Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 21



Saya membuka pintu kaca toko.


Kemudian menutupnya dengan sangat berhati-hati dan rapat.


"Ada apa?"


"Mau ikut denganku ke persimpangan jalan?"


"Untuk apa?"


"Aku akan melakukan sesuatu hal yang menyenangkan...."


"....."


Aku tak mengerti dengan apa yang ia katakan tentang 'persimpangan' dan 'menyenangkan'.


Lagipula, hal menyenangkan seperti apa yang akan terjadi bila aku berdiri di persimpangan jalan?


Tanpa berlama-lama, Rasy berjalan pergi meninggalkan saya yang masih berdiri di depan pintu dengan tatapan kosong.


"Hey... ayo.... anggap saja ini sebagai tanda terimah kasih."


Tanpa alasan yang jelas, saya menggikuti langkah remaja itu, tepat di belakangnya dan mengikuti setiap langkahnya tanpa tujuan yang pasti.


Seperti ada magnet yang menarik tubuh saya. Kami pergi, bersatu dengan pejalan kaki malam di tengah sinar-sinar lampu kota, suara motor sport yang lewat, tedengar sangat berisik dan sesekali membuat saya merasa terganggu.


Melewati gang-gang kecil kota, menuju ke sebuah perempat jalan raya yang ramai dan luas.


Videotron berukuran raksasa, tepasang di tengah-tengah gedung pencakar langit dari mall.


Plang lampu merah menyala secara bergantian. Hitungan mundur dari '60 detik' terlihat, para penyebrang jalan, memanfaatkan kendaraan yang berhenti untuk menyebrangin jalan.


"Tunggu sebentar di sana..."


Rasy, menarik sebuah Macbook putih dari tas ransel pundaknya.


Menyalakannya, dan kemudian memprogram sesuatu pada macbooknya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Duduk di tepi trotoar penyebrangan jalan, kami bisa melihat tepat di depan kami, angin sepoi-sepoi malam yang menghembus dan menembus tubuhku, berasal dari kedaraan malam yang melintas dengan cepat.


"Tunggu sebentar lagi, maka kau akan takjub."


Rasy mengetik dengan fokus secara sistematis pada keyboard.


"Biarkan aku beraksi terlebih dahulu."


Sesuai dengan apa yang ia katakan, saya menunggunya selesai.


Saya menduga, jika Rasy berencana melakukan sesuatu pada alat-alat elektronik yang memiliki signal kabel.


Melacak alamat ip dari videotron berukuran 6x4 meter itu.


Secara misterius, layar videotron yang tengah menunjukan video iklan smartphone berganti dan menghilang menjadi layar putih yang datar.


Setelah saya amati baik-baik, Videotron itu menunjukan gambar yang sama dengan layar Macbook milik Rasy.


"Eh? Apa yang terjadi dengan Videotron itu?"


"Lihatlah baik-baik...."


Setelah menghabiskan 3 menit penuh, Rasy dapat menemukan file dari lautan file berantakan bernama 'SP' dari file database tv besar yang mengantung di tengah gedung itu.


Setelah memasukkan file database SP, Rasy melalui perintah pencarian, dapat dengan cepat menemukan data. Kemudian dari opsi yang tersedia, ia menekan sebuah video, secara otomatis, videotron itu ikut terubah.


Video musik Rock yang berisik, dimainkan pada Videotron yang telah tersambung menjadi satu dengan data milik Rasy.


"Wah? Apa yang terjadi?"


"Bukan hanya itu saja."


Rasy menggatakan itu dengan tenang, tak ada ketakutan atau kepanikan di wajahnya, seolah ia mengangap itu biasa saja.


Setelah mencari-cari sebuah system otomatis pada tiang lampu merah di tengah jalan yang padat dengan kendaraan.


"Lihat..."


Rasy menunjuk sebuah tiang lampu


Lalulintas yang telah berubah menjadi kacau, warna di setiap detik berubah menjadi acak. Kemudian, time enam puluh detik berubah menjadi angka nol.


Kejadian itu, sontak membuat orang-orang terkejut dan heran sekaligus.


Rasy seakan menunjukan kepada saya, bahwa seperti itulah cara seorang peretas untuk bersenang-senang.


"Baiklah....! Jika semua orang telah memperhatikan dengan baik... maka, ini puncak acaranya."


Rasy menggatakan hal itu dengan sangat serius dan bersemangat. Padahal, orang-orang pejalan kaki dan di dalam kendaraan, bisa melihat aksinya itu.


Namun, seakan tidak peduli dengan apa yang orang lain lihat menggenai dirinya.


Ia dengan sibuk, mencari opsi sebuah video, mesin pencarian cepat ia gunakan dalam aksinya.


Tak hanya itu, mobil dan motor yang terjebak di lalulintas, membunyikan terompet klakson.


Tiang lalulintas, berubah menjadi warna merah, waktu tertujuh pada angka seribu. Jalan penyebrangan, bersinar dengan warna merah tanda di larang menyebrang.


Semua seakan kacau, saya mulai sedikit panik dengan aksinya yang merepotkan orang-orang.


"Hey... hentikan...orang-orang lalulintas mulai marah dengan apa yang kamu perbuat."


"Jika begitu... suruh mereka menyaksikan video ini."


Rasy tak bergeming menggenai peringatan yang saya katakan. Ia memulai sebuah video yang ada di dalam galeri penyimpanan laptopnya.


Video itu, berisi sebuah petisi dari ancaman-ancaman kasus kejahatan internet yang pernah terjadi.


Saya mendonggakan kepalaku, tercenggang dan terdiam di tempat tanpa tau harus berkata apa.


Kemudian, selama beberapa saat setelah saya terdiam setelah melihat video yang di putar pada videotron elektronik yang telah di hack itu.


Saya mendapati Rasy telah berjalan pergi di belakang saya.


Pergi meninggalkan lokasi kejadian begitu saja, saya berjalan mengekor di belakang Rasy sambil berkata, "Rasy? Apa kau yakin jika tak apa meninggalkan semua kekacauwan yang kau buat?"


Rasy tersenyum tipis di balik kerudung jacketnya. Ia berkata dengan pelan, "Tak apa. Barkan saja.... polisi internet—'mh...' atau maksudku adalah Cyber Army.... anggap saja itu sebagai tugas yang harus mereka lakukan sekarang..."


Rasy, berjalan dengan santai di depan saya. Aku merasa curiga dengan remaja yang sangat misterius itu, ia tampak sangat ahli dan tau menggenai banyak hal.


Cukup sulit untuk memulai pembicaraan kepadanya. Ia tampak santai dan tenang, seperti tak ada kejadian apapun yang sedang terjadi, bagaikan serigala yang tenang di balik gumpalan salju.


Tbc