Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 18



Menyelamatkan seseorang.


Orang yang tengah mereka cari, adalah; seorang pria remaja yang menggenakan jacket bewarna hitam, celana jeans compang-camping, rambut cempak ala tentara dan tubuh tinggi yang cukup kurus.


Saya melihat jika tangan si anak remaja iti tengah di tarik oleh seseorang, matanya tertunduk oleh penutup kepala dari jacketnya yang telah menutupi setengah kepalanya.


Saya bisa melihat jika dua pria berbadan besar yang sedang merangkul pundak anak remaja itu berkata.


"Kita dapat bicarakan ini di depan nak...."


Para penyewa komputer lainnya, melirik dan melihat satu pria pengguna jas dan dua pria kekar yang siap memukul seseorang, tengah sibuk memaksa si pria remaja yang memakai pakaian serba hitam itu untuk bicara di luar.


Nampaknya, anak remaja yang handal memaikan komputer itu menolak untuk ikut dengan ketiga pria yang tidak ia kenal itu.


Pria-pria itu memiliki ciri-ciri unik yang mudah di kenali, seperti rambut pirang dan suara dengan nada senyuman yang dingin di belakang kedua temannya. Pria remaja itu memiliki rambut hitam yang tipis, hampir hanya setinggi 3 centimeter dan dia memiliki mata yang besar dengan pupil yang besar.


"Saya tidak mengenali mereka. Tolong... lepaskan saya!"


"Diammm....!"


Sedikit menarik si pria remaja ke arah luar deretan. Teriakan si remaja yang tak menggenal orang-orang yang mencoba menariknya, sedangkan salah satu dari orakg bertubuh kekar itu menutup mulutnya sambil berbisik di telingga si anak remaja.


Aku berjalan keluar dari balik dinding dapur yang menjadi temlat persembunyiaanku. Tuan Aldo hanya terlihat menggeluarkan senyum tipis sambil memanggut-manggutkan kepalanya.


"Siapa mereka?"


Aku memecahkan lamunan dari aksi Tuan Aldo.


Tuan Aldo melirik saya dan berkata dengan senang.


"Si rambut pirang itu sudah menjelaskan saya, bahwa anak itu adalah anak orang kaya yang suka bermain. Karena marah, ayahnya membayar mereka untuk membawa si anak ke rumah."


Aku mengeryitkan dahiku tidak percaya. Tapi, dari kata-kata Tuan Aldo, ia terlihat sangat percaya dengan apa yang pria berjas itu katakan.


"Kasus seperti ini sudah sering terjadi dan aku pernah melihatnya langsung." Ucap Tuan Aldo yang berlalu pergi.


Boss ku berjalan ke dapur, sedangkan saya melirik ke arah pintu keluar yang baru di lalui oleh suara ricuh antara tarik-menarik si anak remaja dengan ketiga pria yang membawanya.


Aku merasa ada yang tidak beres, seolah akan ada hal buruk yang terjadi kepada si anak remaja. Saya berlalu keluar dari pintu.


Saya telah mengikuti mereka terlepas dari diri saya sendiri, dan saya sedang menonton adegan pemaksaan itu masih keluar dari bayang-bayang masyarakat pejalan kaki yang melihat.


Saya bertanya-tanya di dalam diri saya.


Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya berbicara dengan mereka? Haruskah saya membantunya? Saya ingat hari itu di mana si pria remaja memberi tau saya tentang DDOS Attack.


"Tetapi-" Mungkin dia baik-baik saja.


Mungkin mereka semua sudah saling kenal. Mungkin mereka hanyalah orang-orang suruhan yang di tugaskan untuk membawa si anak remaja.


"Hah? Tunggu...!" Tiba-tiba, aku mendengar jeritan lirih si 'bocah' itu. Pria berambut pirang dengan tindikan itu melingkarkan lengannya di bahunya dan mencoba mengantarnya ke sebuah gang kecil yang sempit dengan paksa.


sebelum saya sempat berpikir, saya sudah berlari.


"Eh!!?? Apaan ini?!"


Aku mendorong ketiga pria itu, membuka jalan di antara pria berambut pirang dan si remaja itu.


"Ayo!"


"Hah?!"


Aku meraih tangannya dan pergi tanpa melihat ke belakang. Si remaja juga langsung ikut berlari di belakangku, celah sempit di antara gedung itu, membuat kecepatan lari kami agak pelan.


"Eh!! Berhenti disana!"


Saya mendengar orang-orang berteriak di belakang kami ketika saya berlari untuk semua yang saya layak melalui jalan-jalan yang tidak dikenal.


Saya terlalu fokus untuk menawarkan jaminan seperti yang akan saya jelaskan nanti atau Jangan khawatir; kamu dapat mempercayaiku.


