A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
TIGA BELAS



Esoknya Bian menyuruh Mihrimah datang ke apartmentnya melalui pesan singkat yang di kirimnya setelah rapat selesai.


"Tolong beritahu ke semua, saya tidak mau di ganggu. " Kata Bian sembari masuk ke dalam mobilnya dan kemudian mengendarai sendiri mobil itu tanpa supir. Memang dia sengaja tidak ingin di supiris waktu itu, baginya baik kerjaan atau siapapun termasuk supir akan berpotensi mengganggu urusannya dengan Mihrimah. Ya, sekarang dunianya sudah perlahan terfokus pada Mihrimah, dia bersemangat!


Mihrimah yang tidak mau di jemput ternyata sudah tiba duluan dan hanya berdiri di depan gedung apartment yang memang di awasi ketat. Bian kemudian menyuruh Mihrimah masuk ke dalam mobil, lalu menurunkan kaca mobilnya sedikit.


"Ingat wajahnya, kalau dia datang tolong beri akses langsung ke dalam apartment saya." Ucap Bian sesaat setelah berada di depan para penjaga. Para penjaga yang membungkuk sedikit menoleh dan memperhatikan wajah Mihrimah, hak itu membuat Mihrimah jadi tidak enak hati.


"Siap Tuan!" Ucap para penjaga yang kembali membungkuk untuk memberi hormat. Mihrimah berdecak kagum, dia keheranan. Sekuat itukah power seorang Bian? Pikirnya dengan wajah menerka-nerka.


Mereka sudah tiba di dalam hunian milik Bian. Baru saja Mihrimah masuk, Bian memeluknya dari belakang.


"Aku merindukanmu." Kata Bian bermanja.


Mihrimah langsung menoleh sedikit ke belakang dan melihat Bian sudah membenamkan wajahnya ke leher belakangnya.


"Eemmm, kita bahas dulu soal kesepakatan kita." Ucap Mihrimah berusaha mengendalikan suasana agar tidak mengarah ke hal lain. Bian tersenyum, dia kemudian duduk di sofa dan menyuruh Mihrimah duduk di sampingnya.


"Sini!" Ucap Bian sambil menepuk bantalan sofa untuk menyuruh Mihrimah duduk di dekatnya. Mihrimah menurut saja.


Setelah mereka duduk dengan jarak yang dekat, Bian meraih sebuah kertas putih di meja dan sebuah pulpen.


"Kita harus tulis sejauh mana kesepakatan kita." Ucap Bian yang mulai mengarah kepada pembahasan inti dari pertemuan mereka.


"Maksudnya?" Tanya Mihrimah.


"Begini, karena pernikahan ini sama-sama sudah kita setujui maka seharusnya kita punya sebuah kontrak tertulis yang mengikat kita. Misalnya hal-hal apa saja yang kita inginkan dalam pernikahan ini serta profit apa yang akan kita dapat jika pernikahan ini berlangsung. Ini juga berfungsi untuk melindungi hak dan membahas kewajiban kita di dalam pernikahan ini. Kalau salah satunya melanggar ya... Konsekuensinya bisa berakhir." Ucap Bian dengan bahasa yang lugas seperti sedang memimpin rapat.


"Baiklah."Ucap Mihrimah singkat. Dia merasa memang lebih baik semua yang akan terjadi tertulis hitam di atas putih demi keamanan dan kenyamanan bersama.


**Perjanjian.


A. Pernikahan berlangsung tanpa paksaan,kedua belah pihak tidak boleh menuntut lebih dari yang seharusnya. Harta bawaan tetap menjadi milik masing-masing.


B. Tidak boleh mengekang satu sama lain karena sebelum adanya pernikahan kedua belah pihak sudah punya kehidupan masing-masing.


C. Memiliki hak dan kewajiban. Suami membiayai seluruh kepentingan rumahtangga termasuk kesenangan dan kebahagiaan istri. Istri bersedia menuruti suami selagi masih dalam batas kewajaran.


D. Pernikahan berlangsung selama kedua belah pihak sepakat dan bisa bubar sesuai dengan kondisi yang tidak lagi memungkinkan.


Ttd. Ttd.


Mihrimah. Bian.


"Oke, sekarang kita bahas hak-ku. Aku tetap mau 70 juta perbulan di kirim setiap awal bulan." Kata Mihrimah


"Emm... Kau? Apa yang tuntut dariku?" Tanya Mihrimah setelah dia mengutarakan keinginannya.


