Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 9



Teman lama.


Saya membiarkan teman lama saya masuk.


Sedikit informasi, kami adalah teman satu kuliah di jurusan yang sama, tapi kami tak pernah berbicara kembali sejak lulus kuliah.


Kami betegur sapa, melepas rindu, dan berbincang menggenai hal-hal yang sering kami bahas sejak di kampus.


"Wajahmu tampak kusut.... apakah kau baik-baik saja?"


Hobbs menegur penampilan saya yang kacau dan aneh.


Saya hanya bisa menganguk dan bertingkat seolah-seolah tak pernah terjadi apa-apa selama ini atas apa yang saya alami.


"Ya... aku baik..."


Setelah basa-basi, berbicang santai sambil menanyai kabar kami masing-masing.


Suara yang tedengar bergema di dalam sana, berasal dari diriku yang membentak perlahan.


"Tapi... aku tidak...."


"Shttt....."


"?"


"Dengarkan aku...."


Mengapa dia menyeringai? Baju Merah mengintip ke wajahku dengan kasar, seolah-olah dia menemukan serangga yang tidak biasa, dan aku mengalihkan pandanganku.


"Tapi.... Hoobs! Aku tak bisa menerima itu..."


"Dengarkan aku terlebih dahulu, ini... suatu hal yang mudah..."


Hoobs melepas kacamatannya, lalu membersihkannya dengan kain bersih yang basah dengan keringat.


Dia mengulurkan selembar kertas kecil kepadaku. Sebuah kartu nama. Secara refleks, saya mengambilnya. "Berhubungan. Kapan saja." CEO K&A Planning (Ltd.) Hoobs Nasution, katanya.


"Dengar, aku sudah memberitahumu sebelumnya: aku tak bisa menerima ini."


Itu adalah kata-kata yang muncul setelah petengkaran kecil di antara kami.


Dua puluh menit kemudian, setelah perdebatan kecil itu mulai redah. Pria tinggi yang menggenakan kemeja bewarna merah dan kacamata bulatnya yang identik denganya itu.


Hoobs mulai mencondongkan tubuh ke depan, berbicara dengan intensitas sedemikian rupa sehingga ludah beterbangan dari bibirnya.


"Kumohon! Kau sangatlah kami butuhkan!"


"Tidak... itu agak sulit bagiku."


Hoobs menggajak ku untuk kembali bekerja, tapi aku berniat menolak permintaan tersebut.


Saya pikir saya mengerti, jika hanya saya pikirkan secara samar-samar, mengapa Hoobs mendatangi rumahku dan membujuk saya. Saat itu, saya pikir baik Hoobs dan saya mungkin mencari semacam dorongan.


Sesuatu seperti angin sepoi-sepoi yang akan membawa saya atau dia ke tujuan baru. Tujuan yang benar dan melupakan depresi panjang ini.


Tapi, aku tetap menggatakan 'tidak' kepadanya. Meski begitu, pria yang ku kenal itu, terus memaksa saya secara terus-menerus.


Hingga pada akhirnya, ia pergi keluar dari rumah saya, membanting pintu dan menggeluarkan kata-kata yang tak bagus untuk di dengar.


Saya jadi teringat apa yang Tuan Eric katakan kepada saya: Jangan hanya mengandalkan catatan yang memusingkan.


Tapi, ironisnya, ia memecatku setelah aku tidak sengaja menghilangkan catatan penting yang sangat beharga itu.


faktanya, semakin mereka meneriaki saya, semakin senang dan bahagia saya. Mengapa? Apakah saya tipe orang seperti itu? Baru bulan lalu, diperintah dan di umpat dengan kata-kata yang sudah lebih dari yang bisa saya terima, namun…


Apa yang berubah dari diri saya selama beberapa minggu setelah ini? "Orang-orang ini bilang mereka sedang membutuhkanku." "Tapi kemudian mereka mendatangi saya dan berkata membutuhkanku? Mereka pasti sedang bercanda!"


Namun, ku rasa itu sudah terlambah, karena perasaan dan apa yang telah saya minati telah terlanjur sakit. Ini bukan masalah personal, tapi seharusnya kalian mengerti apa yang saya rasakan.


Tbc