A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
A,B,C,D I LOVE YOU SEASON 2 EPS 8



Bian berusaha mengingat-ingat kejadian bagaimana dia bisa sampai di pedesaan yang terisolir itu, dan siapa dirinya.


Gadis lugu yang menolongnya kini tengah menyiapkan air hangat di baskom dengan berbagai ramu-ramuan dari dedaunan dan bunga. Kata si gadis orang di kampungnya biasa melakukan itu untuk membuat pikiran menjadi lebih relax dan membantu menyegarkan badan.


Bian yang masih belum bisa mengingat dirinya hanya pasrah saja, dia menuruti saja semua perkataan si gadis yang saat ini jadi sibuk mengurusinya agar cepat pulih.


"Siapa namamu?" Tanya Bian dengan tatapan bingung.


"Aku Dinara... Orang sini biasa memanggil aku Dina. Kau siapa? Apa masih belum bisa mengingat siapa dirimu sampai kini?"Tanya Dina.


Bian menggeleng, memang dia belum ingat apapun. Sesekali dia memegang kepalanya yang terasa masih nyeri sekali kalau di paksa berpikir.


"Tidak apa, kalau kau belum ingat sekarang pasti nanti akan ingat juga. Sabarlah, untuk sementara kami akan merawatmu...."Ucap Dina sambil meletakkan baskom air hangat yang sudah siap untuk di pakai merendam kaki.


Bian terdiam, dia melihat baskom cuci kaki itu lalu kemudian memandang wajah Dina.


"Ayo... Masukkan kakimu." Suruh Dina kemudian.


Bian pun perlahan memasukkan kedua kakinya sekaligus ke dalam baskom. Rasa hangat sangat terasa menjalar hingga ke tubuhnya. Wangi ramu-ramuan yang di tambahkan ke dalam baskom air hangat juga menambah kenyamanan di kakinya.


Bian memejamkan matanya, benar-benar menikmati kakinya yang teredam di dalam baskom.


Dina senang melihat ekspresi tenang dan menikmati yang terlihat jelas dari pancaram wajah Bian.


"Kau harus punya nama, mungkin untuk sementara aku akan memanggilmu dengan nama Ameer. Bagaimana?" Usul Dina. Bian membuka matanya mendengar usulan Dina. Sebuah senyuman kemudian tergurat di bibirnya.


"Iya." Balasnya singkat dan langsung setuju.


"Kalau begitu kita kenalan sekali lagi. Namaku Dinara."Kata Dina sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Aku Ameer." Sambut Bian yang kini telah berganti nama menjadi Ameer.


Sebuah senyuman lebar menyambut perkenalan ulang mereka. Dengan telaten Dina mengobati luka-luka di tubuh pria yang di panggilnya Ameer itu.


Dina bahkan beberapa kali salah tingkah karena terpana dengan ketampanan pria di hadapannya itu. Sungguh sangat menawan! Bahkan goresan luka tidak mampu menyembunyikan pesona pria itu.


"Kau harus mulai mengingat pelan-pelan namamu dan asalmu. Kira-kira kejadian apa yang bisa mengantarmu sampai ke tempat sejauh ini?"Tanya Dina sambil berguman kecil saat membalut kembali luka-luka di tubuh Ameer dengan kain kasa yang baru.


Jemari Dina bergeser ke arah luka dekat leher Ameer. Ada sebuah luka gores yang dekat dengan jakunnya.


"Ahh.... Sudah, aku ingin baring sebentar dan istirahat." Ameer langsung mengalihkan perhatiannya agar menyudahi situasi yang baginya tidak biasa itu.


"I....ya....kau istirahatlah lagi."Balas Dina ikut salah tingkah juga. Dengan cepat Dina mengemas sekotak perlengkapan obat yang tadi dia pakai lalu buru-buru menuju masuk ke kamarnya. Dina masih berada di balik pintu kamarnya yang sudah dia tutup. Dadanya naik turun karena nafasnya yang menahan gugup. Entah sejak kapan dia merasa kalau pria yang kini dipanggilnya dengan nama Ameer itu bisa membuatnya hilang fokus. Dina meletakkan kedua tangannya ke dada.


