
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, saat petang sampailah Ameer dan si bapak menuju ke jalanan yang menjadi peghubung ke jalanan di bawah bukit.
Ameer memandangi jalanan itu dengan tatapan dalam. Dia merasa tidak asing dengan area itu. Kepalanya mendadak merasa pusing berputar, pria itu terjongkok seketika.
"Kepalaku sakit pak!" Keluhnya yang langsung membuat si bapak menoleh ke belakang dan menghampirinya.
"Kenapa, nak? Apa kau baik-baik saja?" Tanya si bapak cemas. Keduanya sudah tampak sangat kelelahan. Keringat membasahi baju yang mereka kenakan. Dengan penuh kecemasan si bapak yang sudah berumur mempercepat langkahnya ke bawah bukit setelah menyuruh Ameer menunggu saja si situ.
Tak jauh dari situ, terdengar suara kerumunan tim pencari. Dengan sigap si bapak menyadari suatu hal, pertolongan!
" Tolong! Tolong!" Teriak si bapak kencang. Beberapa orang yang berkumpul di satu sisi langsung berlarian menuju ke arah suara.
" Siapa....bapak?" Tanya ketua tim pencari dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
" Aku penduduk kampung di balik bukit, jauh dari sini. Aku membawa seorang pemuda, dia di sana." Tunjuk di bapak yang juga sudah terlalu lelah. Sontak wajah tim pencari termasuk si ketua tim menjadi cerah. Mereka yakin sosok itulah yang mereka cari, ya.... Penerus bungsu keluarga Mahendra....
Di dekat semak-semak, tak jauh dari lagi tempat si bapak di kerumuni banyak orang tadi, tampak sosok pria yang sudah terduduk di tanah sambil memegangi kepalanya.
"Tuan Bian?!" Seru ketua tim pencari yang mengenal betul wajah pria itu.
Tak ada reaksi apapun darinya, kepalanya terasa pusing, badannya lemah, setelah itu dia tak lagi mengingat apapun.
---------------"----------------
Cahaya lampu terasa tepat masuk ke mata Bian. Pria itu kini sudah berada di kasur yang empuk dan luas. Sejak tadi dia pingsan dan tak sadarkan diri. Dia melirik ke sekitarnya dan memastikan tempat dia terbaring kini.
"Ahh...." Bian kembali memegangi kepalanya yang masih sangat pusing.
"Hushhh... Tenanglah. Kau aman di sini nak." Sebuah suara terdengar pelan menenangkan dia. Bian langsung menoleh ke arah datangnya suara, seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik setia menemaninya sambil mengusap-usap keningnya lembut.
"Aku di mana?" Tanyanya kebingungan. Tempat itu terasa sangat asing baginya.
"Kau di rumahmu. Di rumah kita." Jawab wanita itu yang justru jadi sedikit bingung.
"Kau ....siapa?" Tanya Bian tambah bingung.
Mendengar hal itu, tampak si wanita langsung menarik sedikit tubuhnya ke belakang, dia terkejut menyadari anaknya sendiri tak mengenali dia.
"Bian.... Ini mama. Kamu ingat kan ,nak?" Tanya mamanya dengan raut wajah yang berubah jadi cemas. Bian menggeleng berkali-kali, dia merasa asing dengan tempat itu dan wanita itu.
"Astaga....Pak.... Pak....Siapkan mobil!" Mama Bian sontak langsung berlari ke arah pintu kamar dan mencari para ajudan untuk lekas kembali ke rumah sakit terdekat.
"Kita kembali ke rumah sakit!" Seru mama Bian dengan lantang.
Dengan di bantu para ajudan tubuh Bian di bopong masuk ke dalam mobil . Mama Bian tampak sangat cemas, ketakutan dan heran bercampur manjadi satu. Dia menggenggam jemari anak bungsunya itu dan mengucapkan doa dalam hati. Dia tak ingin anaknya kenapa-kenapa.
"Anak saya kenapa,dok? Anak saya bahkan tidak mengenali saya. Saya ini mamanya, kenapa dia?!" Tanya mama Bian bertubi-tubi. Dokter berusaha menenangkan nyonya besar itu dan memintanya agar bisa mengendalikan kecemasannya.
"Kami akan melakukan serangkaian pemeriksaan dulu. Mungkin akan melakukan CT scan kepala dan lain sebagainya untuk mengecek apakah ada benturan atau sebagainya yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Mungkin juga trauma atau amnesia sementara saja. Tapi nanti kesimpulannya kita ambil setelah semua tindakan selesai kita lakukan." Kata sang dokter panjang lebar.
