
Christ keluar dari kamar mandinya dengan bathrobes nya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih.
Dilihatnya Crystal sedang fokus dengan beberapa buku di meja belajarnya.
Christ tersenyum hangat,bahkan disaat wanitanya sedang hamil tuapun dia masih tetap belajar demi mengejar pendidikannya yang tertinggal.
Bahkan saat fokus pun dia terlihat sangat cantik hingga membuat hati Christ mendecak kagum
Christ berjalan mendekati wanita yang tak memalingkan matanya dari buku itu.
"Sayang apakah pelajaranmu sulit. Kau tampak sangat serius" tanya Suho yang duduk di tepi meja belajar berwarna gold itu.
Crystal terkejut melihat kehadiran suaminya yang tak ia sadari. Kemudian ia tersenyum lembut "tidak kok, aku hanya sedang memahami beberapa materi saja" jawabnya.
"Apakah kau sungguh ingin berkuliah nantinya? Aku bisa membeli apapun yang kau mau cukup menyebutkan saja" ucap Christ memandangi Crystal.
Crystal mendongakkan kepalanya ke atas menatapi mata Christ tegas.
"Aku juga ingin seperti wanita lainnya yang memiliki gelar dan kualifikasiku sendiri. Aku sangat ingin menjadi desainer interior yang handal" ujarnya.
"Bolehkan sayang" ujarnya lagi sambil memeluk pinggang Christ.
Mendengar keinginan itu yang cukup terasa dewasa, Christ hanya bisa tersenyum mengiyakan. Ditambah mata berbinar itu membuatnya tak bisa menolak.
"Baiklah baiklah tapi kau baru boleh berkuliah satu tahun setelah anak kita lahir. Aku tidak ingin membahayakan kesehatan kalian berdua" jawab Christ penuh arti.
"Baiklah terima kasih suami ku yang tampan" Crystal mengangguk dengan senyuman manisnya.
Melihat senyuman manis yang menghiasi wajah Crystal, Christ tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.
Crystal membalas ciuman itu sekaligus dengan lumatannya. Dipejamkannya matanya membiarkan tangan Christ terus saja mengelus elus lehernya.
Sang pangeran kecil bahkan turut bahagia dengan kemesraan kedua orang tuanya yang tampan dan cantik itu.
"Awww bayimu menendang ku" ucap Crystal menghentikan ciumannya karena merasakan tendangan dari dalam perutnya.
Christ sedikit cemberut karena Crystal tiba-tiba berhenti. Walaupun itu putranya, tapi dia sedikit kesal karena keromantisannya harus terhenti.
Padahal selama beberapa bulan ini dia sudah menahan diri dengan susah payahnya untuk tidak melancarkan aksinya di ranjang bersama sang wanitanya itu.
"Heii pangeran kecil baik-baiklah di dalam sana. Jangan sering-sering menendang, ibumu akan kesakitan nanti" ujar Christ sambil mengelus perut buncit Crystal.
Seketika sang bayi berhenti menendang. Melihat itu Crystal tertawa melihat interaksi sang ayah dan anak itu.
"Baiklah kau lanjutlah belajar tapi jika merasa lelah dan butuh sesuatu katakan saja padaku" ujar Christ mengecup kening Crystal.
Crystal mengangguk mengiyakan. Selagi Crystal fokus belajar, Christ disibukkan dengan pekerjaannya yang tertunda.
Sambil sesekali menoleh ke arah Crystal yang tak jauh dari meja kerjanya.
Malam mulai larut dan Christ telah menyelesaikan pekerjaannya. Ternyata Crystal sudah tertidur diatas meja nya.
"Dasar wanita ini sulit sekali diperingati" ujarnya yang menatap wanitanya tertidur pulas.
Christ menggendong tubuh Crystal lalu membaringkannya di ranjang empuk mereka.
Dia menepihkan sedikit rambut yang menutupi wajah cantik istrinya lalu mengecup penuh cinta bibir Crystal.
Christ pun membaringkan tubuhnya di samping tubuh Crystal dan merasakan aroma tubuh Crystal yang menjadi candunya. Kemudian mulai terlelap bersama.
Keesokan harinya Crystal diantarkan langsung oleh Christ ke kediaman keluarga Cha. Hari ini kakaknya akan mengikuti tour konser luar negerinya selama dua hari.
