XAI LINN

XAI LINN
Kesunyian



Hari sudah menjelang malam, Matahari akan berganti dengan rembulan. Semua yang diberi kejutan dari Xai Lin tadi, Satu persatu meninggalkan Area pertarungan tadi.


Xai Lin memasuki kamarnya. Sepi, sunyi, Dan Tenang.


Itulah yang diinginkan oleh Xai Lin. Dia lebih suka tenang dan hening. Karena itu bisa membuat nya lebih fokus untuk berkultivasi.


.


.


.


Dilain tempat, Para tetua sedang Terlibat dengan perbincangan yang sangat srius.


Mereka semua sedang membicarakan Siapa Xai Lin sebenarnya?


Tempat para tetua yang biasanya Hening dan tenang kini menjadi Ramai Seperti Pasar yang tengah beroperasi di siang hari.


Mereka semua merebutkan Xai Lin untuk menjadikan Xai Lin sebagai Murid mereka.


Sebenarnya ada sebagian dari mereka belum mengetahui siapa nama dan dari mana berasal nya Xai Lin.


Mereka hanya mengenal Xai Lin dengan sebutan Gadis Bercadar Putih..!


Hanya itu yang mereka tau. Bermacam Suara dari mereka yang membuat keadaan menjadi ramai seperti ini.


“Pokoknya Gadis bercadar Putih itu harus menjadi murid ku! Dia kan ber Elemen Api! ” Ucap pria tua yang menatap tajam Tetua Phau Lhi.


Tetua yang bernama Phau Lhi itu, segera membalas tatapan tajam dari Tetua Qhar Yiran itu. Dia juga Menginginkan Xai Lin menjadi Murid nya. Karena mereka semua juga menyaksikan bahwa tadi Xai Lin juga menggunakan Elemen Air. Sama seperti dirinya.


Memang ya? Dimana mana yang namanya Air Dan Api selalu tidak sejalan. Terbukti dari Dua Tetua Qhar Yiran dan Phau Lhi ini. Walaupun mereka Sama-sama Tetua disini, Tapi mereka sama sekali tidak pernah Akur.


“Apa kau buta?, Apa kau tidak melihat dengan Mata jelek mu itu! Kalau Gadis bercadar Putih tadi juga Menggunakan Elemen Air sepertiku! Jadi dia harus menjadi Murid ku. Apa kau paham?! ”Sarkah Phau lhi sembari melayangkan Tatapan tajam nya kearah Qhar Yiran.


“Tapi, Elemen Api nya sudah lebih kental dari pada Kekuatan Elemen Air itu Tua Bangka? ”Balas Qhar Yiran tak kalah tajam melihat Phau lhi.


Bukan Rahasia lagi bagi semua orang yang berada di Sakte ini, Kalau Dua Tetua tidak tau diri ini memang sama sama tidak sadar diri.


Padahal mereka Berdua sudah sama sama Tua. Dan mereka juga pastinya lebih dewasa. Tapi kenapa mereka selalu saja Bertengkar?


Bahkan untuk hal yang kecil sekalipun, jika mereka tidak berdebat mungkin akan membuat mereka Mati Karena Tenggorokan mereka Kegatalan....


Xai Kai yang sedari tadi hanya diam kini sudah tidak tahan mendengar Ucapan dari Kedua Orang tua di hadapannya ini...


Bahkan Tetua lainnya hanya mampu Mendesah Kesal, karena setiap melihat mereka berdua bertemu pasti selalu saja akan ada drama...


“Hentikan!. Sudahlah, Jangan Terus berdebat seperti Anak kecil Tetua Phau lhi, Dan Tetua Qhar Yiran! ”Potong Xai Kai dengan Suara yang sangat lantang.


Suara Xai Lin yang sangat lantang dan tegas mampu membuat keadaan kembali tenang.. Membuat Kedua Tetua yang awalnya Beradu Mulut itu kini hanya terdiam.


Mereka memang jauh lebih Tua dari Xai Kai. Tapi mereka semua Sangat Menghormati Xai Kai..


Hanya Satu dari mereka yang sama sekali tidak terusik dengan kekacauan ini..


