Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 17



Setelah hari itu.


Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan tugas-tugas yang tedengar hampir sama seperti pekerjaan rumahku yang biasa, seperti; merapihkan sampah-sampah plastik yang berserakan, mencuci kamar mandi yang mulai menggeluarkan bau tak sedap, membuat spaggheti hingga mi instan kepada para penyewa yang lapar, menggelap mouse, papan keyboard dan layar monitor yang mulai di masuki oleh partikel-partikel kecil dari berdebu.


Sedangkan itu, pak Aldo (nama sang pemilik toko.) Hanya sibuk memegang uang di meja administrasi, dia pria yang sangat handal dan sudah terbiasa dengan menghafal pesanan para pelanggan.


Tak ada catatan pesanan para pelanggan yang terlewatkan olehnya. Bahkan, dia ingat dengan seluruh pesanan orang yang telah duduk selama delapan jam lebih.


Pada awalnya, sebenarnya aku tidak pernah berpikir satu kali pun, jika laki-laki dengan rambut lebat itu akan menjadi pegawai swasta karena penampilan dan cara bertindak nya. Dia yang lebih suka dengan uang dan makan.


Sebagai contoh. Selama bekerja di sini, saya selalu menggembangkan beberapa kebiasa saya di malam hari.


Ketika pak Aldo tertidur di sofa panjang bewarna coklat brownies yang nyaman dengan beberapa cemilan.


Aku secara diam-diam pergi menuju ke salah satu sudut meja komputer yang terhalang dari jangkuannya. Menyalakannya secara diam-diam, menggoperasikan komputer itu untuk membaca E-book di setiap malam.


Sudah tak terhitung, berapa kata yang sudah saya baca selama beberapa hari.


Rasanya, E-book memiliki jumlah empat ratus kata yang singkat dan pendek bagiku.


Karena hal itu, saya dapat mengerti dan memahami keseluruan yang ada di internet.


Bahkan, karena sudah sangat bebas dalam membaca di malam hari, tanpa ada gangguan selain suara mendengkur pak Aldo yang begelegar dan mampu bersaing dengan suara gesekan aspal jalan.


Aku mencoba mempraktikan beberapa informasi yang saya ketahui.


Terkadang, saya tahu jika itu adalah hal yang negatif. Tapi aku belum bisa melakukan hingga sejauh pengguna komputer lainnya.


...***...


Pada pagi hari.


Efek yang saya rasakan dari kebiasaan di malam hari itu muncul ketika langit pagi hari mulai bersinar untuk membangunkan saya.


Selama saya bersiap-siap merapihkan meja di pagi hari, sama sekali tak ada sepatah suara.


Angin pagi yang lewat, menggisi ruangan ini dan  sekaligus menjadi musik di ruangan itu.


Terkadang, burung-burung kecil juga ikut berkicau untuk menambah musik segar alami.


Di saat yang sama, aku merasa jika kantung mataku semakin bertambah besar di setiap paginya, dan aku juga merasa jika wajahku mulai bertambah tua karena efek kelelahan.


Pak Aldo sering melihat saya dengan sinis karena tubuh ngantuk saya.


Jika ia sudah memarahiku, maka aku akan menyelinap ke dapur dan membuat secangkir kopi panas untuk di minum.


Resep meminum kopi itu sangatlah bekerja, saya dapat menghilangkan rasa ngantuk itu jika waktu sudah memasuki siang hari.


Mampu menyihir saya, seolah saya mulai terbiasa dengan keberisingannya.


Seandainya aku sedang tidak mendapatkan tugas, maka saya akan diam-diam pergi ke meja belakang untuk melihat si peguna komputer yang hebat dan handal itu.


Aku cukup suka melihat aksi-aksinya menerobos dan meretas beberapa situs atau website-website yang menyesatkan.


Melihat aksi pria yang berusia sekitar delapan belas tahun yang selalu menggenakan pakaian dan celana serba hitam itu.


Karena dia, saya merasa dan berpikir di benak saya, jika tak semua peretas merupakan orang-orang jahat yang berengsek.


Nyatanya, pria berpakaian serba hitam itu adalah salah satu peretas baik yang berguna membuat para peselancar internet tidak menggalami nasib sial sepertiku.


Meskipun... orang baik akan selalu di kejar oleh sang penjahat....


Di suatu hari yang damai seperti biasanya. Saya sudah bekerja selama dua minggu lebih, tak ada kendala atau masalah yang saya buat. Dan seluruh masalah saya dengan penagih hutan belum terjadi suatu kejadian yang aneh.


Hari itu hampir sama dengan hari-hari sebelumnya, toko ramai dengan pemain online yang suka membuang uang dan waktu.


Tapi, tiba-tiba, di pukul sekitar 10:00 AM.


Aku bisa mendengar suara gemercing dari pintu kaya yang di dorong, suara yang tedengar. Mampu menghentikan suara-suara berisik yang ada di dalam toko.


Sebuah suara berat tedengar di belakangku yang tengah berdiri sambil membelakangi pintu masuk. Mataku terbelalak dalam lirikan.


Seorang pria berambut pirang dalam setelan jas dengan tindikan di telinga, sedang menatap ke dalam dengan tatapan dingin.


Pria yang menggenakan setelan jas, sangat jarang masuk ke toko yang selalu di penuhi dengan bocah-bocah peselancar internet.


Pintu masuk sekarang terlihat terang benderang, suasana yang di rasakam oleh semua orang terasa mulai berubah.


Si pria di temani oleh dua orang kekar yang memperlihatkan sebagian lengan dan bahu kekar mereka.


Tuan Aldo melompat dan berdiri dari kursi meja administrasinya, ia melirik orang itu dengan tatapan melihat ke bagian rambut dan sepatu orang itu.


Aku berjalan ke dapur di bagian belakang toko, saya berniat bersembunyi dan berharap jika Tuan Aldo dapat menanggani pria-pria yang terlihat marah itu.


Beberapa menit kemudian, saya masih bersembunyi di dalam dapur, berharap jika orang itu sudah pergi.


Namun....


"Ayolah, itu akan baik-baik saja! Ini bahkan bukan suatu hal yang salah!"


saya mendengar suara seorang pria. Ketika saya menggintip dari balik dinding dapur, tiga orang pria yang baru datang itu, terlihat menarik seseorang dari meja komputernya.


Tbc