A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
SEBELAS



Bian meregangkan kedua tangannya ke atas, dia baru bangun. Tirai jendela di apartment nya tertiup-tiup angin yang lumayan kencang berhembus dari luar. Jendela kamarnya sedikit terbuka.


"BANGUN!"


Suara itu mengagetkannya.


"Apaan sihh... Buat kaget aja." Omel Bian sambil melirik Mihrimah yang sudah kembali rapi berpakaian.


"Antar aku pulang!" Pinta Mihrimah dengan suara memaksa.


"Ha ...Ha...Ha... Sekarang udah inisiatif sendiri, ya? Minta di antar." Jawab Bian bergurau.


"Cepatlahh... !" Mihrimah menutupi rasa malunya mengingat kejadian yang barusan dialaminya dengan Bian. Jika yang pertama adalah sebuah ketidaksengajaan pastilah yang kali ini berbeda, karena keduanya melakukannya tanpa pengaruh minuman keras.


Bian kemudian mengambil posisi duduk, dia membetulkan selimut yang sudah tidak sepenuhnya menutupi tubuhnya.


"Sini." Katanya sambil memberikan tanda lewat lirikan agar Mihrimah duduk di sampingnya.


Mihrimah menggeleng, untuk saat itu dia malu duduk di dekat Bian lagi.


"SINI!" Ulang Bian sengaja mengeraskan suaranya.


Mihrimah akhirnya menuruti.


"Dengar, mulai saat ini jangan pernah berpikir untuk menghindariku. Kau milikku!" Ucap Bian memberi cap bahwa Mihrimah sudah jadi miliknya.


"Sejak kapan? Sembarangan!" Ucap Mihrimah membantah. Bian mengangkat kedua alisnya bersamaan, ekspresinya penuh percaya diri.


"Lihat aja nanti. Mulai sekarang, sampai nanti, kau pasti tidak akan pernah lepas dariku." Ucap Bian, dia bangkit berdiri kemudian memakai boxernya dan langsung duduk di sofa panjang lalu menikmati sebatang rokok dan tak lupa segelas wine kesukaannya.


Mihrimah mau tak mau harus menunggu Bian dulu menyelesaikan momen santainya dan menunggu dia selesai mandi. Karena memang bukannya tidak bisa pergi sendiri untuk pulang, tapi tadi seperti waktu mereka masuk, untuk keluar dari sana tidak mudah karena akses apartment itu sangatlah privat.


"Ayo." Ajak Bian yang sudah selesai berkemas dan siap untuk mengantar Mihrimah pulang.


Mihrimah mengikuti langkah Bian di sampingnya, penampilan Bian sangat timpang dengannya. Pria itu tampak parlente, dengan jas hitam dan kemeja yang kancingnya di biarkan terbuka. Dia juga sering memakai kaca mata hitam seperti saat ini. Sepatu yang pasti harganya mahal selalu cocok dan padu dengan setelan pakaiannya. Dia tidak pernah memakai baju atau sepatu yang sama dua kali. Bian juga irit bicara dengan sekitarnya, dia tidak suka basa-basi, tapi saat dia berjalan, seringkali orang yang berpapasan dengannya langsung membungkuk ketika mengenalinya. SUPER !


Sedangkan Mihrimah? Ah... Sudahlah...


Mihrimah mendadak lesu dan tidak percaya diri melihat tampilan Bian yang semakin menawan. Dia berpikir pastilah dirinya ini akan jadi bahan ocehan dan kritikan nantinya kalau dia terus menempel kepada Bian. Dia berniat untuk menjauhi Bian, dia tidak merasa pas dengan Bian bahkan saat berdiri bersebelahan, dia merasa seperti pembantu.


Bian semakin menyadari gelagat Mihrimah yang menjaga jarak darinya, dia kemudian sengaja menarik bahu gadis itu agar merapat ke dirinya. Dia merangkul bahu Mihrimah di depan banyak orang yang mengenalinya. Dia tidak perduli!


"BIANNN!" Sebuah panggilan menghentikan langkah mereka yang sudah hampir masuk ke dalam mobil karena pintu sudah di bukakan oleh supir.


Seorang wanita dengan sepatu high heels mendekat meski Bian sengaja buru-buru mendorong Mihrimah agar lekas masuk.


"Kau mau kemana, tunggu dulu!" Wanita itu kemudian menarik tangan Bian, dan diapun gagal menghindar.


Ekspresi wajah Bian sangat kesal, dia tidak senang.


Mihrimah yang sudah masuk ke dalam mobil akhirnya keluar lagi.


