
Berjalan melewati gerbang tiket yang ramai di stasiun dan turun menggunakan tangga eskalator.
Orang-orang sibuk yang terlalu fokus pada kerjaan mereka, membuat saya selalu bertanya-tanya tentang orang yang mereka rindukan.
Aku berjalam meninggalkan stasiun kereta.
Melewati beberapa gedung pencakar langit yang besar. Seketika ingatan ku kembali ke pada saat pertama kali aku datang dan menginjakkan kaki di kota yang berbeda.
suasana yang berbeda, aroma yang berbeda, makanan yang berbeda, orang-orang yang berbeda dan bahasa yang berbeda.
Aku terkejut dan terpukau ketika melihat gedung-gedung tinggi yang luas. Di saat itu, aku bergumang menggenai kapan aku menjadi bagian peting di kota itu.
Angin sepoi-sepoi bertiup di atasku, mengacak-acak rambutku dengan lembut. Itu bukan dari AC pendingin ruangan. Melainkan, itu adalah angin yang nyata, jenis angin yang membawa rasa dan aroma padang rumput dari langit yang jauh...
Seolah aku merindukan desa di masa kecil ku. Ingin sekali aku rasanya kembali ke desa. Namun, aku terlalu sibuk dengan jadwal yang padat, tanpa ada sedikit pun libur.
Di tambah lagi, aku harus terus bekerja keras untuk uang yang akan digunakan sebagai biaya kesembuhan ayahku.
Sebagai tambahan informasi, aku pergi dari kampunga halamanku dengan uang yang saya dapatkan dari hasil menjual hasil panen. Lalu, sebagai tanda terimah kasih, saya harus memberikan uang saya ketika sukses.
Ketika saya mendengar bahwa ayahku harus di larikan kerumah sakit. Saya langsung bekerja dengan keras untuk memberi uang.
Keluar dari imajinasi ku. Sebuah gedung besar yang memiliki pintu kaca otomatis yang terbuka ketika sensornya mendeteksi langkah kaki seseorang.
Seorang satpam paru baya menyambutku, salam penghormatan kepada ku yang memiliki jabatan tinggi. Jika ada orang yang berpikir bahwa manager adalah orang yang sukses dan kaya.
Aku tak memiliki mobil mewah, sebab uang yang ku dapatkan selalu habis untuk biaya rumah cicilan dan biaya orang tua ku.
Rumah ku sendiri, adalah rumah sederhana dengan luas dan lebar tanah yang tak begitu besar. Bagi ku, yang terpenting adalah ruang yang cukup untuk tubuh ku beristrirahat dengan nyaman dan tenang.
Selain harus menjaga kenyamanan tidur, aku juga harus tetap menjaga pola makan dan hidup sehat.
Meski begitu, tapi pada kenyataanya. Saya masih menggalami kesulitan tidur selama menjabat sebagai manager perusahaan.
Tapi, itu bukan saat yang tepat untuk berhenti dan menggeluh.
Saya selalu mengembankan beberapa kebiasaan saya sebagai seorang manajer di kantor. Seperti menyapa dan tersenyum kepada orang-orang sekitar.
"Hallo frey.... hello elma...."
Aku selalu menyapa beberapa pegawal yang sibuk dengan urusan mereka. Benar-benar sibuk, saya tau jika orang-orang ini membalas saya karena rasa hormat mereka sebagai seorang karyawan terhadap atasan dan pemimpin. Bukan karena rasa peduli atau kebersamaan mereka terhadap satu sama lain.
Tersenyum miris melihat orang-orang sibuk yang tidak memperdulikan saya.
Bergumang kecil di dalam pikiranku, "Mereka adalah orang-orang super sibuk seperti biasa. Jika saya adalah orang yang memiliki bagian kecil di perusahaan, sudah tentu saya tak akan mendapat rasa hormat ini."
Tbc