
Percayalah,walaupun Digelap malam seperti ini, Tapi pancaran Kebencian, Dan pancaran Emosi yang sangat besar masih terlihat dari Aura yang dikeluarkan Dua gadis ini.
Siapapun kalian, Jika mengetahui dasar apa yang membuat kalian tidak bisa merasakan kasih sayang dari orang tua kalian sendiri ditambah lagi alasannya adalah Terbunuh! Sudah sangat dipastikan pancaran dan Aura membunuh yang kalian keluarkan pasti sangat Besar! Seberapapun usiamu, sehebat apa pun Ilmumu,Semua akan bertambah dua kali lipat dari biasanya jika kalian sedang berada di Fase emosi!
Baik Nan Sha maupun Xai Kai sudah sangat paham dan mengerti apa yang akan terjadi Jika Xai Lin terlalu emosi. Entahlah Merekapum belum mengetahui mengapa Xai Lin bisa memiliki Aura Kegelapan yang sangat kental itu. Yang pasti itu tidak akan berakibat baik jika Xai Lin masih tersulut emosinya sendiri
Tapi sayang, Sudah terlambat jika untuk menghentikan atau mengurangi Emosi Xai Lin saat ini. Karena Digelap malam ini Siluit Mata Xai Lin sudah berubah menjadi Merah! Dan itu membuat Keempat pasang mata yang menyaksikan itu tidak bisa menutupi rasa terkejutnya lagi.
Aura yang dikeluarkan Xai Lin mampu membuat Ketiga laki-laki dewasa yang memiliki ilmu tinggi itu terkena tekanan Kuat. Lalu bagaimana dengan Mo Piu? Gadis itu bahkan sudah memegangi Dadanya yang terasa sesak, Tekanan yang diberikan Xai Lin memang tidak bisa dianggap Reme. Sungguh! Ini sangat membuat dirinya sangat sesak nafas saat ini
“Xai Lin kendalikan dirimu! ” Ucap Xai Kai memcoba menenangkan Xai Lin. Memang sepertinya yang lebih terluka akibat kejadian itu adalah Gadis malang ini.Dan jika membahas tentang Ibunya dia selalu akan susah mengendalikan tekanan Emosi dalam tubuhnya
Tapi sepertinya ucapan Xai Kai hanya angin lalu bagi Xai Lin. Dia tidak mendengar dan tidak memperdulikan apa yang terjadi akibat ulahnya itu. Sebelum ini menarik perhatian Tetua-Tetua di sakte ini, yang bisa sangat mudah mendeteksi aura yang berbeda itu. Secepatnya Mo Jingtan Mematikan Sementara Saraf-saraf Yang ada di Tubuh Xai Lin.
“Huh.. Sebaiknya kita bahas besok saja. Aku minta kalian datanglah ke kediaman ku besok. Dan kita akan melanjutkannya disana.” Ucap Xai Kai sambil menopang tubuh putrinya itu.
Huh.. Mo Piu membuang nafas beratnya. Akhirnya Dia bisa bernafas dengan Normal lagi. Pikirnya.
“Sebenarnya siapa kau ini Lin? Mengapa semua yang ada di dalam dirimu bahkan tidak terdeteksi oleh orang yang memiliki ilmu jauh diatas kita” Itulah pikiran Mo piu tentang Sahabat barunya itu. Memang benar kan? Kalau Xai Lin tidak bisa di tebak. Dan tidak bisa dideteksi oleh siapapun.
“Baiklah Sebaiknya kita segera istirahat” Ujar Nan Sha. Sudah cukup Untuk hari ini pikiranya. Sudah cukup waktunya, Dan sudah cukup kejutannya!
Sepeninggalan Ketiga Orang tadi. Mo piu langsung meringsut kedalam pelukan Kakeknya. Oke didalam otaknya sudah tersusun banyak Strategi untuk membujuk Kakek tua itu agar menjelaskan tentang Pembalasan yang tadi sempat tertunda.
“Jangan Sekarang. Besok kita akan membahasnya bersama-sama” Potong Tetua Mo yang sudah bisa menebak Cucunya itu. Mo Piu mendelik kesal. Memang tidak ada yang bisa dia tutupi dari kakek Komplit nya itu. Yah.. bagaimana tidak Disebut Komplit? Kakek Tua yang sedang ia peluk saat ini sudah menjadi Ayah untuk nya. Ibu baginya, Dan kakek yang menyayangi ny.
