Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 4



Aku membuka pintu geser ruangan ku.


Lalu menutupnya kembali.


Setelah itu, aku berjalan menuju ke ruang meeting. Di sana, aku melihat client dan pak Direktur. Lalu, ada juga karyawan atau staff lainnya.


Sebelum meeting itu di mulai, ada seorang pria paru baya, berjalan dengan langkah kakinya yang berat.


Lalu, orang itu merangkul pundak sebelah kanan ku sebelum berkata dengan nada suara yang pelan dan berbisik di telinggaku:


"Ini adalah proyek penting! Dan mendapatkan insvestor ini akan sangat membantu perusahaan kita dalam masalah keuangan yang melanda... jadi.... buat mereka terkesan dan yakin."


Setelah mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh bosku, aku langsung mengganguk menggerti. Lalu, kami kembali ke posisi awal.


Saya menghela nafas, membenarkan dasi saya kembali dan membuat suara serakku menghilang.


"—baik... saya akan memulai meeting ini..."


Saya mencoba menjelaskan semuanya. Tak lupa, aku juga membuat para tuan dan nyonya investor itu terkesan dan mencoba membuat mereka semua terpukau.


Selama dua puluh menit setelah aku memulai meeting dengan para investor dari luar negeri, semua berjalan baik tanpa ada suatu kendala yang besar.


Pada awalnya saya juga mengharapkan hal itu, tapi sayangnya takdir berkata lain.


Tapi, layaknya sambaran petir yang muncul di siang hari yang terang. Laptop yang saya gunakan, menggalami masalah yang serius, layar pada monitor berubah.


Warna biru bisa di lihat oleh semua orang ketika proyektor perusahaan masih menayangkan sebuah cahaya biru polos yang tak bergeming ketika aku berusaha memperbaikinya.


Aku langsung berhenti. Ketakutan melandaku, aku menoleh dan memandang ke arah mereka yang berbisik-bisik itu, seakan ingin menggatakan sesuatu yang buruk kepada ku.


Klien itu, dia meletakan kembali  pulpen-nya dan mengelus-elus kumisnya sambil menggatakan kata-kata kecewa terhadap saya. "Apakah orang bodoh ini adalah manager kantor ini?"


Aku langsung melihat ke Tuan klien, lalu memberikan gerakan permintaan maaf dengan menundukan kepalaku sambil berkata.


"Maaf tuan.... tapi... sepertinya.... laptop saya ada masalah.... aku rasa ada seseorang yang meretas system itu... sehingga data laporan kami menghilang..."


"Apa....?"


Nyonya klien yang duduk di sebelah Tuan investor. Ekspresi wajahnya yang terlihat mulai kembali bertambah gelap, tatapan tajam yang mencengkram di balik kacamatanya dan bibir yang hampir bergerak untuk menggatakan sesuatu.


"Jadi!? Seorang manager bisa menggalami peretasan pada laptopnya? Orang seperti apa yang di pekerjakan di tempat ini!"


Aku berusaha untuk berpura-pura agar tidak mendengar kritikan yang mereka katakan. Aku mencoba untuk  tetap tenang di situasi seperti ini. Meski, keringat dingin yang bercucuran di wajahku bisa terlihat.


Teman-teman karyawanku yang lain, mulai ikut panik, beberapa juga ikut menggalami shock yang sama.


Pak Direktur, ia tengah berbicara untuk membuat para iventor itu tetap percaya kepada perusahaan.


Aku mencoba untuk membetulkan laptop ku. Namun, itu terlihat tak membuahkan hasil sedikitpun, setelah tak ada perubahan apapun yang terjadi pada layar di laptop itu.


Melalui perasaanku yang gugup, saya menundukan kepala sambil berkata kepada para investor:


"Maaf... tapi sepertinya.... ada sesuatu hal yang salah...."


Merasa kecewa dengan kecerobohan yang saya buat, para nyonya dan tuan investor itu berdiri dan meninggalkan ruangan meeting.


Sebelum benar-benar pergi, mereka berkata dengan suara yang sangat lantang.


"Baiklah.... lupakan saja dengan kerjasama ini.... kami membatalkan semuanya."


Ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut para investor. Pak Han, langsung mendorong dan menghentakan tubuhnya kebelakang, beruntung calvin dapat menangkap tubuh si boss.


Kemudian, di bantu dengan beberapa karyawan yang masuk dalam upaya mengangkat tubuh boss menuju ke sofa panjang di ruangan miliknya di lantai 3.


Saya menundukan kepala karena perasaan kecewa terhadap diri saya. Ada suatu dorongan dalam pikiran saya yang ingin membanting atau melempar keluar laptopku yang layarnya telah penuh dengan warna biru.


