A, B ,C ,D I LOVE YOU

A, B ,C ,D I LOVE YOU
KEENAM



Mihrimah masih duduk di atas kasur, sementara pria bertubuh six pack tadi sudah mondar-mandir dengan santai di depannya dan hanya berbalut boxer. Pria berjambang dan berkumis tipis itu menuang Red Wine Chateau Margaux 2006 ke gelas sloki , dia juga menyulut sebatang rokok dengan pemantik api yang mahal, lalu duduk di kursi panjang di kamar itu dan menikmatinya.


Bian Jonas Mahendra


Pria tampan nan rupawan berusia sekitar 40-an, wajahnya sekilas tidak tampak seperti berkepala empat, garis wajahnya sangat berkarakter. Dengan tubuh atletisnya karena rajin olahraga, pria itu terlihat bugar dengan kulit kecoklatan. Bian merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, dia di percaya untuk menjabat sebagai CEO di salah satu cabang perusahaan milik keluarga dan dia juga merupakan salah satu pewaris rantai kerajaan Mahendra di industri tekstil ternama bersama empat saudaranya yang lain. Ayahnya adalah keturunan konglomerat sejak dulu sedangkan ibunya masih keturunan darah biru. Pria ini belum menikah, dulu pernah menjalani hubungan serius dan sudah hidup bersama di satu apartment dengan seorang wanita muda selama 2 tahun, namun kemudian tidak berlanjut ke pernikahan. Bian tidak suka dengan komitmen, dia benci itu. Bagaimana tidak? Kedua orangtuanya lah yang membentuk karakternya jadi seperti itu. Meskipun background keluarganya patut di perhitungkan dan tersohor, namun hubungan kedua orangtuanya di matanya sejak kecil tidaklah baik. Mereka tidak pernah tampak mesra satu sama lain, bahkan baginya kedua orangtuanya hanya bersandiwara soal pernikahannya. Mereka hanya bertegur sapa dan tampak akur di forum ketika itu berkaitan dengan keperluan bisnis keluarga. Ayahnya bahkan pernah masuk surat kabar internasional karena di duga berselingkuh dengan seorang artis luar yang sudah janda. Ah, sudahlah! Bian benci membahas itu.


Mihrimah memandangi Bian, lelaki yang entah dari mana datangnya dan siapa, yang semalam sudah menikmati tubuhnya. Mihrimah tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.


"HIKSS... HIKSS... HIKSS ..." Air matanya meleleh, dia sulit bernafas karena isak tangisnya yang menjadi-jadi. Hatinya hancur, porak-poranda.


"Kenapa kau?" Tanya Bian keheranan. Mihrimah langsung menatap Bian sinis.


"Dasar laki-laki jahat! Kenapa kau menyentuh aku?! Kenapa kau memanfaatkan kesempatan waktu aku mabuk?!" Ucap Mihrimah histeris. Bian menunjukkan mimik wajah heran karena mendengar perkataan Mihrimah.


"Aku? Aku memanfaatkan kesempatan katamu? Untuk apa? Kau yang datang padaku, kau yang menggodaku, hanya berbalut pakaian dalam itu yang ku ingat, selebihnya aku bahkan tidak ingat!" Bian membela dirinya. Wajahnya ketus dan sangat terganggu dengan tangisan Mihrimah.


"PEMBOHONG!" Teriak Mihrimah dengan suara yang lantang.


"Lagian, apa ruginya? Kita sama-sama sudah dewasa! ini bukan kesengajaan! Kita mabuk dan aku menyentuhmu karena kau yang mendekati aku duluan, that's it !" Balas Bian lebih keras lagi. Dia kemudian melempar gelas sloki yang masih berisi wine di tangannya, dia marah karena paginya rusak oleh tangisan Mihrimah dan perdebatan yang baginya tidaklah penting.


Mihrimah menarik cover tempat tidur yang menyelimutinya, lalu pergi ke toilet setelah memungut semua bajunya. Setelah Mihrimah masuk ke dalam toilet, mata Bian tertuju pada seprai putih yang membungkus tempat tidur.


NODA MERAH


Bian terpaku sejenak, dia mendekati pinggir tempat tidur itu dan memastikan apa yang di lihatnya.