Rambut dan T-shirt saya semakin berat karena keringat panas. Saya pikir kami keluar dari jalan sempit antara gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. tetapi hal berikutnya yang saya tahu, kami berlari di ujung gang yang lebih jauh.


"Wow!"


Salah satu dari dua orang itu keluar dari gang lainnya tepat di depan kami. Sial, mereka akan meninju kita—Dan sesaat kemudian, seseorang memegang kerah bajuku dari belakang dan menarikku kembali.


"Dasar penjaga toko sialan!!"


Aku jatuh tertelungkup ke aspal yang panas, sel-sel tubuhku bisa langsung meresponnya dan pria berambut pirang itu menarik penutup kepala dari jacket si pria remaja.


Setelah dia mengatur napasnya, si pria besar yang menarik kerah bajuku dan menggangkat tubuhku untuk berdiri, memegang kedua tanganku, kemudian, teman satunya memukul pipi dan perutku dengan ringan.


"Hey, hey, hey, Nak—” Suaranya rendah dan penuh tawa. Dia mengangkat tangan kanannya. "Apa kamu mencoba lari atas perlakuanmu yang merugikan kami ?!" Kali ini, dia menampar pipi si pria remaja dengan semua yang dia miliki.


Dengan putus asa menahan rasa sakit dan ketakutan, aku balas berteriak padanya. "Dia tidak mau pergi denganmu!"


"Hey! Apa kau tak tau!? Jika dia telah membuatku rugi dengan meretas seluruh data!?"


Terkejut, aku menatap pria remaja itu. Pria berambut pirang dengan pakaian jas itu berdiri tepat di sebelahnya.


Dia melihat ke bawah dengan tidak nyaman.


"…"


Mustahil. Pikiranku menjadi kosong. Lalu yang baru saja kulakukan adalah—Tampaknya agak terlambat untuk membicarakan hal ini sekarang, tetapi pria berambut pirang itu tersenyum penuh pengertian.


Tulang pipiku bergetar. Kali ini, kedua pria betubuh kekar yang memiliki tinggi dua kali lipat dariku, memukulku secara bergantian. Rasa sakit meledak jauh di belakang mata saya, dan seluruh tubuh saya mulai mati rasa saat rasa besi menyebar melalui mulut saya.


Rasa sakit itu, ku anggap sebagai akibat dari diriku yang ikut campur dengan permasalahan ini.


"Tolong, tidak, hentikan—" Aku bisa mendengar jeritan si pria remaja itu. Aku merasa sangat menyedihkan—perasaan itu menyebar ke seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki, diikuti dengan kemarahan.


Aku memuntahkan beberapa tetes darah dari mulut dan hidungku, kantung mataku yang bengkak karena kekurang tidur. Semakin bertambah parah.


Setelah merasa puas dengan tugas memukuli aku, mereka melepas kedua tanganku dan tubuhku langsung otomatis terjatuh dan tersungkur di lantai panas jalan gang sempit itu.


Si pria berambut pirang yang lancip itu juga melepas si remaja dari genggaman tangannya.


Sebelum ketiga orang itu benar-benar, mereka memberikan ancaman kepada si anak.


"Dengar!! Jika kau meretas dan menggangu bisnisku lagi! Kau akan ku bunuh dengan siksaan yang keji!!! Begitupun juga dengan kau!"


Aku jadi terlibat dengan kasus ini. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, bila aku mendengar dari kalimat ancaman itu, mungkin kemarahan mereka di akibatkan dari peretasan yang di alami oleh bisnis ilegal mereka di dunia online.


“Sialan…!” Suaraku bergetar ketika tiga orang yang memukuli saya telah pergi dari sana.


Si pria membantu saya untuk berdiri. Tatapan mata saya sulit untuk fokus selama beberapa saat.


"Maafkan saya..."


Si pria dengan setelan jacket dan celana pendek bewarna hitam itu meminta maaf kepada saya.


Aku menggelengkan kepala sambil berkata kepadanya. "Ini bukan salah anda.... tapi salah orang-orang yang memukuli aku tanpa ampun itu."


Saya menggatakan itu karena aku tau jika kondisi sudau jauh lebih aman daripada sebelumnya.


Si anak remaja itu membiarkan tangan saya merangkul pundaknya. Lalu, ia membawa saya ke tempat yang aman, jauh dari orang-orang kejam dan jauh dari toko tempat saya bekerja.


Mungkin, tuan Aldo akan marah karena saya meninggalkan pekerjaan.


Jadi, saya harus membuat alasan yang jelas dan tedengar masuk akal kepada tuan Aldo.


Tbc