Bian menatapnya dalam, memandangi seluruh tubuh Mihrimah dari atas hingga bawah. Dia kemudian duduk tegak dari sandaran sofa. Menghela nafas sekali lalu meraih


"Apa yang kau gugupkan? Bukankah kau yang tanya apa mauku? " Kata Bian sambil menjalari wajah Mihrimah yang mendadak pucat pasi karena gugup.


"A.a...aku...Aku lapar! Ayo kita makan!" Kata Mihrimah memecah suasana yang sudah terlanjur aneh itu. Bian melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Mihrimah.


"Masaklah. Aku mau makan masakanmu." Suruh Bian dengan santai.


"Aku kan bilang makan, bukan masak!" Gerutu Mihrimah dengan wajah cemberut.


"Aku kan bilang makan, buka masak..." Bian meniru kalimat Mihrimah sambil meledek dengan wajah yang di buat-buat menirukan kemanjaan Mihrimah.


"AWWWWW!" Bian mengaduh, memegang dadanya yang barusan di cubit Mihrimah. Mihrimah menatap pria itu dengan geram, dia lalu tertawa sambil memandangi Bian yang ikut tertawa.


Akhirnya mereka berdua pun keluar untuk makan, sepanjang perjalanan Mihrimah tak henti menatap Bian. Kalau dengan Bian, dia bisa merasa takut sekaligus tenang. Pria itu memang istimewa. Mungkin memang hubungan mereka adalah sebuah perjanjian, tapi Mihrimah tidak menyadari kalau di dalam hatinya yang paling dalam perlahan nama Bian Jonas Mahendra mulai terukir dengan jelas.


"Jangan berdiri di belakangku." Ucap Bian yang kemudian langsung merangkul bahu Mihrimah agar berjalan beriringan di sampingnya. Beberapa ajudan yang datang mengikuti mereka dengan mobil berbeda langsung menempatkan diri di sisi kanan kiri dan juga belakang. Mihrimah masih merasa aneh dengan pengawalan seperti itu, dia belum terbiasa.


" Pesanlah." Kata Bian sambil menyodorkan buku menu ke depan Mihrimah. Mihrimah lalu membuka menu itu, dan mengerutkan dahinya karena tidak satupun dari menu yang tertera di kenalnya.


"Kau saja yang pesankan." Ucap Mihrimah ragu. Bian mengangguk, langsung paham.


"Ah.... Bagaimana bisa seorang gadis tidak terpana pada dirinya? Dia begitu gentelmen dalam setiap momen. Tampan, kaya dan tubuhnya itu ah... seksi. " Begitu isi hati Mihrimah saat memandangi Bian di depannya. Dia bahkan tidak menyangka pria itu mau menikah dengannya. Meskipun awal mula pertemuan mereka dirasanya sebagai sebuah bencana, namun kini keberadaan Bian justru menjadi tameng baginya dalam setiap kemalangannya.


"Ikutlah denganku pulang. Tinggal saja di apartment." Ajak Bian saat Mihrimah bersandar di bahunya karena kekenyangan. Mereka memang akhirnya pulang di supiri oleh salah seorang ajudan.


Mihrimah menggeleng, meski dia tahu mereka sebentar lagi akan menikah, tapi mereka belum resmi. Biar bagaimanapun Mihrimah merasa gengsi kalau harus merepotkan Bian. Dia tidak ingin aji mumpung walaupun Bian mengijinkan hal itu terjadi.


"Aku pulang saja." Jawab Mihrimah.


"Jadi kapan kau tinggal denganku? Lagian kita kan sudah...."


"Ssst...tunggulah." Mihrimah memotong ucapan Bian sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Bian.


Bian memanglah Bian, tidak bisa melihat kesempatan, dia mengecupi jemari Mihrimah sehingga membuat Mihrimah kegelian.


"Kau ini !" Mihrimah sontak mencubit pipi Bian yang selalu saja curi kesempatan untuk menggodanya.


Bian tersenyum lebar menahan tawa, dia benar-benar sudah terpikat pada gadis itu.


Setengah perjalanan ponselnya berdering berkali-kali.


"Kenapa gak di angkat?" Tanya Mihrimah yang menyadari Bian sengaja mematikan panggilannya.


"Gak penting." Balas Bian sambil memejamkan matanya dan memeluk Mihrimah yang bersandar di dadanya.


Di tempat lain, seorang wanita memegangi sebuah tespek ditangannya yang menunjukkan garis dua. Dia kemudian membanting ponselnya itu ke lantai, sambil mengacak-acak rambutnya raut wajahnya yang menggeram marah itu tampak sangat gusar.


"Awas kau Bian!" Ucapnya geram.