"Ehh..? Siapa ini." Wanita itu sengaja menunjuk ke arah Mihrimah dengan ekspresi sedikit kaget.


"Kenalin aku..Mih..."


"Aduhh... Galak amat sih Mr. Mahendra... Ck... Ck... Ck..." Balas wanita itu dengan niat menyinggung.


"Masuk!" Perintah Bian agar Mihrimah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa? Aku mau di luar." Bantah Mihrimah. Bian langsung mendorong Mihrimah masuk ke dalam mobil tanpa kompromi dan menutup pintu mobil. Dia lalu memerintahkan supir untuk menjaga Mihrimah agar tidak keluar mobil. Sang supir langsung dengan sigap menjaga pintu.


Bian menarik lengan wanita itu menjauh beberapa langkah.


Mereka berdebat di sana dengan sengit. Bian nampak sangat emosional dan itu tampak dari ekspresi gerak tubuhnya dan mulutnya.


Bian akhirnya meninggalkan perdebatan itu setelah wanita di hadapannya itu mengacungkan tangan ke wajahnya, beberapa ajudan yang sedari tadi memantau dari mobil lain langsung buru-buru menghampiri tuannya itu untuk melindunginya ketika melihat perlakuan demikian. Bian mengangkat tangannya memberi kode agar membiarkan wanita itu dan menyuruh mereka segera meninggalkan tempat itu.


Mobil yang mereka naiki pun melaju meninggalkan tempat itu di ikuti oleh sebuah mobil lagi berisi para ajudan di belakang.


"Siapa?" Tanya Mihrimah setelah mobil melaju kencang.


Bian menghela nafas, dia berusaha menenangkan dirinya.


"Dengar, apapun yang terjadi, apapun yang kau dengar nanti di luaran sana, tolong pastikan kau hanya percaya padaku, tanyakan padaku dulu. " Begitu ucap Bian sambil meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Mihrimah. Bian benar-benar serius dengan ucapannya. Mihrimah hanya mengangguk, dia berharap semua akan baik-baik saja untuknya terlebih untuk Bian.


Mereka sudah sampai di depan rumah Mihrimah. Bian ikut turun dari mobil dan mengantar Mihrimah sampai ke depan pintu.


"Aku pulang dulu. Kau tidak perlu sibuk-sibuk memikirkan soal pekerjaan, mulai sekarang, kau bekerja denganku. " Kata Bian sesaat sebelum Mihrimah masuk ke dalam.


"Kerja denganmu? Jadi apa? Sebagai apa sedangkan bisnis mu saja aku gak tahu..." Balas Mihrimah yang berniat menolak.


"Aku kan sudah bilang namaku, Bian Jonas Mahendra. Tinggal cari saja di google, nanti muncul semua. Bisnis ku halal. Oke? Deal? Oke artinya Deal!" Bian menjawab sendiri pertanyaannya.


"What? No...no...!" Mihrimah menolak dengan tegas.


"Gajimu 30 juta sebulan." Ucap Bian tiba-tiba. Kedua mata Mihrimah membelakak karena kaget.


"Oh... Oke 50 juta? Gimana?" Tawar Bian lagi. Mihrimah semakin keheranan.


"Oke fine, anggap saja kau bekerja seumur hidup denganku, ku gaji 70 juta! Ini penawaran terakhir. Kalau tidak mau aku..." Kata Bian.


"Oke, DEAL!" Potong Mihrimah semangat. Kedua matanya melotot membayangkan bagaimana dia nanti akan kebanjiran uang karena di gaji sebesar itu oleh Bian.


Bian tersenyum senang, dia puas. Akhirnya Mihrimah setuju untuk bekerja dengannya dengannya, setiap hari!


"Dimana kantormu?" Tanya Mihrimah.


"Kantor? Ha...Ha...Ha...! Siapa bilang kau kerja di kantor?" Balas Bian tertawa lepas.


Mihrimah mengerutkan dahinya. Dia mulai bingung dia di rekrut Bian sebagai apa. Seharusnya dia bertanya dulu sebelum setuju, pasalnya pria di depannya ini selalu penuh intrik dan kejutan yang di luar nalar.


"SEBAGAI APA?!" Tanya Mihrimah tegas.


Bian menatap Mihrimah dengan tatapan penuh makna.


"ISTRIKU." Jawab Bian. Mihrimah melotot, dia tidak tahu kalau kini dia sudah membuat sebuah kesepakatan yang GILA.


"APA????" Suara Mihrimah meninggi.