A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 6



Mereka bertiga sudah tiba di rumahnya yang sederhana. Rumah itu bahkan cenderung hampir rusak di mana-mana. Beberapa tetes hujan keluar dari beberapa sisi atap yang bocor.


"Pelan-pelan pak." Kata si gadis saat bapaknya menurunkan orang yang terluka itu dan membaringkannya di atas dipan kayu di ruang tengah.


"Kasihannya.... Ambilkan ramuan obat di laci bapak. Kita harus segera hentikan pendarahannya." Ucap si bapak agar di anak mengambil obat tradisional yang memang biasa mereka pakai untuk pencegahan infeksi luka secara herbal.


Dengan tergesa-gesa gadis itu langsung masuk ke kamar bapaknya dan mengambil ramuan yang di maksud lalu menyerahkannya kepada bapaknya.


"Ini pak, siapa dia ya pak, kenapa bisa sampai terbawa arus sungai ke desa kita?" Tanya si gadis dengan wajah penuh kasihan.


"Mungkin terjatuh entah dari sisi bukti sebelah mana, lalu tergelincir masuk ke air. Kebetulan juga air sungai kecil itu lagi banjir jadi arusnya deras. Entah siapa dia ini." Kata si bapak menjawab.


Setelah ramuan di oleskan, mereka menyelimuti tubuh itu dengan selimut hangat.


"Biarlah dia istrirahat dulu di sinis, semoga lekas bangun. Kalau besok tidak juga bangun, kita harus langsung bawa naik ke atas supaya bisa di bawa ke rumah sakit." Kata di bapak menyarankan. Si anak mengangguk, tanda dia mengerti.


Kampung mereka itu memang terpencil, lumayan jauh dari kota dan terletak di bawah perbukitan yang terjal. Jika ingin ke kota maka harus naik dulu ke atas bukit dan menyusuri jalan setapak yang terjal dan penuh bebatuan.


Karena kondisi yang demikianlah beberapa penduduk di kampungnya itu jarang berobat ke kota dan lebih memilih menggunakan ramuan tradisional ketika sakit.


Kampung itu tidak dihuni oleh banyak orang, hanya terdapat sekitar 15 rumah dengan jarak yang agak berjauhan. Beberapa rumah sudah di kosongkan karena penghuninya pindah meninggalkan kampung itu dan mencari kehidupan yang lebih dekat dengan kota dan tidak terisolir seperti kondisi kampung mereka kini.


Si gadis dengan setia menjaga orang asing yang tak dia kenali itu dan sesekali mengompres keningnya agar tidak demam. Dengan saksama dia memperhatikan wajah pria itu dan terkesima. Pria itu sangatlah tampan. Meski beberapa cedera gores nampak di sisi wajahnya, namun tak dapat di pungkiri pria itu sangat tampan.


Bagaimana tidak? Pastilah tampan, karena pria itu adalah Bian.


Hampir tengah subuh, tubuh Bian bergerak sedikit demi sedikit. Terdengar suara meringis saat tubuhnya di gerakkan. Bian merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.


"Kau sudah sadar? Apa kau bisa mendengarku?"Tanya Gadis itu dengan penuh kecemasan. Bian tidak menjawab, matanya masih terpejam hanya bibirnya yang sesekali meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Hussshhh... Hushh.... Tenanglah... Kau aman di sini." Kata gadis itu sambil mengusap rambut Bian dengan lembut. Beberapa saat kemudian Bian sudah kembali tertidur dengan tenang. Si gadis masih setia di samping pria asing yang tidak di kenalinya itu. Jantungnya sesekali berdegup kencang, dia terkesima melihat ketampanan dan daya tarik pria di hadapannya itu.


Pastilah keluarganya saat ini cemas dan sibuk mencarinya. Begitu pikirnya dalam hati. Hujan perlahan kembali turun setelah sebelumnya sempat berhenti, cuaca dingin terasa menusuk ke kulit.


