Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 20



Saya tiba di toko tempat penyewaan PC komputer. 


Tuan Aldo terlihat menahan amarah ketika ia melihat pintu kaca toko di buka oleh saya.


Ia melompat keluar dari meja administrasi, berdiri beberapa meter di depan pintu, memasang wajah kesal.


Pada awalnya saya sedikit takut tentang ini, saya sadar bahwa toko penyewaan pc ini adalah rumah saya satu-satunya di sini. Tanpa harus memikirkan tentang biaya tempat tinggal.


Namun, saat aku menatapnya melalui lensa kaca matanya pada mata sempitnya. Tuan Aldo menghapus ekspresinya dalam sedetik, dan segera, bibirnya melebar membentuk senyuman.


"Eh....? Tunggu apa yang baru saja terjadi?"


Melihat bekas luka di bagian bibir dan pipi saya, Tuan Aldo mengerutkan dahinya, pada saat itu, kelihatannya menunjukkan ketidak pura-puraan nya.


"Eh? Apa kau baik-baik saja?"


Saya mengangguk dengan tatapan kosong yang melihat ke lantai ubin bewarna putih.


"Saya baik-baik saja.."


Tuan Aldo terlihat khawatir kepada saya yang berlalu melewatinya dengan menundukan kepala.


Saya berlalu ke dapur, membersihkan telapak tanganku yang kotor dengan debu.


Sesekali, saya berhenti untuk merenung dan berpikir, "hari ini sangat kacau."


Dibutuhkan waktu beberapa hari kemudian untuk bisa benar-benar membuat rasa sakit di bagian wajahku hilang.


Dan dibutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk mengguatkan mental Rasy.


Sepertinya, ia juga takut dengan ancaman-ancaman yang di dapatkan dari pria mafia itu.


Saya tak melihatnya muncul di meja PC-nya seperti biasa.


Komputer yang ia gunakan, sudah agak lama tak di gunakan oleh siapapun. Anehnya, tak ada seorangpun penyewa yang berani memakai komputernya, seolah komputer itu sudah di takdirkan untuk Rasy.


Lima hari kemudian, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, suasana toko telah sepi dan pejalan kaki atau pengguna kendaraan umum juga sudah mulai berkurang.


Saat itu, saya tengah sibuk mencuci piring dan gelas kotor yang menyisakan noda, setelah selesai dengan tumpukan piring di wastafel, selanjutnya saya akan menggepel lantai-lantai toko yang dingin itu, menggenakan sabun pembersih lantai yang menyebarkan wangi lavander.


Jika di pikir-pikir, maka seharusnya aku telah memberikan dampak yang cukup baik bagi toko ini. Di luar dari si pemilik toko yang malas dan gila dengan kertas-kertas uang.


Kalian tak perlu tanya mengapa. Simpelnya, boss dari pemilik toko ini sudah terlelap di alam mimpinya pada saat saya tengah sibuk menutup pintu dan jendela.


"Tok..... Tok.... Tok...."


Suara ketukan pintu, tedengar dari pintu depan. Suara itu tedengar nyaring, itu karena toko ini memiliki pintu dan kaca yang lebih banyak ketimbang jumlah besi atau beton.


Aku sedang berada di dapur seperti apa yang sudah saya katakan, aku beranjak dari depan wastafel, menggintip di balik tirai dapur, suara nyaring ketukannya dapat tengar meski air keran tengah menyala, tapi itu tak mampu membangunkan Tuan Aldo.


Orang yang menggetuk, bisa saya lihat dengan jelas, ia bukan penaggih hutang, hantu, anggota mafia atau sejenisnya.


Melainkan, itu adalah si bocah remaja yang datang.


Bagi saya ini cukup aneh setelah sayang tak melihatnya selama beberapa hari. Meski tak datang di waktu toko buka, bukan berarti ia harus datang di waktu malam hari bukan?


Aku sempat terdiam untuk selusin detik yang berharga, setelah lamunan saya terpecah, saya melangkah keluar melewati tirai dapur, berjalan menggendap-endap melewati sofa panjang yang tengah di pakai Tuan Aldo.


Ia tak menggenakan pakaian serba hitam seperti biasanya, melainkan T-shirt lengan panjang berwarna putih, dengan celana jeans pendek yang bewarna abu-abu.


Berjalan menuju ke gagang pintu kaca, knop besi yang terpasang di pintu membuat orang menganggapnya sebagai benda dekoratif, yang tidak bisa dibuka.


Memasukan kunci tembaga kecil dari kantong jacket saya ke dalam lubang kunci, dan memutarnya, menimbulkan dengan jelas suara Clink terbuka.


Aku menggengam kenop besi dan menariknya, pintu kaca seberat 2,57 kg itu terdorong terbuka dan terbuka.


Saya buru-buru berjalan keluar sambil menutup pintu.


Tbc