XAI LINN

XAI LINN
Ayah!!



Keadaan yang membuat Xai Lin seketika merasakan kegelisahan yang melanda dirinya


setelah, mendapatkan tatapan tajam! dari Gurunya yang selalu membuatnya merasa nyaman ketika berada didekatnya.


Xai Kai yang sudah sangat penasaran dan tidak sabar menunggu jawaban dari Xai Lin kembali bertanya tanpa memperdulikan dampak yang membuat Xai Lin merasa Gugup itu.


“Sekali lagi aku tanya kepadamu Xai Lin dimana kau mendapatkan Kalung ini! ”Ucapnya dingin dan menatap Xai Lin dengan Tatapan tajam yang membuat Xai Lin tambah dilanda kegelisahan. Pasalnya Gurunya tidak pernah berbicara dengan nada itu didepannya dan tidak pernah menatapnya dengan Tatapan yang mampu membuat Hatinya merasa perih ketika melihat mata tajam gurunya itu..


Dengan sekuat tenaga Xai Lin melawan kegundahan dihatinya dan menjawab setenang mungkin Pertanyaan Xai Kai.


“Itu bukan urusanmu.. Dan kembalikan Kalung ku! ”Ucap Xai Lin datar, seperti tidak berpengaruh dengan tatapan tajam gurunya.


Xai Kai yang mendengar itu mendengus kesal. Sedingin apapun dia? Muridnya ini jauh lebih dingin!..


Xai Kai menyadari tindakannya tadi membuat dirinya dilanda rasa bersalah. karena sudah menatap Xai Lin dengan tatapan seperti itu... Entah lah? Dia merasa kalau Xai Lin tidak pantas mendapatkan Tatapan tajam seperti biasanya dia menatap orang lain..


Xai Kai mencoba meredam gejolak yang ada didalam diri dan pikirannya. Mencoba lebih tenang dan mencoba membicarakan tentang ini dengan kepala dingin..


“Xai Lin maafkan gurumu ini.. Bisakah kita membicarakan ini ditempat semula saja? ”Lirihnya sembari mengajak Xai Lin duduk di Pondok istirahat tepat bawah Pohon besar yang membuat Tempat itu Sejuk dan dingin.


Xai Lin yang mendengar nada bicara gurunya sudah kembali seperti semula. Bahkan nadanya tersirat kesedihan yang mendalam yang membuat Xai Lin tidak bisa menolak dan memilih mengikuti gurunya ke pondok istirahat itu. Dia juga penasaran mengapa Gurunya bisa sangat emosional ketika melihat Kalung peninggalan Malaikat nya.


Setelah diam cukup lama, Xai Kai menghela nafas beratnya dan Menatap Xai Lin dengan tatapan memohon dan berkata


“Aku sangat berharap kau mau menjawab dengan jujur satu pertanyaanku kali ini Xai Lin.. Aku meminta kejujuranmu sebagai Muridku. Aku harap kau bisa menjawabnya”Ucap Xai Kai.


“Dari mana kau mendapatkan kalung ini Xai Lin? ”Lirih Xai Kai sambil menatap Xai Lin memohon.


Xai Lin yang mendapatkan tatapan memohon dari gurunya itu merasa tidak tega dan juga merasa bersalah karena sudah membuat seseorang Guru memohon hanya demi kejujurannya saja. Baginya itu tidak pantas dilakukan gurunya.


“Aku tidak tau apa urusan Guru dengan kalung ini? Aku juga tidak tau mengapa Guru bisa mengetahuinya? Yang jelas aku mendapatkan kalung berharga ini dari malaikat ku!”Jawab Xai Lin yang membuat Xai Kai menyerengit bingung. Malaikatnya?


“Hmmm.Maksudmu Malaikat apa Xai Lin. jangan membuatku bingung”Tanyanya.


“Malaikat yang kumaksud adalah *Ibuku! ”


Degg*!


Xai Kai yang mendengar kata terakhir yang dilontarkan Xai Lin membuatnya seperti disambar petir disiang Bolong!


”Tidak.. tidak mungkinkan Xai Lin adalah anak dia?


Tidak.. Di.. Dia apakah anak dari Fang Yin!? ”


“Ib.. ibumu? ”Tanya Xai Kai yang ingin memastikan bahwa pendengaran nya salah.


“Yahh.. ini dari ibuku.Ahh.. Lebih tepatnya Malaikatku”Ucapnya lirih yang membuat Xai Kai bingung ketika melihat sudut mata Xai Lin yang sudah berair.


Xai Kai tidak mau langsung menaruh sebuah kebenaran hanya dengan satu petunjuk saja. Dia merogoh Kantong Bajunya dan mengeluarkan Kalung yang sama membuat sinar diantara kedua kalung itu bersinar Biru terang yang membuat Xai Lin membelalakan matanya tidak percaya..


“Kenapa kalung ibunya ada dua?


Kenapa Kalung itu bersinar sangat terang ketika bersatu dengan kalung gurunya?


Pertanda apa ini sebenarnya?”Banyak pertanyaan yang membuat Xai Lin bingung dengan semua ini.


Sama halnya dengan Xai Lin. Xai Kai juga membulatkan Mata birunya sempurna, ketika melihat sinar yang dipancarkan kalung itu memang kalung ini memang kalung yang diberikannya dulu kepada Fang yin!.


Runtuh sudah ketegarannya!. Hancur sudah Tebing yang selama ini dibangunnya!


Dengan sisa tenaga yang dia punya, Xai Kai kembali bertanya sambil menggenggam Tangan Xai Lin.


