
-Kediaman Keluarga Cha-
Sampai di rumah Crystal langsung memasuki dapur. Merapikan bahan makanan dan keperluan dapur yang baru saja ia beli dari supermarket.
Crystal mulai mencuci seafood segar yang baru ia beli. Memotong-motong bawang dan bumbu lain yang ia perlukan. Tangan gadis itu begitu lihai dalam memasak. Crystal memasak pasta seafood dan sup kesukaan kakak nya, Sherina.
Setelah waktu berlalu dengan cepat semua makan telah siap di masak. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Crystal segera menghidangkan masakan nya ke atas meja makan dibantu oleh beberapa pelayan karena sebentar lagi Sherina dan nyonya Song akan kembali.
Ketika ia memindahkan sup buatan nya ke dalam mangkuk tubuh nya terasa begitu lelah. Tidak seperti biasanya. Bahkan memasak lima jenis makanan pun ia tak pernah merasakan lelah sebanyak itu.
"Bik tolong siapkan semuanya" perintah Crystal pada Bibi Kim si kepala pelayan. Bibi Kim dan para pelayan lainnya langsung melaksanakan perintah gadis tersebut.
Crystal mengambil segelas air putih dan meneguknya 'Sepertinya tubuhku begitu lemah karena tiap malam menangis. Sepertinya aku harus menyegarkan diriku dulu dengan mandi sambil menunggu kakak dan nyonya' Pikir nya dalam hati segera melangkah ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Crystal, Sherina dan nyonya Song berkumpul di meja makan menyantap masakan Crystal.
"Wow daebak..rasanya sangat lezat sayang" Nyonya Song memberikan pujian untuk pasta seafood buatan Crystal.
"Liat Sherina kau harus mempelajari semua ini dari adik mu, sebentar lagi kau akan menikah jadi kau harus tau memasak untuk suami mu nanti" lanjut nyonya Song.
"Uhukk uhukk mama makin tua makin cerewet aja. Iya iya terserah mama saja" Sherina menjawab sambil menggerutu.
Mamanya yang melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menggeleng tanpa berkata apapun.
Crystal yang mendapatkan pujian dan melihat peperangan kecil itu hanya tertawa kecil dan melanjutkan makanannya. Kali ini ia menghabiskan dua porsi pasta sekaligus.
Sherina yang melihat itu semakin bingung dengan perilaku aneh adiknya akhir-akhir ini.
"Kau makan begitu banyak tidak seperti biasanya Crystal, Sepertinya stres yang alami akhir-akhir ini begitu berat hingga kau harus memerlukan tenaga ekstra" Sherina.
Crystal yang mendengar ucapan kakaknya tersedak lalu meminum air putihnya.
"Hahaha sepertinya selera makan ku sedang bagus akhir-akhir ini kak"
"Heyy Sherina kenapa kau mengatakan itu. Kan bagus bila dia makan banyak" balas nyonya Song yang senang melihat selera makan Crystal itu.
Selesai makan dan merapikan semuanya mereka kembali ke kamar masing-masing kecuali Crystal yang pergi ke rooftop.
Ia berdiri memandangi taman belakang kediaman Cha. Membiarkan tubuhnya disentuh oleh hembusan angin malam. Membiarkan semua tekanan dan kesedihan di dalam dirinya sirna dibawa oleh hembusan angin. Tetesan air matanya mengalir perlahan. Di dalam pikirannya hanya ada wajah pria yang menolongnya dulu lalu menghanucurkannya begitu saja.
Sebuah tangan lentik mendarat di pundaknya. Crystal menoleh ke samping dan mendapati kakaknya memandangi dirinya dan tersenyum.
"Apa yang kau lakukan disini adik ku yang cantik?"
"Tidak ada kak. Aku hanya jenuh ingin disini" menghapus air matanya tidak ingin terlihat oleh Sherina.
Mereka berdua berdiri memandangi taman belakang. Sesekali Sherina meneguk sebotol bir yang ada di tangan kanan.
"Kak kenapa kau selalu minum. Besok kau harus pergi bekerja ke luar negeri" Crystal menceramahi kakak nya lagi.
"Aneh sekali.. akhir-akhir ini kau suka sekali menceramahi ku. Kau menjadi cerewet sekali. Aku minum untuk menenangkan pikiran ku" Sherina.
Crystal terdiam sejenak. "Apa karena pria itu lagi kak?"
"Kau langsung tau saja. Selain diriku sendiri kau adalah orang yang memahami diriku" Sherina.
"Kali ini kenapa lagi kak?"
Sherina menceritakan dia melihat pria yang disukainya masuk ke dalam bar bersama wanita yang baru lagi saat ia dalam perjalan pulang.
