Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 7



Pria malang itu seperti anak kapal yang hilang dan tanpa arah tujuan yang pasti, terombang-ambing tanpa kepastian selama satu bulan kemudian.


Aku selalu menggemban beberapa kebiasan di setiap pagi harinya setelah saya terbangun, seperti mengenakan T-shirt putih, jins yang digulung, dan sepatu kets, itu selalu ku lakukan setelah selesai membersihkan tubuhku.


Poni hitam pekat sedikit menutupi penglihatan ku, dan bulu-bulu halus di bawah hidung dang bibir ku sudah mulai tumbuh. Seolah-olah aku membiarkannya tumbuh selama sebulan kebelakang.


Tempat ternyaman untuk ku menenangkan diri adalah sebuah bar. Segelas alkohol, itu adalah hal yang wajar untuk orang-orang seusia ku.


Sejujurnya aku adalah orang yang tak pernah pergi ke bar ataupun meneguk segelas alkohol, tetapi pikiran ku yang kacau selama beberapa saat itu, membuat ku selalu tertuntun untuk kesana.


Namun, setelah uang ku habis. Aku hanya pergi tidur selama dua belas jam lebih, tanpa pikiran-pikiran yang berarti.


Layaknya orang yang sakit, saya menggalami hal itu. Tapi, letak perbedaan sakit itu ada pada bagian-bagian tertentu.


Musim hujan itu adalah salah satu titik terendah dalam hidupku, dan aku hanya terombang-ambing tanpa tujuan selama beberapa waktu.


Aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan cara tertidur selama sebulan penuh. Dering ponsel selalu ku dengar di setiap pagi dan pada malam harinya. Namun, aku selalu menggabaikan itu.


Saya tau, jika itu berasal dari keluarga saya yang menanyakan kabar. Tapi, setiap saya berusaha ingin mengangkatnya, saya selalu tertahan dengan pikiran-pikiran seperti; apakah mereka masih menerima keadaan saya? Apa yang akan mereka katakan jika melihat saya seperti ini? Atau adakah hal lain yang akan mereka bahas selain uang yang saya hasilkan?


Aku menganggap jika itu tak pernah berbunyi sebelumnya. Lalu, bunyi suara dari ketukan pintu kayu ku yang berusaha di buka. Itu adalah penaggih hutan yang memintaku membaca tagihan rumah itu.


Waktu selama sebulan kebelakang, aku sengaja menghabiskan setiap hari dengan bermalas-malasan sebagai semacam protes terhadap sesuatu.


Jika aku harus mengatakannya dengan kata-kata, sesuatu itu mungkin adalah "orang-orang jahat yang merusak ku melalui sebuah bayangan."


Aku selalu berpikir tentang sebuah masalah yang sudah tak bisa ku tangani sendiri, itu adalah


"orang tua" atau "masyarakat" atau "harapan" atau "beban" dan "tanggung jawab."


Meskipun saya tahu itu adalah cara yang kekanak-kanakan untuk memberontak, saya tidak bisa memaksakan diri untuk mulai mencari pekerjaan baru. Aku selalu punya waktu untuk menenangkan diri, kataku pada diri sendiri.


Itu masih pagi. Aku tidak siap. Aku belum ingin tunduk kembali atau melihat sebuah beban pikiran ku yang kembali teringat dengan kejadian pahit itu.


Rasanya seperti di bunuh dengan death note oleh orang yang tak ku ketahui. Atau singkatnya, seseorang telah membunuh jiwaku.


Setiap kali aku tertidur, aku selalu menggigau tentang pembunuh itu, aku juga selalu berpikir tentang bagaimana cara membalas perbuatan orang iseng yang telah menghancurkan karir dan pekerjaanku itu.


Apa yang akan saya lakukan ketika melihat wajah si pelaku? Tentu saja. Menghajarnya.


Aku tau, ia hebat di dunia maya. Tapi, itu tak menjelaskan jika ia bisa bertahan di kehidupan luar yang ganas.


Tbc