“Huhh.. Aku sayang Kakek! ”
Sedangkan disisi lain. Dua Lelaki Yang berkharisma Dan berwibawa tinggi serentak menghembuskan nafas Panjangnya.
“Akhirnya! ” ucap mereka berbarengan.
Lalu terdengar kekehan kecil dari keduanya. Mereka berdua saling pandang satu sama lain. Dan berakhir dengan pelukan hangat yang mereka dapatkan.
“Ternyata kau tidak setua usiamu ya tua bangka! ”Ucap salah satu dari mereka, Membuat Yang mendengarnya mendelik kesal.
“Cih..memangnya kau dan aku apa bedanya? ” Jawabnya kesal. Memang kan? mereka berdua seperti nya tidak ada bedanya?
“Aku merindukannya” Tambah Nya lagi.
Laki-laki yang ada disebelah nya mengetahui siapa yang dia maksud! Dia juga sama rindunya dengan Orang yang dimaksud Sahabatnya itu.
“Huh.. sudahlah sebaiknya kita istirahat sebentar dan membalaskan Ini besok! ” Ucap laki-laki itu yang disetujui oleh Sahabatnya
Entah apa yang dimimpikan Gadis itu. Yang pasti Dalam Gumaman yang terucap dari bibir Xai Lin dia sedang memanggil sebuah Nama.
Entah siapa? Tidak ada yang tau kecuali dirinya.
“Lin!” Suara yang sudah sangat dirindukan Gadis Ini akhirnya terdengar juga.
“Xai!” Oh tidak.. Suara kedua Paman yang dirindukan Sekarang terdengar di telinganya
“Paman!.. Kalian dimana? Cepatlah kembali Hikss Hikss.. ” Menangis! Ehh Menangis? Apa segitu Rindunya Ia dengan Kedua pamannya itu. Mungkin ia? Dan juga tidak. Biar bagaimanapun Rasa rindu dan menantinya lebih ter dominan untuk Naga Hitamnya itu. Yah.. karena dia sudah sangat terikat batin oleh Hewan Satu itu. Tapi rasa rindunya juga tak kalah besar untuk Harimau hitam Ganas yang pernah menyerangnya di awal pertemuan itu. Semua Kata-kata bijak dan nasehat yang diberikan Hewan legendaris satu itu memang terlihat lebih dewasa dari pada Naga Hitam Panjang miliknya
“Lin..apa kau baik-baik saja” Tanya Zho!
“Paman.. ”Lirihnya
““Xai.. Cobalah bersabar sebentar lagi. kami akan segera kembali.” Ujar Zha!
“Tapi kapan?.. Tidak cukupkah waktu selama ini? Aku butuh kalian! ” Akui saja memang Xai Lin lebih terbuka dan lebih bermanja kepada Kedua pamannya itu. Meskipun dia hewan sekalipun? Itu bukan masalah untuk Xai Lin.
“Tenangkan dirimu Lin.. Kami akan cepat kembali”
“Dan kami berharap kau akan memberikan sebuah kabar baik dan kemajuan tentangmu” Timpa Zha.
“Tidak... Aku tidak mau menunggu lagi. Ayo kalian cepat kembali! ” Sarkah Xai Lin
“Apa kau sekarang sudah menjadi Gadis Manja dan bergantung pada Kami Xai Lin! ” Tidak.. jika Paman Zho sudah memanggilnya dengan nama lengkapnya berarti dia sedang marah, Ataupun kecewa. Dan itu sangat buruk Bagi Xai Lin
“Ti.. tidak Paman. Huhh baiklah aku akan menunggu” Jawab Xai Lin cepat. Dia tidak mau jika Pamannya Sedang marah malah memperlambat dia untuk kembali
“Renungkan kesalahanmu! ” Ujar Zho kembali
“Paman.. Maafkan aku”
“Paman.. kau mendengar ku? ”
“Tidak paman.. Aku sungguh minta maaf! ”
“Paman! ”
Huh.. mengapa ini sangat terlihat nyata