
Christ melingkarkan kedua lengannya di perut Crystal. Menarik tubuh Crystal mendekat padanya. Pipi Crystal memerah membuat Christ tersenyum gemas.
"Sayang ini adalah rumah mu sekarang. Kau aman bersamaku, aku akan menjaga kalian berdua. Bila ada yang mengusik mu aku tidak akan segan menghancurkannya. Percayalah padaku, aku tidak akan meninggalkan mu, aku mencintaimu Crystal" Christ mendaratkan kecupan lembut di bibir Crystal.
Crystal terkejut dan merasa malu. Hatinya begitu hangat. Dia mulai mempercayai Christ.
"Sayang, aku akan pergi bekerja dan akan kembali.Jika butuh sesuatu katakan saja pada Mommy atau Bibi Bae" Christ.
Dan dibalas dengan senyuman Crystal.
'Ternyata dia adalah pria yang baik. Tuhan apakah pria sehebat Christ bisa aku temani. Mungkin takdirku adalah menjadi wanitanya' Crystal menatap punggung Christ yang berangsur menghilang.
Crystal yang masih lemah memilih beristirahat sejenak mengumpulkan tenaganya. Beberapa jam kemudian ia bangun mengecek HP nya. Sebuah notifikasi pesan dari Christ masuk ke ponselnya.
'Jangan lupa makan dan beristirahat. Aku merindukanmu Crystal' melihat isi pesan tersebut Crystal tersenyum manis.
Seperti kata orang banyak, benci adalah awal mula cinta, kebenciannya mulai berubah menjadi cinta.
Nyonya Maylin dan Sheila datang menemui Crystal. Mereka mengajak Crystal mengelilingi seluruh isi kediaman keluarga Wu. Akhirnya mengantar Crystal ke sebuah kamar yang begitu berantakan.
"Hiss wajah dan kelakuannya begitu berbeda. Itulah sebabnya aku menyuruhnya mencari seorang wanita yang bisa mengurusnya, dan ternyata itu adalah kau" kata nyonya Maylin melihat isi kamar yang seperti kapal pecah.
"Ini adalah kamar Christ yang akan menjadi kamar mu juga, maaf ya sayang karena begitu berantakan. Anak itu tidak suka bila ada yang memasuki kamarnya jadi tidak ada yang berani kemari. Aku tidak tau sebenarnya apa yang ia sembunyikan dalam kamarnya ini" sambungnya meratapi kelakuan putranya.
"Sudah aku katakan kak, dia tidak waras" kata Sheila yang tampak begitu kesal dengan kakaknya.
Crystal tertawa dengan perkataan Shila.
"Tidak apa-apa nyonya aku akan merapikan kamar ini" Christal.
"Jangan panggil aku nyonya, panggil aku mama dan suamiku papa. Kau sudah kami anggap menjadi putri kami" kata nyonya Maylin.
"Tidak-tidak kau sedang hamil,bagaimana bisa aku membiarkanmu melakukannya sendirian" lanjutnya lagi.
"Tidak apa ma aku bisa melakukannya. Seperti kata mama barusan jika orang lain yang melakukannya maka Christ akan sangat marah" Crystal.
Nyonya Maylin dan Sheila memperbolehkan Crystal merapikan kamar tersebut.
Crystal mulai merapikan isi kamar mereka.
Mengganti seprai dan bantal menjadi baru, menyusun buku dan dokumen yang berserakan, menyedot debu di lantai serta menyusun kembali ruangan tersebut menjadi baru.
Ketika Crystal membuka lemari mencari seprai baru, dia salah membuka. Dia malah membuka lemari pakaian dalam Christ.
Wajahnya memerah malu karena melihat tumpukan pakaian dalam tersebut. Matanya menatap sesuatu yang tak asing baginya lalu mengambil benda itu.
Matanya melotot melihat itu adalah celana dalamnya yang hilang malam itu.
'Jadi ternyata dia yang menyembunyikannya' batinnya.
Kamar itu berubah menjadi kamar yang begitu mewah dan elegan. Dekorasi dan tatanan propertinya tampak seperti yang dilakukan oleh seorang desainer luar biasa.
Setelah selesai Crystal makan siang bersama dengan Nyonya Maylin dan Sheila. Alex Wu sedang pergi ke Wu's Group.
Setelah penyerahan posisi kemarin, Alex Wu sesekali me-manage perusahaan dari rumah. Sekali sebulan dia akan pergi ke Wu's Group untuk meninjau bagaimana perkembangan yang dibuat oleh Christ. Dan hari itu adalah hari Alex Wu pergi.