Crystal ingin menemui Sherina karena memang dia sudah lama tidak bermain ke rumah Nyonya Song yang dulu adalah rumah baginya.
"Tidak perlu nanti aku bisa diantar oleh supir. Kau berangkat bekerja saja" balas Crystal.
Christ mengangguk mengiyakan permintaan istri tercintanya. Setelah Crystal turun dari mobil, Christ melajukan mobil mercedez benz nya menuju Wu's Group.
Crystal berjalan perlahan memasuki rumah utama keluarga Cha. Dia sudah mulai kesulitan berjalan mengingat kehamilannya yang sudah beranjak hampir delapan bulan.
Seorang wanita cantik berlari menuruni anak tangga menuju Crystal yang berjalan masuk.
"Adik ku sayang lama tidak bertemu" ujar Sherina langsung memeluk Crystal.
"Awww pelan pelan saja kak" ucap Crystal yang merasa sakit karena perutnya sedikit tertekan.
"Sorry sorry keponakan tersayang tante tidak sengaja" ujar Sherina mengelus perut Crystal.
"Kak mana mama" tanya Crystal yang tak melihat sosok wanita yang ia rindukan.
"Ada di kamarnya" jawab Sherina menunjuk ke arah berbeda.
Mereka berjalan menuju ruang kamar nyonya Song. Sesampainya disana ia melihat seorang wanita cantik sedang duduk di depan meja riasnya.
"Mama Song aku merindukanmu" ujar Crystal memeluki nyonya Song.
"Wahh putri kecil ku telah datang. Dan cucuku juga" ujar Nyonya Song cepika cepiki dengan Crystal.
"Apakah mama akan berangkat kerja?" tanya Crystal yang melihat mama angkatnya sudah dandan rapi seperti wanita karir biasanya.
"Iya sayang" jawab nyonya Song pelan.
"Sebelum berangkat kalian harus sarapan dulu. Aku tau kalian paling malas sarapan pagi, jadi aku sudah membawakan beberapa masakan yang aku sudah buat" ujar Crystal.
"Wahh kebetulan sekali aku sangat rindu masakan adik ku ini" ucap Sherina dengan mata berbinar.
Ketiga wanita cantik itu berjalan beriringan menuju ruang makan. Beberapa pelayan menghidangkan makanan yang telah dibawa oleh Crystal.
"Wow masakanmu semakin lezat saja" puji nyonya Song menikmati makanannya.
Crystal tersenyum bangga melihat kedua wanita kesayangannya menikmati hasil usahanya.
"Jam berapa kakak akan berangkat" tanya Crystal penasaran.
"Satu jam lagi beberapa rekan ku akan menjemputku" jawab Sherina sambil mengunyah nasinya.
"Apakah kakak akan terus melanjutkan bepergian tour konser? Akan lebih baik jika kakak mengelola rumah sakit. Mama sudah cukup tua untuk mengurusnya sendiri" jelas Crystal.
"Iya sayang mama sudah lelah mengurusnya. Mama juga ingin bersantai seperti teman-teman mama lainnya" lanjut nyonya Song.
"Aku sudah memikirkannya ma. Aku akan berhenti dan ini akan menjadi yang terakhir" jawab Sherina sedikit cemberut.
"Itu lebih bagus kak, lagi pula ini sudah waktunya untuk kakak dan kak Lucas untuk menikah" lanjut Crystal.
Mendengar itu Sherina hanya diam memainkan makanannya. Crystal bisa melihat ada kesedihan mendalam di wajah Sherina.
Tapi Crystal tidak berani bertanya secara langsung mengingat nyonya song sedang duduk bersama mereka. Dia tidak mau mama angkatnya khawatir.
Setelah selesai sarapan nyonya song berangkat bekerja sedangkan Crystal mengantarkan Sherina menuju bandara sebelum kembali ke rumah utama.
Crystal memandangi pesawat yang baru saja berankat menuju Singapur itu. Setelah itu ia berjalan meninggalkan bandara memasuki mobilnya dan pulang ke rumah utama.
Di tempat yang tak jauh darinya, seseorang berkaca mata hitam berdiri memperhatikan tiap langkah Crystal.