
Mihrimah sudah berdiri disamping pria itu di depan hotel.
"Tuan Bian... Selamat pagi." Seorang supir bersetelan jas mendatangi Bian yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Bian mengangguk dan berjalan mengikuti supir itu, Mihrimah terdiam sejenak, dia ragu mengikuti pria yang dipanggil Bian itu. Lagi pula dia tidak kenal dengan mereka.
"Ayo!" Bian menoleh ke belakang ketika menyadari kalau dirinya tidak mengikuti. Mihrimah pun akhirnya mengikuti mereka meski dalam keraguan.
Sebuah mobil sedan hitam nan mewah terparkir tidak jauh dari tempat mereka tadi, dengan sigap sang supir langsung mendahului mereka untuk membukakan pintu. Bian pun masuk duluan dan duduk di belakang, Mihrimah terdiam lagi di depan pintu mobil, dia semakin heran dengan siapa gerangan pria itu yang semalam menghabiskan malam dengannya.
"Masuk!" Perintah Bian sambil menarik tangan Mihrimah yang akhirnya terpaksa masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
Supir pun kemudian menutup pintu dan bergegas masuk dan duduk di kursi kemudi. Mereka meninggalkan halaman hotel mewah itu dengan segera.
Sepanjang perjalanan, Mihrimah terpana dengan kemewahan interior mobil. Dia sampai takut menyentuh body mobil, kedua tangannya terkatup di antara kedua pahanya.
Bian menyadari kalau Mihrimah sangat gugup dan kaku saat itu.
"Pak, kenalin pacar saya." Ucap Bian dengan tiba-tiba kepada supirnya.
"Siap Tuan." Balas sang supir dari depan dan melirik Mihrimah melalui spion atas.
"AA...PA? BU...BU..BUKAN PAK... BUKAN..." Mihrimah kaget dengan ucapan Bian barusan, Lelaki itu terkekeh-kekeh karena ekspresi Mihrimah itu.
"Benar Pak, memang pacar saya, dia cuma malu." Jawab Bian lagi mengulangi sehingga membuat Mihrimah menatapnya kesal.
Siapa dia? Sembarangan.
Begitu pikir Mihrimah dalam benaknya. Bian kemudian sengaja memandangi Mihrimah, pandangannya tak lepas sedikitpun dari gadis itu. Mihrimah mendadak gugup, dia tidak berani menatap balik pria itu, dia sengaja mengarahkan matanya ke luar kaca mobil.
Mobil telah sampai ke sebuah jalan sempit setelah Mihrimah menunjuk arah rumahnya kepada supir.
"Saya turun di sini saja, Pak." Kata Mihrimah setelah mereka tepat berada di depan mulut jalan sempit itu.
"Masuk Pak!" Perintah Bian agar mobil tetap bergerak dan masuk ke dalam. Mihrimah menghela nafas, dia mulai kesal. Dia memang sengaja tidak ingin diantar sampai ke depan rumah, dia takut pria itu mengetahui lebih banyak tentangnya.
Namun supir akhirnya mengikuti perintah Tuannya. Mobil itu masuk ke dalam dengan perlahan.
"Stop Pak." Ucap Mihrimah yang akhirnya sampai di depan rumahnya dengan wajah pasrah.
Bian mengintip dari kaca mobil, dan melihat rumah Mihrimah yang sederhana dan sudah tua.
"Oke. Buka pintu, Pak." Ucap Bian sambil mengangguk setelah memastikan itu memang rumah Mihrimah. Supir tadi dengan cepat berlari ke posisi di mana Mihrimah duduk dan langsung membuka pintu sebelum Mihrimah sempat membuka sendiri pintu itu. Bian menurunkan jendela sedikit.
"Ini nomorku. Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa langsung menghubungiku." Kata Bian sambil menyodorkan sebuah kartu nama.
"TAPI MAAF SEBELUMNYA, AKU TIDAK MAU BERHUBUNGAN DENGANMU, TUAN. TERIMAKASIH SUDAH DI ANTAR." Ucap Mihrimah dengan nada suara yang tegas dan percaya diri.
" Haha... Ambilah dulu, jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri." Balas Bian tertawa sinis sambil melempar kartu namanya tadi dari jendela yang langsung jatuh tepat di bawah kaki Mihrimah. Setelah itu, mobil pun memutar dan meninggalkan halaman rumahnya.