Mama Bian mengela nafas berkali-kali, dia tampak berusaha semaximal mungkin untuk tenang, meskipun pada akhirnya dia kembali lagi dalam kekalutan.
Memang Bian sempat di bawa ke rumah sakit setelah mereka menemukannya, namun saat itu hanya di lakukan cek secara umum saja dan di duga Bian hanya kelelahan karena berjalan dan mendaki terlalu jauh lalu pingsan. Namun setelah kini sadar, dia justru tak mengenali lagi sekitarnya dan jati dirinya.
Air mata mama Bian menetes perlahan, wanita yang tampak tegar dan kuat dari luar itu kini luluh lantak karena ketakutan akan nasib anak bungsunya itu. Anak-anaknya yang lain berdatangan bersama pasangannya masing-masing dan memeluk mama mereka untuk menenangkannya.
" Sabar ma, Bian pasti baik-baik saja." Ucap anak tertuanya.
" Mama takut adikmu kenapa-kenapa. Bagaimana nasib perusahaan yang dia bawahi? Dia bahkan tak mengenal dirinya. Bagaimana kalau dia menderita setelah ini...?" Tanya mamanya bertubi-tubi.
"Hussshhh... Tenanglah dulu ma, dokter masih memeriksa Bian. Kita pasrahkan saja pada kemampuan mereka dan pada Tuhan. Semoga ini hanya bersifat sementara dan kita tidak perlu lagi takut hal buruk terjadi pada Bian." Ujar anak tertua. Mama Bian mengangguk, lalu larut dalam pelukan anaknya. Kini mereka tengah menanti jawaban yang pasti tentang kondisi Bian, mereka tak ingin salah satu pewaris keluarga itu mengalami hal yang buruk lagi.
Dari arah lorong rumah sakit terdengar derap langkah seseorang buru-buru berlari ke arah ruang tindakan.
"Bian mana? Di mana suamiku!" Terdengar suara Mihrimah pilu dan histeris kala mendengar kabar bahwa Bian sudah di temukan dan langsung di bawa pergi oleh keluarganya tanpa sempat di lihatnya.
"Pergi kau dari sini!!!" Mama Bian mengusir Mihrimah yang tampak memprihatinkan karena mencemaskan Bian.
"Tolong ma, tolong ijinkan aku di sini." Pinta Mihrimah yang sudah banjir air mata.
"Jangan panggil aku mama! Aku tak pernah punya menantu sepertimu!" Bentak mama Bian dengan suara yang merendahkan. Mihrimah tertunduk sambil menangis, tak satupun dari saudara-saudara Bian yang membelanya atau sekedar menenangkan suasana. Mereka hanya membiarkan mama mereka memaki-maki Mihrimah yang tak berdaya seorang diri.
Hanya seorang ajudan setia yang ikut menemani Mihrimah sekaligus menjadi perantara kabar tentang majikan mereka.
" Sudahlah nyonya, kita tunggu di luar saja dulu."Bujuk sang ajudan yang iba melihat perlakuan jahat keluarga Bian kepada Mihrimah.
" Tidak....aku ingin di sini menunggu suamiku." Balas Mihrimah keberatan.
" Pergi kau!!! Kubilang pergi!!!! Ajudan, Usir dia!" Teriak mama Bian dengan suara kejam.
Beberapa ajudan langsung bersiap menarik Mihrimah dari hadapan nyonya besar mereka. Namun sang ajudang setia dengan spontan menepis cengkraman tangan mereka dan pasang badan untuk melindungi Mihrimah.
" Atas nama majikan saya dan tanggung jawab yang beliau perintahkan kepada saya, jangan sentuh Nyonya Mihrimah, dia adalah satu-satunya istri dari tuan Bian!" Kata sang ajudan yang memberi melebarkan kedua tangannya untuk menjaga Mihrimah.
Hampir saja terjadi adu fisik antar ajudan kalau Mihrimah tak lekas menghentikan situasi itu. Dengan berar hati, Mihrimah akhirnya mengalah dan pergi dari hadapan mereka sesuai dengan keinginan mereka.
"Stop.... Sudahlah, ayo kita pergi. Aku tak ingin ada korban karena aku." Tepis Mihrimah untuk mengalihkan suasana. Sang ajudan dan Mihrimah kemudian berlalu dari hadapan mereka demi kebaikan bersama.