“Bisa kau ceritakan Kenapa kalung ini ada bersamamu? Lalu dimana ibumu? Dan juga siapa namanya? ”Tanya Xai Kai berturut-turut.


“Kenapa kau sangat penasaran? ”Tanya Xai Lin curiga.


Huhh... Xai Lin menghembuskan nafas beratnya dan menjawab pertanyaan itu dengan Suara bergetarnya..


“Aku tidak tau apa kejadian yang sebenarnya... Yang pasti Kalung itu aku dapatkan dari ibuku.. Dan malaikatku sudah berada di surga dengan menukar nyawanya untuk keselamatanku!”Ucap Xai Lin sambil mencoba untuk tegar. Entah mengapa?Untuk menolak Xai Kai suatu yang sangat bagi Xai Lin.


Masuk Surga? Mengorbankan Nyawa? Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan.. Jangan katakan ibunya adalah Dia! ~Xai Kai.


“Dan Nama Malaikat penyelamatku Adalah FANG YIN!!! ” Ucap Xai Lin, Melanjutkan omongannya yang terjeda karena sudah Tidak bisa menahan kesedihannya.tanpa terasa Air matanya sudah mengalir dibalik cadarnya.


Xai Kai Terdiam! Nyawanya seakan hilang bersamaan Berhentinya Kalimat Terakhir Xai Lin. Nyawanya Telah pergi! Raganya telah mati! Semuanya seakan dicabut paksa dari tubuhnya yang sekarang telah hancur sehancur Hancurnya!


Apa yang dikatakan Xai Lin tadi?


Seseorang yang selalau membuatnya merasa Bersalah telah Pergi!?


Seseorang yang selalu ada didalam pikirannya telah Mati?!


Seseorang yang membuatnya merasa bersalah dan merasa gelisah disetiap saat telah Meninggalkannya?!


Apa ini Hukuman Dari Sang Pencipta untuknya?


Apa ini Hukuman yang diberikan Dewa untuk nya?


Tapi mengapa? Hukuman ini sangat berat baginya?


Dia.. Dia juga tidak ingin meninggalkan Orang yang telah menolong dan merawatnya tinggal sendirian!


Dia juga tidak Rela... Bahkan sampai sekarang Bayangan Fang Yin saat bersamanya Terus Terngiang-ngiang didalam Benaknya. Dia sangat-sangat Tidak rela meninggalkan Orang Yang dicintainya Seorang diri!


Sekarang Apa?


Orang yang selalu didalam benaknya tidak akan kembali!


Orang yang dicintai nya telah pergi untuk Selamanya!


Kenapa? Kenapa Hukuman ini sangat berat baginya. Dia juga tidak ingin semua ini terjadi jika tidak ada kejadian Itu yang membuatnya merasakan ini semua.


Belum cukupkah waktu yang selama ini untuk menghukumnya dengan tidak pernah mengetahui dimana keberadaan Seorang yang dicintainya?


Belum cukupkah hukuman itu saja? kenapa disaat dia mendapat secercah harapan untuk bisa menemukan kekasihnya malah menjadi tamparan keras untuknya?


Mengapa?.. Belum cukupkah takdir mempermainkannya?.. Apa ini masih kurang lagi?


Xai Lin yang melihat gurunya seakan tak bernyawa setelah mendengar nama ibunya disebutkan, merasa kawatir. Sudah berulang kali dia memanggil gurunya ini tapi tidak satupun yang ditanggapi nya.


“Guru! ”Ucap Xai Lin dengan memberanikan diri memegang Bahu gurunya itu.


Xai Kai yang mendapat sentuhan itu terhenyak kaget. Lamunannya buyar! Siap tidak siap dia harus menerima ini semua. Mau tidak Mau dia harus menelan Kepahitan kenyataan ini.


“Apa itu artinya Xai Lin adalah Putriku? ”


Xai Kai menoleh kearah Xai Lin. Dia langsung merengkuh Tubuh Xai Lin kedalam pelukannya. Tangisnya pecah. Air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi! Hancur sudah! Tinggal satu penyemangatnya! Yah.. hanya tinggal Xai Lin tujuan Hidupnya. Xai Lin, Putrinya! Xai Lin buah hatinya! Xai Lin bukti Dari Cintanya Dan juga Fang Yin!


Xai Lin yang mendapatkan pelukan mendadak itu hanya mampu terdiam membisu. Setelah Getaran tubuh Xai Kai mulai meredah, Xai Kai akhirnya melepaskan Pelukannnya. Dia menatap Xai Lin dalam dan berkata.


“Xai Lin.. Ka.. kau adalah Pu.. Putriku! ”Ucap Xai Kai dan kembali merengkuh Tubuh Xai Lin kedalam dekapannya.


Xai Lin yang mendengar pernyataan Xai Kai terdiam. Apa itu artinya Gurunya adalah Keluarganya?. Apa itu Artinya Xai Kai Adalah Ayahnya?!. Dengan susah payah Xai Lin berucap, Dia merasa suaranya Tercekat ditenggorokan sehingga membuatnya sangat sulit untuk mengatakan sesuatu.


“Ay.. Ayahh! ”Lirih Xai Lin.


Xai Kai hanya menganggukan kepalanya. Rasanya suaranya ikut tercekat mendengar Xai Lin memanggil dirinya dengan Panggilan Itu.


“Terimakasih dewa. Kau sudah memberikan aku hadiah Istimewa dibalik perpisahan diriku dengan kudua paman (Z) ~Xai Lin