"Kak sudah aku katakan padamu. Kau cantik dan seksi bahkan aku begitu iri dengan tubuhmu itu. Diluar sana begitu banyak pria yang akan menyukaimu. Jangan bertahan pada pria brengsek itu" Crystal mengatakannya lalu menggenggam tangan Sherina yang tidak menggenggam kaleng bir.
"Pria brengsek kurang ajar" lanjutnya mengumpat spontan.
Melihat Crystal yang terus mengumpat dia tertawa "Woahh adik ku ini entah dari mana belajar cara mengumpat hingga pintar sekali mengumpat".
"Hahahaha adik ku sudah besar sekarang. Sayang sekali kau belum bisa minum, jika tidak aku akan mengajak mu berpesta tiap malam" Sherina.
"Sebenarnya aku sudah terbiasa melihat dia terus menerus berganti wanita. Yang membuatku sedih adalah kenapa aku bisa terus menyukainya yang brengsek itu" Sherina meneteskan air matanya.
Crystal langsung memeluk Sherina yang mulai menangis, "Kak aku tau itu pasti menyakitkan. Berhentilah menyukainya. Cinta sepihak itu adalah hal bodoh. Hanya membuang-buang waktu saja". Crystal mengelus punggung Sherina yang sedang menangis dengan lembut.
-Wu's Group-
Christ masih sibuk dengan laptopnya. Mencoba meretas handphone milik Pengkhinat Wu's Group yang telah membawa pergi uang perusahan. Hanya butuh sekitar tiga jam usahanya berhasil.
Christ mendapatkan orang itu telah pergi berangkat ke Jepang dengan identitas palsu. Christ memanggil Tommy dan memerintahkannya mencari direktur keuangan kantor cabang tersebut ke Jepang.
"Siap Bos"
Tommy terkagum melihat kemampuan bosnya yang luar biasa itu dan segera menghubungi bawahannya.
Langit mulai gelap dan udara semakin dingin. Christ memutuskan untuk pulang beristirahat.
Di dalan mobil dia membuka laptop canggih nya lalu melihat rekaman CCTV sore tadi kediaman keluaga Cha.
Terukir senyuman tipis di bibirnya melihat bagaimana gadis kecilnya begitu lihai bekerja di dapur.
Tangannya mengetik beberapa tombol keyboard untuk mengubah waktunya menjadi waktu saat ini. Mendapati gadis kecilnya sedang berdiri di rooftop.
Christ menzoom rekaman tersebut namun karena gelap nya malam wajah Crystal tak begitu jelas terekam.
Christ memperhatikan tiap gerakan tubuh gadis kecilnya. Memperhatikan hembusan angin membuat rambut panjangnya tergerai begitu saja. Dirinya menginginkan gadis itu kembali kepelukannya. Hatinya menginginkan gadis itu.
Christ terus memperhatikan bahasa tubuh Crystal. Ia merasa bahwa ada kesedihan yang menyelimuti gadis kecilnya. Rasa bersalah mengetuk pikirannya.
'Besok aku berjanji akan menemuimu Crystal. Tunggulah aku'
Keesokan paginya Christ terbangun diranjangnya. Menatap jam dan langsung bergegas bersiap-siap pergi ke kantor. Christ kesal karena bangun pukul 9 pagi. Sudah tentu dirinya terlambat lagi.
Dia melangkah cepat turun dari kamarnya. Memandangi kesal mommynya yang sedang duduk berdua dengan daddy nya tidak membangunkannya.
"Mommy kenapa tidak membangunkanku hiss malah bersantai-santai dengan daddy" Christ kesal karena dia berangkat betul-betul kesiangan.
"Hehh Christ mommy mu bukan istrimu. Dia istriku jadi sudah tentu dia harus menemaniku. Kau sudah besar dan sudah waktunya menikah. Cari istri yang bisa merawatmu" Tuan Alex Wu menjawab sinis pada putranya.
"Iya Christ betul kata daddy mu. Kau sudah dewasa harusnya bukan mommy lagi yang mengurusmu. Menikahlah cepat!" sambung nyonya Maylin tak ingin kalah.
Mendengar kedua orang tuanya mulai menyuruhnya menikah lagi, dia tidak menjawab perkataan mereka. Christ langsung berangkat ke kantor.
Hari ini Christ tidak ada rapat penting di kantor jadi dia bisa pergi menemui Crystal.
Suara dering handphone Christ berbunyi.
"Halo Lucas" menjawab panggilan dari sahabatnya.
"Christ apa kau sibuk hari ini? Bagaiman kalau kita bersenang-senang" Lucas mengatakannya.
"Tidak bisa aku ada urusan" belum sempat menjawab perkataannya, Christ langsung menutup teleponnya.
Hai hai Readers semoga kalian suka ya
Jangan lupa like and komen
💛💛💛