
Bian sudah tiba di kantornya, sejak kejadian perpindahan sahamnya menjadi milik Mihrimah, dia sudah jarang mendatangi gedung kantornya. Beberapa orang kepercayaannya kini menguru semua untuk Bian. Dia memang sengaja menghindari pertemuannya dengan seluruh keluarganya yang masih menggeram karena Bian menyerahkan hampir seluruh asetnya kepada istrinya itu. Manalah mungkin keluarganya tidak syok? Pria yang terkenal akan sifat cuek dan playboy-nya itu tiba-tiba saja jadi bucin kepada seorang wanita.
Bian menentang seluruh keluarganya hanya demi Mihrimah, dia bahkan tidak pernah lagi pulang ker rumahnya dan memilih tinggal dengan Mihrimah, istrinya.
Baru saja menjejakkan kakinya di pintu masuk, beberapa penjaga sudah serentak membungkuk dan memberi hormat kepadanya. Bian yang tetap di kawal ketat oleh ajudan pribadinya hanya membalas dengan anggukan kepala.
Dengan berani dia melangkahkan kakinya ke ruangan pribadinya.
"Bian!" Kakak tertuanya menyapanya sesaat sebelum dia masuk ke ruangannya.
"Hello...kak."Sapa Bian agak kaget.
"Kau datang?"Tanya kakaknya basa-basi. Wajah kakak tertuanya itu sangat muram, dia menyimpan sakit hati dan kecewa yang besar pada adik bungsunya itu. Manalah mungkin tidak kecewa? Sejak saham adiknya itu jatuh ke tangan Mihrimah, mendadak sahamnya pun ikut terpengaruh.
Beberapa investor memilih mempercayakan uang mereka justru kepada Bian. Alasannya karena Bian memiliki kharisma yang sangat unggul dan juga menghargai istrinya karena dia dianggap sebagai seorang family man.
Keirian pastilah merasuk di hati saudara-saudaranya yang lain, bahkan termasuk ibunya sendiri. Para investor yang sempat mendengar selentingan kabar bahwa ibunya lah yang mati-matian mengekang keinginan Bian untuk menikah, kini di pandang sebagai ibu yang tidak penuh kasih sayang dan terlalu otoriter, hal itulah yang akhirnya menguntungkan posisi Bian.
"Kau sudah gila, benar-benar gila...." Kakaknya itu menepuk pundak Bian karena sudah kehabisan akal pada perubahan adiknya itu yang nekat mengambil keputusan se-dramatis itu. Bagi kakaknya yang memang sudah lebih dulu berkeluarga, tidaklah perlu sampai melibatkan istri dalam hal bisnis apalagi aset-aset perusahaan keluarga.
"Maksudmu?"Tanya Bian dengan senyuman sarat makna.
"Kau pasti mengerti maksudku, apa arti kalimatku barusan. Jangan berpura-pura bodoh meski sebenarnya di mata seluruh keluarga kau itu terlalu naif, kau keterlaluan!"Nada bicara kakaknya itu meninggi.
Bian membalas dengan senyum sinis, sedikit menantang.
"Kau datang ke depan ruanganku, menyapaku, hanya untuk meledek keputusanku? Atau ada hal lain?"Tanya Bian dengan kalimat memancing. Mendengar kalimat Bian barusan, kakaknya kesal, wajahnya mendadak dingin dan penuh emosi. Meski begitu, kakaknya masih berusaha menahan amarahnya agar jangan sampai meledak saat itu juga.
"Sadarlah saudaraku, cukuplah dengan semua omong kosong yang kau ciptakan ini. Apa kau pernah memikirkan keluarga kita? Martabat kita di mata dunia bisnis?!" Kakaknya itu masih berusaha mempengaruhi isi kepala Bian terhadap segala keputusannya yang di nilai sangat naif.
"Memangnya kau tidak tahu kak? Justru keputusanku inilah yang membuat sahamku melonjak, iya bukan? Apa kau takut tersaingi?" Tantang Bian tanpa segan. Kakaknya menggeram, kedua tangannya sudah mengepal tinju, adik yang selama ini dia kenal kini sudah berubah menjadi sosok yang pembangkang dan menentangnya. Dia tidak lagi melihat Bian sebagai sosok adik, dia melihat Bian sebagai seorang musuh dalam selimut.