Setelah selesai makan Crystal kembali ke kamarnya beristirahat. Dia harus menjaga staminanya demi sang buah hati. Crystal terlelap dalam dunia mimpi.
Ketika tidur Crystal bermimpi buruk. Mimpi kematian Mama dan Papa kandungnya yang kembali lagi menghantui. Mama nya yang bunuh diri tepat di hari ulang tahunnya dan papanya yang meninggal karena kecelakaan saat berjalan pulang dari sekolah.
"Heyy Crystal... Crystal.. Sayang bangun sayang" Christ membangunkan Crystal yang menangis saat tidur.
Crystal terbangun lalu menangis. Trauma kematian orang tuanya kembali. Crystal langsung memeluk Christ secara spontan. Christ mengelus rambut Crystal mencoba menenangkannya.
"Papa mama" teriaknya membuat Christ panik.
Crystal mulai tenang dan berhenti menangis.
"Ada apa sayang apa kau bermimpi buruk?" tanya Christ
Christ yang mendengar itu memeluk Crystal. Hatinya merasa ada yang tidak beres dengan kematian kedua orang tua Crystal.
Dia mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan pikiran Crystal.
"Apa kau yang merapikan ini semua?"
Crystal mengangguk.
"Wahh daebak ini begitu indah sayang, hanya kau yang boleh menyentuh kamar ini. Bahkan Mommy pun tidak boleh" Christ.
Crystal tersenyum lebar untuk pujian yang ia peroleh. Hatinya senang ternyata pria di hadapannya menyayanginya.
"Sekarang sudah malam kau mandilah sana, kita akan malam bersama. Atau apa kau mau aku mandikan?" goda Christ.
Crystal yang malu-malu langsung lari ke kamar mandi tanpa mempersiapakan pakaiannya.
Ketika Crystal mandi, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Crystal. Dia membaca pesan tersebut.
'Hai Crystal ini aku Jacson Wang. Aku mencari nomormu dan mendapatkannya'
Membaca itu Christ menaikkan sebelah alisnya. "Anak ingusan ini mau mendekati wanita ku!".
Christ membalas pesan tersebut
'Hai Jacson, jangan mengganggu wanitaku' tulisnya.
Disebrang sana Jacson yang membaca itu mengernyitkan dahinya. 'Pacar? Tidak apa selama itu bukan suaminya maka aku akan merebutnya' pikirnya.
Crystal keluar dari kamar mandi mengenakan handuk saja. Christ yang melihat itu tersenyum jahil. Berjalan mendekati Crystal dan melepaskan handuknya perlahan.
"Sekarang kau sudah berani ya gadis kecil" katanya ke telinga Crystal. Crystal mencoba lari tapi seperti biasa selalu saja nihil.
"Lepaskan aku lupa mengambil bajuku" Crystal.
"Hahahaha kau ini sangat polos" Christ menaikkan dagu Crystal lalu menciumnya. ******* bibir Crystal perlahan.
Crystal mulai membalasnya.
Menerima balasan itu, membuat Christ teramat senang. Sekitar beberapa menit mereka menyudahi ciuman itu.
Christ pergi mandi dan Crystal mempersiapkan dirinya.
Saat makan malam keluarga Crystal yang duduk di samping Christ merasa gugup. Dia mencoba untuk rileks menikmati makanannya.
"Kalian berdua cepatlah menetapkan tanggal pernikahan. Kalian tidak mungkin terus seperti ini. Cucuku harus memperoleh pengakuan hukum secepatnya" kata Tuan Besar Wu.
Crystal yang mendengar itu terbatuk dan wajahnya memerah.
"Dad aku sudah memikirkannya. Kami akan menikah bulan depan. Untuk resepsi aku serahkan pada mommy saja" Christ.
"Bagus sayang, Karena ini adalah pernikahan penerus utama keluarga Wu maka kita akan mengadakan pesta yang begitu megah" lanjut nyonya Maylin.
Crystal merasa tidak enak dan rendah diri. Dirinya takut bila mana orang akan mengatakan yang tidak-tidak.
"Nyonya bisakah acaranya yang sederhana saja?"
Christ mengerti kecemasan hati Crystal. Dia menggenggam erat tangan Crystal.
"Kau tidak perlu cemas. Aku akan mengurus semuanya" Christ.
Crystal menjadi lega bahwa Christ akan mengatur semuanya. Dia percaya bahwa Christ akan menjaganya.
Mereka semua melanjutkan makan malamnya sambil bersenda gurau. Nyonya Maylin dan Christ bergantian meletakkan potongan daging ke mangkuk Crystal.