"Ahh? Gak bisa tidur pak, gak ngantuk. Kira-kira siapa ya pak laki-laki ini? Kasihan sekali bisa sampai tersesat di sini dan luka-luka." Tanya Dina dengan wajah prihatin. Si bapak mendekat ke sisi Dina, anak perempuan semata wayangnya itu.


"Gak tau juga bapak, gak mungkin ada orang asing berani datang ke tempat kayak gini kalau gak orang sini, bapak curiganya laki-laki ini nyasar ke sini. Tapi kenapa bisa terbawa arus air ya? Apa jatuh?"Tanya si bapak kebingungan.


"Tapi pak, seandainya dia jatuh sampai ke bawah lalu terbawa arus air, keajaiban betul ya pak, dia masih selamat." Kata Dina menimpali. Si bapak mengangguk, memang kalau melihat letak kampung mereka yang berada di bawah bukti terjal, sangatlah mustahil kalau ada orang yang bisa terjatuh dan selamat apalagi sempat terbawa arus sungai yang tengah banjir tadi. Dina menggeleng-gelengkan kepalanya, sunggu memang pria di hadapannya itu masih di lindungi Tuhan dan mendapatkan keajaiban karena masih bisa selamat seandainya memang dia terjungkal jatuh dari atas bukit. Tapi untuk apa dia sampai naik ke atas bukit? Ah... Entahlah.


Hari sudah menjelang pagi, suasana kampung tampak lengang karena memang begitulah kondisi kampung mereka. Beberapa warga kampung yang mendengar berita dari mulut ke mulut bahwa ada pria asing yang masuk kampung dengan kondisi terluka parah lantas berdatangan ke rumah Dina.


"Siapa ya Din? Kasihan betul...." Kata para tetangga sambil mengelilingi tubuh Bian, sementara Bian masih terlelap tidur.


"Gak tau bu, semalam Dina dan bapak ketemu sudah terbawa arus air yang banjir. Kasihan." Jawab Dina sambil duduk di samping dipan kayu tempat Bian terbaring.


Beberapa saat kemudian saat para warga desa yang datang ke rumah Dina membantu membuatkan ramuan-ramuan tradisional untuk pria asing yang terluka itu, Bian pun perlahan membuka matanya. Dia terbangun karena mendengar suara berisik di sekitarnya. Cahaya matahari terasa menyilaukan pandangannya, dia menghalau sinarnya dengan tangannya.


"Awww....!" Ringisnya saat tangannya dia angkat, rasa sakit sangat terasa, di liriknya belakang tangannya dekat siku dan melihat ada luka besar di situ.


"Pelan-pelan ... Kau terluka parah, lukanya bukan hanya di tanganmu. Bahkan di sekujur tubuhmu." Kata Dina mendekati Bian saat mendengarnya terbangun. Bian yang tidak mengenali mereka semua memandang dengan wajah takut dan gugup.


"Kalian siapa?! Aku di mana?" Tanyanya dengan suara memberat. Dina dan beberapa warga di situ saling menoleh.


"Kau mungkin tersesat di sini nak, tubuhnya terbawa arus sungai sampai ke desa ini. Entah bagaimana kisahmu hingga bisa tiba di kampung kami ini.... " Jawab si bapak dengan hati-hati. Bian mengerutkan kedua alisnya, dia masih belum mengerti apa yang terjadi dengan dirinya itu. Kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Pikirannya tidak bisa menalarkan apa yang sebenarnya dia alami kini. Bahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya terlalu lemas untuk sekedar berpikir.


"Siapa namamu?" Tanya Dina saat suasana tiba-tiba hening.


Tidak ada jawaban dari Bian. Dia tampak masih mengerutkan keningnya dan mencoba untuk memahami situasinya.


"Siapa kau?" Tanya Dina lagi mengulang pertanyaannya.


Dan masih saja dia tidak bisa menjawab.


"Aku tidak bisa mengingat apapun...." Katanya dengan suara setengah berbisik.