudan.


Mihrimah tersenyum, meski senyumannya belum sepenuhnya lega. Dia hanya berpegang teguh pada kepercayaan sang ajudan bahwa Bian selalu mengingatnya dan memikirkan dirinya.


Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran itu dan duduk di kursi depan. Pelayan restoran menghampiri mereka dan menunjukkan buku menu yang sudah di bawanya.


"Mau pesan apa nyonya?"Tanya sang pelayan dengan senyum keramahannya.


"Saya mau pesan menu yang biasa di pesan suami saya...." Kata Mihrimah. Sang pelayan mengerutkan kening, belum paham.


"Maaf nyonya, kalau boleh tahu siapa ya suaminya?"Tanya sang pelayan ramah.


"Bian Jonas Mahendra." Jawab Mihrimah dengan senyum ramah juga.


"Oh... Baik nyonya Mahendra, siap...." Sang pelayan spontan membungkuk kala mengetahui tengah berhadapan dengan istri tuan Mahendra.