"Aku kenapa?"Tanyanya pada dirinya sendiri.


Sementara tak kalah gugupnya dengan Dina, Ameer juga menahan gejolak di dadanya, kini setiap kali Dina ada di sekitarnya, dia merasa seperti salah tingkah juga. Gadis itu seakan mengalihkan semua perhatiannya dan membuat dirinya tidak bisa bersikap biasa saja. Selalu saja ada rasa gugup dan aneh yang tercipta hanya dengan memandang wajah gadis itu. Dinara memang cantik, wajah polos dan lembutnya amat menarik bagi siapa saja yang memandangnya, tak terkecuali bagi Ameer. Wajah Dinara memang masih baru bagi pria asing sepertinya, tapi justru hal itulah yang membuatnya penasaran. Daya tarik Dinara bukan main baginya. Apalagi sikap peduli yang dia tunjukkan kepadanya mulai dari pertolongan pertama kali saat dia di temukan tengah dalam kondisi luka parah, hingga saat ini. Entah apa yang akan dia alami kalau saja saat itu dirinya tidak di tolong oleh Dina dan ayahnya. Tentu saja dirinya itu tidak akan tertolong, mungkin di makan binatang buas atau kehilangan banyak darah dan mati lemas.


Perlahan Ameer melangkah pelan menuju ke kamar Dina, dia mengetuk pintu kamar yang di tutup Dina dari dalam.


"Kau kenapa berkurung diri di situ?"Tanya Ameer pelan. Dina agak terkejut, dia tak menduga kalau Ameer masih memulai percakapan mereka setelah kecanggungan yang barusan terjadi.


"Em.... Bukannya kau bilang mau istirahat?"Balas Dina menjawab dari dalam. Ameer mendorong pintu itu yang ternyata tidak di kunci dari dalam. Tampaklah wajah Dina lagi, wajah yang tiba-tiba saja seperti tengah menghipnotis Ameer. Ameer masih terkesima, dia mematung menatap Dina.


"Kau butuh sesuatu?"Tanya Dina saat keduanya terlanjur terjebak dalam suasana hening untuk beberapa saat.


Ameer mengangguk, dia ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku bingung, kenapa jantungku serasa tidak tenang saat kau di dekatku? Padahal aku baru saja mengenalmu. Apa kau biasa saja saat melihatku di sekitarmu?"Tanya Ameer jujur pada isi hatinya dan apa yang dia rasakan terhadap Dinara.


Dinara menggeleng pelan, manalah mungkin dia bisa berbohong lalu berkata kalau dia biasa saja saat Ameer ada di dekatnya. Sungguh dirinya pun merasa apa yang kini tengah Ameer rasakan. Dina juga merasa ada sesuatu yang seperti merasuk ke dirinya dan membuat fokusnya jadi pecah belah.


Ameer melangkah selangkah ke dalam dan masuk ke kamar itu. Dia meraih jemari Dina lalu menggenggamnya erat.


"Apa kau merasa sesuatu hal aneh terjadi di antara kita?"Tanya Ameer pelan. Dina mengangguk pelan, dia mengerti betul apa yang di maksud oleh Ameer barusan.


"Aku berdebar-debar saat kau berada di dekatku. Aku merasa tidak biasa."Jawab Dina apa adanya. Perasaannya mengatakan hal itu benar adanya.


Ameer mengangguk, dia juga merasakan hal itu. Dinara dan Ameer masih saling berhadapan, keduanya saling menatap, luka-luka di tubuh Ameer tidak lagi terasa sakit. Bahkan kakinya yang tadinya terasa masih lemah untuk berdiri mendadak menjadi biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


"Apa kau punya pasangan?"Tanya Ameer penasaran. Dinara menunjukkan ekspresi sedikit kaget atas pertanyaan Ameer. Namun, kemudian dia menggeleng, dia memang belum punya pasangan.


"Kau ?"Dina balik bertanya. Ameer terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.


"Aku rasa aku juga tidak punya."Balas Ameer merasa yakin dengan kedua tangannya yang masih menggenggam jemari Dinara dengan erat.