"Ingat ini baik-baik Bian, bahkan jika nanti kau sudah terjungkal ke tanah dan menyesali perbuatanmu ini, aku tidak akan sudi lagi memaafkanmu, habis sudah kesempatanmu untuk berbaikan dengan seluruh keluarga besar kita. Bahkan perkataan kakak tertuamu ini pun sudah kau muntahkan?!" Ucap kakaknya dengan suara bergetar menahan emosi di dadanya. Bian tidak lagi menjawab, dengan santainya dia langsung masuk ke ruangannya, dia sudah muak dengan percakapan itu, baginya tidaklah penting lagi berdebat dengan kakaknya itu. Dia tidak sudi lagi!
Bian melipat laptopnya setelah beberapa berkas yang harus dia cek selesai dia kerjakan. Baru saja laptop itu tertutup, ponselnya bergetar.
Telpon dari istrinya, Mihrimah....
B : Kau merindukanku?
M: Kau iniiiiii...... ( sedikit berteriak manja)
B: Kau pasti merindukanku Mrs. Mahendra. Sebentar lagi aku pulang, kita jalan-jalan.
M: Oh yaa? Kemana ?
B : Makan di luar mungkin....
M : Emmmm... Aku udah masak lohhh.... ( Berseru manja)
M: Aku juga beruntung Bian....
B : Kenapa? Apa yang menguntungkanmu?
M: Punya suami yang selalu mencintaiku. (Suara terdengar dalam dan penuh cinta)
Bian tertegun untuk beberapa saat, apa yang Mihrimah katakan barusan memang benar. Dia sulit membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak bertemu dengan Mihrimah. Wanita itu sangat spesial baginya. Kehadiran Mihrimah membuat hari-harinya lebih berwarna, keceriaan dan kemanjaan yang melekat pada diri Mihrimah merupakan sebuah energi positif yang selalu mampu membuat waktunya semakin berharga.
M: Kenapa kau diam?
B: Karena kau benar....
M: Apa?
B: Aku mencintaimu, sangat Rima. Bahkan aku rela jadi abu hanya untukmu. Aku serius.
M : Kau iniii, pintar sekali membuatku jadi melayang, apa kau raja gombal sejak dulu?( meledek)
B: Tidak! Hanya dengamu, ha ha ha (Tertawa lepas)
Mereka berbincang untuk beberapa saat sebelum telpon di tutup, wajah keduanya sumringah setelah perbincangan itu. Mihrimah tak sabar menanti kepulangan Bian ke apartment apalagi Bian. Beberapa berkas yang di tambahkan oleh sekretarisnya untuk di cek juga tidak dia baca lagi. Dia sudah tidak ingin mengerjakan pekerjaan kantor, dia ingin lekas pulang dan makan bersama dengan istrinya.
Pintu apartment terdengar di buka dari luar, tampaklah Bian yang tersenyum lebar saat mendapati istrinya sudah menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah lebar.
"Kau sudah datang?" Sapa Mihrimah dengan girang. Bian mengangguk dan langsung menghampiri Mihrimah. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Mihrimah lalu mencium bibirnya. Hampir saja dia tak ingin melepaskan ciumannya itu sampai Mihrimah dengan sengaja menggelitik pinggang Bian agar melepaskan ciumannya.
"Kauuuu...." Mihrimah sedikit cemberut sambil mengusap bibirnya yang sudah di gigit Bian. Bian tertawa puas karena berhasil menguasai bibir wanita pujaannya itu.
"Ayo kita makan...." Mihrimah menggandeng lengan suaminya ke meja makan. Bian langsung merangkul pundak istrinya.
"Kau masak bawang goreng?" Tanya Bian dengan ekor mata yang seperti tengah mencari-cari arah sesuatu.
"Bawang goreng? Gak!" Balas Mihrimah dengan wajah yang sedikit bingung.
" Masa?" Tanya Bian dengan sengaja.
" Memangnya kenapa?" Mihrimah mulai heran dengan kalimat Bian.
" Bau bawang, Ha ha ha ..." Bian tertawa lepas setelah dengan sengaja mengendus tubuh istrinya itu untuk menggodanya lagi.
"ihhhh ! Biannnnn!!" Mihrimah berteriak kesal, bibirnya terlihat monyong karena kesalnya. Bian langsung menarik tubuh istrinya itu lebih dekat ke tubuhnya.
" Kau beraroma sedap, sampai-sampai aku ingin memakanmu...." Goda Bian dengan mata liarnya. Mihrimah sampai gelagapan karena tak kuasa menahan gejolak yang sama saat mata tajam Bian memandanginya dengan penuh hasrat...
"Emmmm... Kita makan dulu, ayooo duduk..." Mihrimah memecah suasana yang terlanjur tergiring ke arah dewasa itu, Bian pun pecah konsentrasi, dia mengikuti arahan Mihrimah untuk duduk di kursi.
Malam itu mereka makan bersama dengan penuh kemesraan.