Mihrimah hanya memandang kartu nama itu saja, dia tidak memungutnya. UNTUK APA? Pikirnya.
Pintu rumahnya tidak terkunci, Mihrimah merasa yakin kemarin dia sudah menguncinya. Setelah membuka pintu, tampaklah ayahnya yang dengan santai baring di sofa.
"DARI MANA KAU? MINTA UANG!" Ucap ayahnya dengan nada yang garang.
"Aku tidak punya uang lagi ayah, sudah ayah ambil semua, kan?" Jawab Mihrimah yang sudah bersiap diri kalau-kalau ayahnya akan berlaku kasar lagi.
"ANAK BODOH! CARILAH UANG YANG BANYAK! BIAR TIDAK PERCUMA KAU JADI ANAKKU!" Balas ayahnya dengan nada suara menggelegar. Mihrimah tertunduk, dia menahan air matanya menghadapi sikap dan perkataan ayahnya yang sungguh tega terhadap dirinya.
"OKELAH, KALI INI KAU AMAN. TAPI INGAT, CARILAH UANG LEBIH BANYAK LAGI, ATAU KALAU TIDAK JUAL RUMAH INI !" Ucap ayahnya yang langsung berlalu meninggalkan rumah itu.
Mihrimah memegang dadanya, sakit sekali perasaannya punya ayah seperti itu. Ayahnya itu bukannya bertanya dulu keadaan dirinya apa baik-baik saja, malah selalu membahas soal uang, uang dan uang lagi. Dia ingin mati saja, ikut dengan neneknya saja, dia merasa tidak berarti sama sekali meski masih hidup.
Hari sudah mulai gelap, setelah makan malam dan bersih-bersih Mihrimah berniat tidur awal, baru saja hendak memejamkan mata, Mihrimah baru sadar kenapa Zeyn dan teman-teman lain tidak menghubunginya atau mengirim pesan singkat padanya. Mihrimah yang curiga langsung mengecek ponselnya. Ah.... Rupanya seseorang telah menghidupkan mode pesawat, pantas saja tidak ada satupun yang mencarinya.
Wina: Gue dan teman-temanmu yang lain baru pulang. Kami di di usir petugas club keluar dari sana setelah keributan Zeyn semalam. Tapi begitu kami sadar, Lo gak ada, dimana?
Pingkan: Kau kemana? Kenapa tidak ada bersama kami?
Evi : Rima?? Kemana sih?
Zeyn : Rima?? ada dimana?
Dan beberapa panggilan masuk yang terlewatkan. Mihrimah menggeram, sudah pasti itu ulah Bian, ya...Pria yang bernama Bian itu. Dia pasti dengan sengaja membuat ponselnya tidak bisa di hubungi siapapun.
Sementara di dalam kamarnya yang mewah, pikiran Bian tertuju pada sosok Mihrimah. Gadis itu sudah membuat dirinya tidak konsentrasi akan hal yang lain.
"CK....HUFFTT..." Bian mengeluh karena kepalanya tidak bisa diajak kompromi, masih saja terus tertuju pada gadis cantik nan lugu yang semalam sudah dia renggut keperawanannya. Dia masih penasaran, bagaimana bisa dia lupa detail kejadian bagaimana mereka berdua bisa bercinta di tempat tidur. Biasanya dia tidak sampai selupa itu hanya karena minuman. Bian meraih ponselnya, lalu mengecek siapa tahu Mihrimah menghubunginya, tapi tidak. Belum ada panggilan atau pesan apapun dari Mihrimah ke ponselnya.
Bian membuka meneguk segelas Martini dengan buah zaitun di dalamnya , lalu menyuap sepotong daging steak ke mulutnya. Di dalam kamarnya yang luas , dia menikmati makan malam. Dua orang pelayan sedari tadi berdiri di samping kursinya siap sedia untuk melayani keperluan Tuannya itu.
Bian kemudian memberi kode kepada seorang pelayan di sebelahnya lalu berbisik sebuah perintah. Setelah itu pelayan itu pergi dan datang lagi dengan seorang ajudan bertubuh tegap dan besar.
"CARI TAHU TENTANGNYA, DAN JAGA DIA UNTUKKU MULAI SEKARANG." Kata Bian kepada ajudan itu sesaat setelah dia menghadap.
"SIAP TUAN." Jawab sang ajudan sigap lalu membungkuk kepada Tuannya itu.