Ada perasaan kesal yang menyangkut di dada saya, tapi itu tak membuatku dapat menghindar dari amarah orang-orang.


...***...


Beberapa saat kemudian, pada ruangan yang dingin dengan pendingin ruangan otomatis dan kedap suara. Tuan direktor, pak Eric memukul saya dengan kertas yang di lipat-lipat. Ia juga meneriaki beberapa kata-kata kesal terhadap saya.


"Kau!? Bagaimana bisa semua data itu hilang!! Bodoh! Kau benar-benar bodoh dan membuat kami kecewa!"


"Maafkan saya pak... aku pikir ini kecelakangan yang tidak terduga."


"Apa? Maaf!? Katakan itu beberapa saat yang lalu ketika data-data berkas perusahaan masih tersimpan dengan rapih di sana!"


Saya menundukan kepala dalam kesedihan, sedangkan Tuan Erick tetap mengoceh dalam amarahnya yang meledak.


"Lalu bagaimana ini? Perusahaan telah merugi karena ulahmu! Kamu..... bodoh! Tugas seperti ini saja bisa gagal! Jangan katakan dirimu pintar jika tugas menjaga data-data penting perusahaan bisa hilang! Dan sekarang perusahaan kita tak memiliki investor satupun!"


Pria dengan setelan kemeja hitam dan dasi merah dengan kacamata di wajahnya itu melempar saya dengan kertas berisi berkas fotocopy.


bruukkkk!!!


Hidung saya tak menggeluarkan darah karena itu hanyalah kertas yang di lipat-lipat hingga terlihat besar.


"sekali lagi... saya meminta maaf.... saya berjanji tak akan menggulangi kesalahan ini."


"Apa? Maaf? Maaf lagi kamu bilang? Jangan seenaknya! Apakah kamu berpikir jika semua masalah bisa di selesaikan dengan permintaan maaf? Ini bukan kontes permintaan maaf!"


Tuan Eric menghela nafas panjang, mengendorkan dasi merahnya dan ia tedengar sedikit menurunkan intonasi suaranya.


"Lalu? Apa yang harus sayang lakukan? Berapa kerugian yang harus saya tanggung?"


suaraku tedengar begetar hebat itu tercampur dengan suara ketakutan dan rasa bersalah.


"Hal yang harus kau ketahui adalah...."


Tuan Eric menarik nafasnya dengan suara yang nyaring, ia mendekatkan wajahnya ke arahku sambil berkata, "Permasalahan ini jauh lebih rumit dari yang kau pikirkan."


"Lalu!? Bagaimana dengan alat data penyimpanan? Apakah itu masih bekerja?"


Setelah mendengar pertanyaan itu, saya menarik keluar alat portabel kecil bewarna ungu yang bersifat menyimpan seluruh data perusahaan selain milik laptop saya.


Aku memasukannya ke dalam lubang di ruang alamat processor tempat data dapat dikirim dan diterima pada komputer di ruangan milik Tuan Eric.


Betapa terkejutnya saya ketika menggetahui jika sang peretas telah menghapus semua data pada flash **** milik perusahaan.


"Tarik keluar alat penyimpanan itu dari Komputer saya sebelum virusnya menyebar!"


Saya melakukan perintah itu sebelum Tuan Eric selesai berbicara.


Saya terdiam kaku di depan layar komputer, seperti terkejut dan merasa jika jiwa saya telah terbang bersama dengannya.


Aku tidak menolak siapa pun, saya tidak bertindak berbeda tergantung pada siapa mereka berbicara, dan saya sangat perhatian dan ingin tahu ketika mereka mendengarkan; itulah mengapa semua orang begitu cepat untuk mengatakan hal-hal buruk kepada saya, bahkan jika hal-hal itu tampak benar-benar gila.


Ah, jadi itu sebabnya... Aku juga menemukan hal lain: alasan mengapa semua omelan itu tidak menyakitkan sedikit pun. Bukan karena saya berubah; itu karena omelan datang dari keduanya.


Baik Tuan Direktor maupun nyonya dan tuan investor tidak peduli bahwa ada yang salah dengan laptop saya, bukan pada saya. Mereka mengandalkan saya secara alami seolah-olah saya adalah harapan terakhir dari anggota normal staff yang mereka miliki.


Setiap teguran adalah cara mereka memberi tahu saya bahwa Anda dapat melakukan sedikit lebih baik dari ini. Itu seperti suntikan; hanya sengatan awal yang menyakitkan, dan itu membuatku lebih kuat.


Tbc