Dia lebih memilih Duduk tenang, Sembari bersandar dikursi yang sedang ia tempati.


Diantara Para tetua lainnya, Dia lah yang tidak peduli sama sekali dengan keributan atau kekacauan manapun.


Dia hampir sama dengan Xai Kai. Lebih memilih berliam diri di kediamannya.


Lelaki Tua yang dimaksud tadi Bernama Tetua Mo Jingtan. Dia Tetua yang sangat dihormati oleh semua orang. Bahkan Xai Kai pun ikut Hormat kepadanya walaupun dia Master di Sakte Awan putih ini.


Deruan Nafas lega dari para Tetua yang sudah sangat bosan menonton Adu Argumen dari Tetua Pau lhi dan Qhar Yiran.


“Sudah lah lebih baik biarkan saja Gadis itu yang memilih mau jadi murid siapa? Jangan membuang waktu hanya untuk berdebat tidak berguna ini! ” Ucap Mo jingtan yang sedari tadi hanya diam, Kini dia yang menengahi perseteruan Antara Kedua Tetua Itu.


Setelah mengucapkan itu. Mo jingtan bangkit dari duduknya, dan melangkah pergi ke kediaman nya....


Mereka semua yang mendengar ucapan dari Mojingtan hanya bisa Menurut saja.


Satu persatu Para Tetua telah meninggalkan Tempat Pertemuan. Hanya tertinggal Xai Kai dan Nan Sha.


“Apa kau penasaran dengan Gadis itu Kai? ”Tanya Nan Sha sambil menatap dalam Mata Xai Kai, yang memang dari dulu dia lah yang paling dekat dengan Xai Kai.


“Hanya Sedikit.. ”Balas Xai Kai dengan acuh sambil mengedikan bahunya tak perduli.


Padahal dilubuk hati nya dia sangat penasaran Siapa sebenarnya Xai Lin!


Nan Sha hanya mendesah Pasrah, sembari menatap Punggung Xai Kai yang sudah melangkah pergi kembali ke KeDiaman nya.


Xai Kai selalu saja, Cuek dan Tidak banyak bicara, Setelah Kejadian "itu".


Dia menjadi seorang kultivator Kuat namun Dingin.


Dia menjadi Master, Namun Acuh.


Nan Sha yang memang mengenal Xai Kai sejak dulu hanya mampu berharap suatu hari nanti Xai Kai akan mendapatkan lagi semangat Hidupnya...


.


.


.


Di sebuah Kamar yang minim akan penerangan, Terlihat Xai Lin sedang menatap keluar Jendela, melihat Bulan yang bersinar Terang namun Tanpa Bintang.


Dia merasa, Kalau Bulan itu sama persis seperti hidupnya.


Sendiri..!


Itulah yang dirasakan Xai Lin. Seakan Percuma hidup, Tapi tidak memiliki Teman.


Percuma Ada. Tapi tidak pernah merasakan Kasih Sayang. Sebagai mana Anak seumuran dengan nya.


Dia akui dia memang harus bersyukur, karena masih diberi kesempatan Hidup. Tapi... Hidup yang dijalaninya begitu Terasa Hampa!!


Tanpa Kasih sayang, Tanpa Teman, Dan tanpa Kedua Orang Tua!


Tidak terasa Satu bulir Air mata terjun bebas ke Pipi mulus nya. Jika mengingat ini semua ia tidak kuasa menahan diri agar tetap kuat.


Karena biar gimana pun dia? Sekuat apapun dia? Dia tetap ingin merasakan Kasih sayang seperti Anak lainnya.


Sambil menatap bulan di atas langit yang Gelap, Xai Lin melihat Kalung yang sedari tadi di pegang nya.


Hanya tinggal Kalung ini harapan nya!


Hanya tinggal kalung ini petunjuk nya!


Dia berharap suatu hari nanti semoga aku bisa menemukan Salah Satu keluarga ku meskipun Hanya Satu!


Ayah... Aku berdoa kepada dewa, semoga aku bisa bertemu denganmu. Dengan peninggalan ibu sebagai petunjuk aku akan menemukan mu di kemudian hari!