Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 15



Tak punyak pilihan banyak.


Merasa aman, aku berjalan ke luar dari dalam kamar, dengan suara langkah yang hati-hati dan tidak dapat di dengar.


Aku menggintip melalui kaca kecil di pintu dan kali ini saya bisa merasa lega dan dapat menghirup nafas tenang.


Kedua pria berumur sekitar tiga puluh tahun dengan wajah yang menyeramkan itu telah pergi dari depan pintu saya.


Perlahan, aku membuka kunci pintu dan melirik ke kiri dan kekanan untuk melihat apakah mereka masih di sana atau tidak.


Aku semakin merasa tenang ketika saya tau jika mereka sudah benar-benar pergi.


Namun, ada suatu hal yang menganggu pikiranku, itu adalah sebuah kertas peringatan yang tertempel di depan pintu.


Pesan dari tulisan peringatan itu berbunyi. "Rumah ini di ambil ahli oleh properti."


Aku mencabut kertas yang menempel di pintu, merusak kertas pemberitahuan itu dan melemparnya ke tong pembuangan sampah di halaman depan.


Sejujurnya saya mulai panik, tapi aku tau jika di saat yang sama, aku harus tetap tenang.


Saya menggenakan rompi penutup kepala pada jacket, saya tak punyak pilihan lain selain bersembunyi dari orang-orang kompleks yang mulai menanyai keberadaan saya.


Aku harus kembali ke perpustakaan, membaca lebih banyak lagi menggenai bahasa pemograman dan informasi-informasi menggenai hacking system.


Rencana saya adalah mencari tau informasi sebanyak-banyaknya sebelum saya menjadi seorang geladangan.


Kembali ke perpusatakaan, seorang wanita yang duduk di meja resepsionis yang menggenakan kacamata tebal, dengan bulu pembersih di tangannya, menatap saya sebelum berbicara.


"Tuan? Aku rasa anda sudah pernah ke sini sebelumnya...."


Aku mengganguk perlahan dan membuka mulutku untuk menggatakan.


"Ya..."


"Saya ingin memberitahu anda jika perpustakaan ini tidak di buka untuk orang-orang 'uhuk'.


Aku tak menggerti dengan apa yang ia ingin katakan, suara batuknya memutus kata-kata yang ingin ia sebutkan.


Meski aku sadar jika batuk yang ia keluarkan adalah batuk yang di buat-buat.


"Maaf... apa maksud anda?"


Si wanita penjaga perpustakaan itu hanya tersenyum sambil berkata: "lupakan saja"


Perkataannya, seolah membuat saya tersinggung dan itu megganjal di dalam pikiran saya selama berada di dalam perpustakaan itu.


Aku tau jika perpustakaan itu di buka untuk umum, tapi aku rasa ia terganggu dengan pakaianku yang lusuh dan bau.


Saya telah menyelesaikan kegiatan membaca saya, tetapi alih-alih membaca hingga larut malam seperti sebelumnya.


Kali ini, saya hanya ada di dalam perpustakaan itu selama dua puluh menit.


Tapi, alih-alih membacanya. Aku lebih memutuskan untuk menggambil gambar dari seluruh halaman-halaman buku yang saya inginkan.


Jika di total, mungkin seluruh fotonya menghabiskan sekitar 300 gambar dalam memori heandphone saya.


Aku tak menggambil foto pada setiap halaman buku yang sama. Semuanya di bagi bedasarkan tiga hingga empat buku penting yang dapat memberi saya informasi-informasi penting dalam setiap detail software, program pembahasa, linux hingga bagian-bagian terdalam dari website internet.


Setelah merasa puas dengan pencurian halaman buku itu, aku pergi dari sana tanpa ada seseorang yang curiga sedikitpun terhadapku.


Aku kembali berjalan ke rumah dengan langkah kakiku yang berjalan dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.


Saya masih tetap menggambangkan kebiasanku yang senang dengan hal-hal yang menarik. Seolah, hatiku selalu senang setiap mendapatkan informasi yang saya butuhkan.


Ketika saya sudah hampir beberapa langkah kaki lagi untuk sampai di depan pintu rumah. Seseorang yang tiba-tiba muncul dan menggagetkan saya.


Tanpa saya sadari, aku menggenal sosok pria berumur sekitar empat puluh tahun, berjanggut dan kumis bewarna coklat yang unik.


Pria itu, merupakan tetangga sebelah rumah, ia berdiri di balik pagar-pagar kayu bewarna putih yang menjadi pembatas antara rumahnya dengan halaman kompleks rumahku.


Pada awalnya, saya berpikir jika ia hanya ingin menyapa saya seperti biasa. Namun, di balik kedua bola mata miliknya, membuat saya menduga-duga jika ia akan menggatakan suatu hal yang buruk.


Kemudian, pirasat saya menjadi kenyataan ketika ia membuka mulutnya dan suaranya bisa tedengar dari tenggoraknya yang begetar.


"Baru saja... ada beberapa orang yang datang... mereka terlihat seram dan marah... mereka juga sempat bertanya kepada saya dan tentangga lainnya. Tapi saya menjawab tidak tau."


Saya menatap pria itu ketika dia sedang bicara, setelah ia selesai menggatakan itu. Saya menunduk ke bawah, melihat ladang rumput tipis di halaman rumah saya.


Ya... sudah jelas itu adalah para penagih hutan yang mulai bertanya mengganai cicilan rumah yang belum selesai saya bayar selama satu bulan lebih.


Tanpa berbicara satu katapun kepada si pria dengan berat tubuh sekitar 90 kg itu, aku berjalan pergi dan meninggalkan si pria yang pikirannya masih di penuhi dengan tanda tanya besar.


Tbc