A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 1



Bian menoleh ke sebelahnya setelah teriknya matahari membangunkannya. Tubuh Mihrimah yang masih belum berbalut pakaian, terlihat sangat indah saat pantulan matahari punggungnya.


Perlahan Bian mengecup punggung istrinya itu berkali-kali dan berusaha membangunkannya.


"eemmhhhh...." Terdengar suara Mihrimah mengeluh dan mulai bangun dari lelapnya.


"Kau sangat cantik."Bisik Bian ke telinga Mihrimah. Dengan tersenyum tipis, Mihrimah membuka satu matanya dan melihat Bian sudah memandanginya dengan tatapan penuh gairah.


"Kau juga sangat tampan tuanku...." Rayu Mihrimah sambil terus tersenyum. Bian mendekatkan bibirnya ke bibir Mihrimah, dia mengecup bibir istrinya itu sangat lama, terlalu bergairah!


Nyaris saja terjadi ronde pergulatan kedua, Bian masih tergila-gila dengan Mihrimah, istrinya yang baru di nikahinya sebulan yang lalu.


"Kau tidak capek?"Tanya Mihrimah sambil menggelitik pinggang Bian, dengan kegelian Bian masih mencoba menggoda istrinya itu dan ingin bermesraan lagi.


Mihrimah tertawa karena adegan menghindarnya dari Bian. Mihrimah langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan membawa selimut yang menutupi tubuhnya, tinggalah Bian yang tampak terbaring dengan senjatanya yang sudah mulai tegang.


"Sini...." Kata Bian sambil melirik Mihrimah manja. Mihrimah dengan cepat menggeleng.


"Tangkap aku kalau kau bisa.... Ha ha ha."Tawa Mihrimah meledak, sementara Bian sedikit kesal karena wanitanya itu mencoba bermain-main dengan gairahnya. Tak mau menyerah, Bian menyusul istrinya yang sudah setengah berlari ke ruang tv.


Bian menarik selimut yang menjuntai ke belakang saat Mihrimah berjalan, dan ....


Tadaaaa....


Selimut itu lepas seutuhnya, tubuh indah Mihrimah tersaji polos di depan mata Bian. Pria tampan itu mendekati Mihrimah yang sudah tersenyum nakal melihat suaminya mendekatinya.


"Mau ke mana kau Mrs Mahendra? Kau itu milikku...."Bian mendekap tubuh Mihrimah dengan mesra, keduanya berdekapan tanpa sehelai benangpun. Hal itu membuat mereka saling merasakan gemuruh di dada yang sudah nyaris meledak. Dengan cepat Bian menggendong istrinya itu kembali ke tempat tidurnya lalu mengerjainya hingga puas....


________"________


Mihrimah sudah di dapur, memanggang beberapa helai roti dari kulkas dengan teflon. Dia kelaparan, nyaris satu harian dia dan suami barunya itu bermesraan tak kenal waktu. Rasa lapar bahkan mereka berdua abaikan.


"Ahhh laparnya...." Kata Mihrimah saat bau roti bakar tercium jelas ke hidungnya. Dia lalu menaruh roti bakar seadanya itu ke sebuah piring keramik berwarna putih.


Mihrimah sudah berpakaian, dia sudah membersihkan dirinya dan wangi. Dia berjalan ke tempat tidur yang hanya beberapa langkah dari pantry tempat dia memanggang roti tadi.


Di lihatnya Bian yang masih terkulai tak bertenaga setelah melampiaskan semua hasratnya. Mihrimah mengelus punggung suaminya, Bian mulai bergerak dan perlahan bangun.


"Kau mau lagi?" Tanya Bian menggoda Mihrimah. Mihrimah tertawa lebar, Bian juga ikut tertawa.


"Kau gila? Bagunlah. Kita makan dulu." Ajak Mihrimah sambil terus mengelus suaminya itu.


"Isi tenaga lalu bermesraan lagi?"Goda Bian makin jadi. Mihrimah mencubit pipi suami tampannya itu, Bian mengaduh, namun tersenyum setelahnya.


Di meja makan, Bian yang hanya mengenakan celana pendek dan telanjang dada menatap istrinya itu.


"Kau masak apa Mrs Mahendra?"Tanya Bian dengan wajah yang bahagia.


"Roti panggang ala kadarnya, he he he..."Mihrimah tertawa lucu.


Bian mengambil sepotong roti lalu melahapnya dengan cepat, dia memang sudah kelaparan.