"Dia perawan." Gumamnya pelan dan kini mulai mengerti kenapa Mihrimah histeris setelah tidur dengannya.


"Kau pulang kemana? Biar ku antar." Katanya sesaat setelah melihat Mihrimah sudah keluar dari dalam toilet dengan berpakaian lengkap. Mihrimah tidak menjawab, kedua matanya masih bengkak karena menangis.


"Kau dengar aku tidak? Kau pulang kemana?" Tanya Bian lagi mengulang pertanyaanya.


"BUKAN URUSANMU!" Jawab Mihrimah ketus. Bian jadi kesal bukan main, dia benci dengan jawaban Mihrimah yang seperti itu kepadanya.


Bian mendekat ke Mihrimah yang saat itu tengah membelakanginya. Pria itu menarik tangan Mihrimah dan menatapnya tegas.


"JANGAN KAU PIKIR KAU LAH YANG PALING RUGI DENGAN KEJADIAN INI, AKU JUGA ! AKU SEHARUSNYA BISA TIDUR DAN MENIKMATI TUBUH WANITA YANG JAUH LEBIH INDAH DARIMU, DAN WANITA YANG BISA BERBICARA DENGAN NADA YANG LEBIH HORMAT PADAKU. KAU DENGAR ?!" Kata Bian dengan nada sangat marah, dia mencengkram lengan Mihrimah dengan kuat. Mihrimah ketakutan, dia gemetar dengan nada bicara Bian yang emosional dan cengkraman tangan lelaki itu. Namun, kemudian Bian melonggarkan cengkramannya dan tersadar kalau gadis di depannya itu menjadi sangat ketakutan.


Mihrimah tidak berani menatap Bian lagi, dia tertunduk, dia teringat tingkah kasar ayahnya ketika Bian bersikap demikian dengan nada bicara yang penuh emosi.


Bian menarik Mihrimah ke dadanya yang bidang, dia spontan memeluknya dan mengusap-usap punggung Mihrimah perlahan untuk menenangkannya, dia merasa kalau Mihrimah punya ketakutan tersendiri dengan sikap lelaki yang kasar atau emosional.


"Ssshhh... Maaf, aku tidak bermaksud menakutimu." Ucap Bian yang mendadak jadi melunak. Mihrimah membenamkan wajahnya di tubuh pria asing itu, dia merasa sedikit tenang ketika Bian memeluknya. Padahal pria itu tidak dia kenal. Bian kemudian beralih menatap wajah Mihrimah, dia terpana. Mihrimah memang wanita yang cantik. Bian dan Mihrimah masih saling bertatapan, dengan tiba-tiba Bian mendekati wajah Mihrimah lalu mengecup bibirnya.


"Selamat pagi." Ucap Bian kemudian. Mihrimah kaget, masih belum tersadar sepenuhnya pasca bibirnya di cium oleh Bian. Bian kemudian sedikit mundur dan melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Mihrimah. Sementara Mihrimah memegangi bibirnya.


"Aku antar kau pulang. Jangan menolak, anggaplah ini sebagai perdamaian kita. Oh, iya, namaku BIAN JONAS MAHENDRA, Call me Bian." Bian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Mihrimah. Mihrimah masih mematung dan tidak membalas uluran tangan Bian, dia masih saja bingung dengan apa yang terjadi antara mereka.


"Ah... Sudahlah, lupakan. Ayo ku antar." Kata Bian lagi setelah melihat Mihrimah yang enggan merespon perkenalan mereka. Bian berjalan keluar meninggalkan kamar hotel yang mewah dan luas itu, Mihrimah kemudian mengikutinya dari belakang, mereka pun mengembalikan Key Card hotel kepada petugas resepsionis.


"Terimakasih banyak pak, dan silahkan datang kembali, pak Mahendra." Ucap petugas hotel sambil membungkuk setelah membaca identitas tamu kamar dan menyadari kalau tamu kamar itu adalah keluarga Mahendra. Bian membalas senyum, lalu keluar dari lobby hotel bersama Mihrimah. Melihat perlakuan para staff hotel yang sangat segan dan menghormati lelaki di depannya itu, Mihrimah sedikit heran,


"Siapa dia ini?" Tanyanya dalam hati saja.