Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 28



Sepuluh menit kemudian, orang-orang pergi dan masuk ke dalam toko secara bergantian. Sedangkan itu, tuan Aldo tak terlihat sedikitpun batang hidungnya. Entah hal apa yang sedang dia lakukan hingga selama ini.


Aku menggetuk meja kayu dengan bimbang, saya menunggu kehadiran tuan Aldo yang bertugas menjaga meja resepsionis.


Kemudian, dari balik kain tebal, tuan Aldo berjalan keluar sambil memegang perutnya. Ia berjalan dengan sangat lambat seperti orang hamil.


Tuan Aldo mendecakkan lidahnya seolah tengah merasakan sakit.


"Remy...."


"Bagus jika anda sudah datang, silakan duduk, saya ada suatu urusan."


Saya mendorong tuan Aldo menuju ke meja resepsionisnya. Kemudian bergegas pergi tanpa memperdulikan apapun.


Aku membukan punggungku di samping Rasy.


"Bagaimana?"


Saya melompat ke atas bangku dengan cepat, hingga membuat beberapa orang di sekitar menjadi terkejut.


Rasy tak menjawab, ia terlihat sangat fokus, tatapannya tak bisa di arahkan kemanapun, sedangkan ekspresi wajahnya sangat datar tanpa ada ekspresi.


Suasana jantung saya menjadi sangat tegang atas sikap diam Rasy.


Suara lembut dan lembut kipas bisa didengar.


Jika Anda tidak mendengarkannya dengan saksama, Anda tidak akan menyadarinya sama sekali.


Jelas, itu adalah pendingin kipas hening kelas atas!


Di layar, ketika itu hanya menunjukkan beberapa detail, PC secara otomatis restart sendiri!


Kemudian, proses itu terus berulang-ulang.


"Apa yang terjadi?"


Wajah Rasy sedikit tegang. Kemudian dia berbicara dengan nada pelan.


"Billingnya habis... tapi saya berhasil memenangkan 6 pertandingan."


"Berarti berapa yang kita dapatkan?"


Rasy menelan ludah, lalu menjawab dengan tenang, "Sekitar dua juta."


"Hasil yang bagus....!" Seru ku yang bersemangat, "Apakah itu cukup untuk memulai saham?"


"Kalau begitu.... saya tau harus memulai dari mana....!" Seruku yang menarik tangan Rasy pergi dari kursi komputernya.


Sambil menggandeng tanganku, Rasy bertanya dengan heran, "M-mau kemana kita??"


Saya tersenyum dengan lebar.


"Tempat dimana aku belajar bahasa pemograman!"


Berjalan keluar dari toko, teguran keras yang saya dapat dari tuan Aldo yang marah, "maaf tuan! Tapi ada keperluan penting!"


Tuan Aldo menggeram dengan kesal dan pasrah, sedangkan kami sudah berjalan keluar dari toko, menerobos pejalan kaki yang melintas, melewati setiap lampu lalulintas kota yang ramai, gedung-gedung pencakar langit dan halte bus yang sesak.


"Pak? Kita tidak naik bus?" Tanya Rasy yang menunjuk bus kota yang lewat.


Aku menatap Rasy selama tiga detik, lalu berpaling, "Tidak... kita hanya perlu berjalan beberapa kilo meter untuk bisa sampai disana."


Tanpa ada pertanyaan sedikitpun yang Rasy ajukan, saya membawanya ke sebuah perpustakaan tengah kota.


Tempat dimana aku sering kesini untuk mencari beberapa hal penting menggenai sistem komputer.


Rasy melihat ke sekeliling ruangan.


"Ini..."


"Perpustakaan?"


"Hm... ya... saya pernah melihat menggenai buku saham yang baik... ayo kita cari..."


"Pak.....? Tidakkah lebih baik jika kita mencari cara lewat internet?"


"Tak ada orang yang mau berbagi ilmu uang di internet... semuanya harus bayar... termasuk buku."


Saya berjalan masuk, membuka gemercik bel pintu, Rasy berjalan di belakang saya.


Saya menatap ke arah yang berlawanan ketika melewati meja administrasi. Tentu, saya masih ingat dengan sindiran yang pernah ia katakan pada saya.


Tapi sekarang aku sudah tebal dan kuat dengan sindiran orang-orang yang aku temui.


Beruntung ia sedang sibuk menatap ponselnya tanpa menggetahui keberadaanku.


Tbc