"Enak sekali, tapi tidak lebih darimu...." Komentar Bian.


"Lho? Memangnya aku roti?" Keluh Mihrimah dengan kesal. Bian tertawa melihat gerutu istrinya itu.


Apa yang lebih hebat dari rasa bahagia? Tidak ada.


Bahkan jika seluruh harta di dunia ku beli untukmu, itu tidak akan mampu menggantimu.


Aku akan menjadi apapun untukmu, apapun.


Bahkan jika kau minta kau tidak menjadi apapun, aku tidak akan menjadi apapun.


Asal itu maumu.....


Mihrimah membetulkan dasi Bian, dia sedikit jinjit karena memang postur tubuh suaminya itu lebih tinggi darinya.


"Kau pulang jam berapa sayang?"Tanya Mihrimah sambil merapikan dasi Bian yang sudah di ikatnya.


"Mungkin sebelum jam makan sore, malam ini kita makan di luar lagi. Kau tak perlu repot-repot masak."Kata Bian sambil mencubit kecil pipi istrinya itu. Mendengar hal itu Mihrimah senang, dia merasa Bian selalu berusaha untuk memanjakannya. Istri mana yang tak senang? Jika suami yang menikahinya selalu bersikap baik dan memanjakan istrinya?


"Aku pergi dulu, kalau mau belanja-belanja itu ada uang di laci. Pakai saja semuanya, kalau masih kurang tinggal gesek saja, ini...." Bian menyodorkan dua buah kartu yang keduanya sama-sama bisa di pakai belanja.


Mihrimah memeluk Bian dengan erat sekali. Dia tak bisa lagi mengucapkan terimakasih kepada suaminya itu karena selalu menghargai dirinya.


"Apa kau tak takut uangmu habis untukku?"Tanya Mihrimah menguji Bian.


Bian menggeleng, menatap ke istrinya itu dengan pandangan penuh cinta.


"Apa yang jadi milikku adalah milikmu. Aku tak mau kau kekurangan, aku bahkan bisa menyerahkan kepalaku ini jika kau mau...."Kata Bian sambil menunjuk ke kepalanya sendiri.


"Ssssttt.... Jangan sampai gitu donk...."Protes Mihrimah.


"Kenapa?"Tanya Bian.


"Nanti kau tiada, kalau Bian Jonas Mahendra tiada, bagaimana bisa diriku ini ada?"Kata Mihrimah pelan.


"Maksudmu?"Tanya Bian.


"Aku tak akan hidup, lenyap dari bumi jika kau kenapa-kenapa...." Ucap Mihrimah dengan wajah penuh keseriusan.


Bian mencubit lagi kedua pipi istrinya itu.


"Enak saja! Siapa yang mengijinkan kau hilang dari dunia ini? Biar ku hajar dia!" Kata Bian menggeram manja. Mihrimah tersenyum mendengar gurauan suaminya itu.


Mihrimah mengantar Bian sampai ke depan pintu, di depan pintu para ajudan setianya sudah menunggu. Begitu Bian berdiri di depan mereka, para ajudan langsung membungkuk untuk menghormati majikannya itu.


" Kita berangkat sekarang, tuan?"Tanya seorang ajudan.


"Iya." Balas Bian singkat, mereka langsung berlalu pergi. Mihrimah memandangi punggung suaminya itu hingga masuk ke dalam lift.


Setelah Bian berlalu, Mihrimah membereskan hunian mereka yang sudah berantakan karena adegan-adegan mesra dia bersama Bian. Mihrimah bahkan merasa malu jika harus mengingatny. Dia mengambil alat vacum di sebuah lemari lalu mulai membersihkan lantai. Dia juga mencuci piring-piring habis pakai dan menata-nya kembali ke lemari. Memang sudah beberapa kali Bian protes karena ingin apartment mereka di bersihkan oleh jasa cleaning saja. Tapi Mihrimah lagi-lagi menolak, baginya itu tidak terlalu penting, lagian dia bisa mengemas semuanya sendiri. Apalagi itu hanyalah sebuah apartment, meskipun sangat luas tapi Mihrimah tidak keberatan. Bahkan baju-baju pun beberapa tidak di loundry kecuali untuk beberapa bahan baju yang memang lebih rawan jika di cuci sendiri.


"Ahhh....lega...." Gumam Mihrimah saat melihat seisi apartment yang sudah kinclong dibuatnya. Dia tersenyum sendiri, dan bahagia bisa menjalani perannya sebagai istri dalam rumahtangganya.